Poin Penting:
- Bubur Suro menjadi tradisi Muharram di berbagai wilayah Indonesia dengan bentuk dan makna berbeda
- Suku Sasak di Lombok membuat bubur Suro dari 44 bahan hasil gotong royong dalam tradisi Mubir Suro
- Masyarakat Madura mengenal Tajin Sorah yang dibagikan kepada tetangga sebagai simbol syukur dan keselamatan
Bacaini.ID, KEDIRI – Bubur Suro menjadi hidangan yang lekat dengan peringatan bulan Suro atau Muharram di berbagai daerah Indonesia. Meski identik dengan masyarakat Jawa, tradisi membuat bubur serupa juga ditemukan di daerah lain seperti Lombok dan Madura dengan bahan, cara memasak, hingga makna yang berbeda.
Baca Juga:
Keberadaan tradisi membuat bubur Suro bukan tanpa alasan. Peneliti budaya melihat tradisi membuat bubur merupakan hal yang lazim dilakukan oleh masyarakat agraris Asia. Tradisi ini bahkan diduga sudah ada sebelum pengaruh Hindu-Buddha dan Islam masuk ke Nusantara.
Ketika Islam masuk, muncullah tradisi Bubur Asyura atau bubur Suro. Dalam riwayat populer, tradisi bubur Suro merujuk pada peristiwa Nabi Nuh dan pengikutnya yang selamat dari banjir besar. Mereka memasak berbagai sisa bahan makanan di kapal, menjadi bubur untuk dinikmati bersama sebagai wujud syukur.
Tradisi agraris Nusantara dan pengaruh budaya Islam inilah yang akhirnya menciptakan ‘Bubur Suro’. Berikut bubur Suro khas Nusantara dari Sasak dan Madura yang masih eksis hingga kini:
Bubur Suro Suku Sasak, Dimasak Bersama dengan 44 Bahan
Di kawasan pemukiman suku Sasak, Lombok Timur, untuk memperingati tahun baru Islam ada perayaan khusus yang bernama Mubir Suro: memasak secara bersama-sama bubur suro dengan menggunakan kuali besar diatas tungku kayu bakar tradisional.
Baca Juga:
Bubur suro suku Sasak dibuat dari 44 bahan yang semuanya merupakan hasil bumi tanah Lombok dan dikumpulkan secara gotong royong. Semua orang menyumbang sesuai dengan hasil kebunnya masing-masing untuk kemudian dimasak bersama sebagai bentuk rasa syukur.
44 bahan bubur Suro tersebut adalah: beras putih, beras ketan hitam, beras ketan putih, jagung manis, kacang tanah, kacang hijau, kedelai, kacang tolo, kacang merah, 6 jenis umbi-umbian, labu kuning, labu siam, daum kelor, daun katuk, kacang panjang, nangka muda, pisang muda, jantung pisang, pepaya muda. Selebihnya adalah berbagai macam rempah-rempah yang menjadi bumbu halus dan aromatik. Bahan-bahan ini bersifat sakral dan tidak boleh ada yang kurang.
Tajin Sorah Madura, Bubur Suro dengan Topping Melimpah
Seperti lazimnya membuat bubur Suro suku Jawa, suku Madura juga menyambut bulan Suro dengan membuat bubur untuk saling dibagikan kepada tetangga yang disebut ‘ter-ater’ (ater-ater dalam bahasa Jawa). Bubur Suro dalam bahasa Madura adalah ‘Tajin Sorah’.
Baca Juga:
Tajin Sorah memiliki ciri khas topping melimpah dan bubur yang lebih kalis dari bubur suro Jawa. Beberapa daerah di Madura menggunakan bumbu halus yang kaya rempah seperti jahe, kunyit, ketumbar, lada, kayu manis, sereh dan daun jeruk, dicemplungkan langsung ke dalam bubur.
Meskipun penyajiannya mirip dengan bubur Suro Jawa yang terdiri dari bubur, kuah dan topping, namun Tajin Sorah memiliki topping yang lebih beragam seperti suwiran daging sapi rebus, taburan kecambah dan bawang daun, serundeng, irisan telur dadar, sambal goreng tahu-tempe dan berbagai topping lainnya yang melengkapi rasa gurih bubur.
Tajin Sorah dibuat untuk dibagikan kepada tetangga sekitar sebagai bentuk sedekah awal tahun, rasa syukur dan harapan keselamatan bersama.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif




