Bacaini.ID, KEDIRI – Makan seringkali dianggap sebagai ‘bahasa cinta’ orang Indonesia. Karenanya tradisi makan bersama di lingkungan tempat tinggal, mengirim makanan pada orang yang dikasihi atau dihormati, tetap hidup dan menjadi budaya komunal Nusantara. Sekaligus mematahkan adagium tidak ada makan siang yang gratis.
‘Bahasa cinta’ ini tidak datang tiba-tiba. Akar tradisi ini tertanam kuat pada masyarakat Nusantara yang berlatar agraris dan maritim. Makanan bukan sekadar komoditas pemenuhan kebutuhan biologis, melainkan medium komunikasi non-verbal yang merajut rasa kekeluargaan, penerimaan, dan kasih sayang kolektif.
Selama berabad-abad, keberlangsungan hidup penduduk Nusantara sangat bergantung pada konsep gotong royong. Saat membangun rumah, membuka lahan pertanian, atau menghadapi masa panen, tenaga kerja adalah aset terpenting.
Tradisi menyediakan makanan dalam porsi besar untuk mereka yang membantu bukanlah sekadar kewajiban ekonomi, melainkan manifestasi dari rasa syukur dan penghargaan tertinggi. Rasa terimakasih, penghargaan, kebersamaan, terwujud dalam makanan yang dihidangkan untuk dinikmati bersama.
Budaya ini juga erat kaitannya dengan sifat masyarakat Nusantara yang cenderung lebih ekspresif melalui tindakan ketimbang kata-kata. Dan makanan, menjadi salah satu bentuk tindakan nyata untuk mengekspresikan rasa tertentu. Berikut beberapa budaya makan bersama Nusantara yang masih ditemukan hingga kini.
Bancakan-Liwetan: Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa dan Sunda
Dalam tradisi masyarakat Jawa dan Sunda, Bancakan dan Liwetan merupakan bentuk nyata dari egaliterianisme. Makanan yang terdiri dari nasi, urap sayuran, lauk-pauk, dan kerupuk ditata memanjang di atas lembaran daun pisang yang bersih. Orang-orang akan duduk melingkar dan menyantap hidangan tersebut dengan tangan kosong tanpa bantuan piring. Secara simbolis, ketiadaan piring individu menghapus sekat-sekat hierarki sosial, jabatan, atau kekayaan di antara para pelakunya.
Filosofi di balik tradisi ini adalah meniadakan ego. Saat semua orang memakan sumber makanan yang sama dari alas yang sama, rasa persaudaraan dan kebersamaan menjadi sangat kental. Tradisi ini sering dilakukan dalam berbagai acara mulai dari selamatan, kelahiran, hingga syukuran sederhana. Bahkan kini, tidak perlu ada momen khusus untuk melakukannya, asal ada teman kumpul, liwetan bisa dilakukan.
Tradisi ini mengajarkan bahwa tidak ada yang lebih tinggi atau rendah, yang ada hanyalah keterikatan satu sama lain yang dipererat oleh makanan beralas daun pisang dan saling bercengkerama.
Makan Bajamba: Adab dan Kebersamaan Masyarakat Minangkabau
Di Sumatra Barat, tradisi Makan Bajamba, yang juga dikenal sebagai Makan Baradaik, menjadi cerminan tingginya nilai adab dalam budaya Minangkabau. Dalam tradisi ini, hidangan disajikan di atas tampah besar atau ‘dulang’, dan dinikmati secara duduk melingkar.
Makan Bajamba bukan hanya soal mengisi perut, melainkan sebuah ritual yang sarat dengan aturan adat mengenai kesantunan, kerendahan hati, dan penghormatan kepada orang lain, terutama tamu atau orang yang lebih tua.
Saat melakukan Makan Bajamba, setiap gerakan, mulai dari cara menyendok nasi hingga cara duduk, diatur oleh nilai-nilai luhur adat. Ini menunjukkan bahwa makan bersama adalah ruang sakral untuk menunjukkan rasa hormat. Melalui proses ini, masyarakat Minang menekankan bahwa kebersamaan haruslah berlandaskan pada etika yang saling menjaga perasaan orang lain. Ia menjadi sarana bagi komunitas untuk merayakan ikatan kekerabatan yang kuat dan menunjukkan kasih sayang dalam kesantunan budaya yang mendalam.
Megibung: Warisan Luhur Raja Karangasem, Bali
Megibung, tradisi makan bersama yang berasal dari Karangasem, Bali, merupakan manifestasi fisik dari semangat berbagi, kesetaraan dan persatuan. Kata ‘gibung’ sendiri memiliki akar kata yang bermakna kegiatan berbagi dengan sesama anggota kelompok.
Dalam tradisi ini, nasi dan lauk-pauk disajikan dalam wadah besar yang disebut ‘gibungan’, di mana satu porsi besar tersebut dinikmati oleh sekelompok orang, biasanya terdiri dari lima hingga tujuh orang, yang duduk melingkar.
Megibung diprakarsai oleh Raja Karangasem, I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem, pada sekitar tahun 1692 Masehi untuk merayakan kemenangan perang dengan mengajak semua prajurit makan bersama dalam satu posisi duduk melingkar tanpa memandang kasta atau jabatan.
Dalam perkembangannya, tradisi ini biasanya ditemukan dalam upacara adat atau keagamaan. Dengan berbagi dari satu wadah yang sama, setiap anggota kelompok belajar untuk saling menghargai dan memastikan bahwa semua orang mendapatkan porsi yang cukup. Ini merupakan bentuk cinta kasih komunal yang sangat praktis, di mana kebutuhan bersama selalu didahulukan di atas kebutuhan individual. (bl/sa)




