• Login
Bacaini.id
Saturday, June 13, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Pantangan Bulan Suro dalam Tradisi Masyarakat Jawa Timur

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
13 June 2026 21:14
Durasi baca: 3 menit
Ilustrasi suasana tirakat dan tradisi bulan Suro dalam budaya Jawa

Sejumlah tradisi dan pantangan bulan Suro masih dijalankan sebagian masyarakat Jawa sebagai bentuk pengendalian diri dan refleksi batin (foto ilsutrasi/ist)

Poin Penting:

  • Bulan Suro dimaknai sebagai waktu refleksi dan pengendalian diri oleh sebagian masyarakat Jawa
  • Pantangan yang dijalankan antara lain menghindari hajatan, tirakat, dan menjaga sikap serta ucapan
  • Budayawan menilai Suro bukan bulan sial, melainkan momentum introspeksi

Bacaini.ID, KEDIRI – Bulan Suro atau Muharram dalam kalender Hijriah memiliki makna yang ‘istimewa’ bagi sebagian besar masyarakat Jawa, khususnya penganut penghayat dan kejawen di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sering juga dianggap bulan yang sakral, hening, penuh laku batin dan karenanya ada berbagai pantangan yang ditaati.

Baca Juga:

  • Tradisi Perguruan Silat Jawa Timur di Bulan Suro: Pengesahan Warga Baru hingga Konsolidasi

Berikut beberapa pantangan terkait bulan Suro yang sering dijumpai di masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah, baik masyarakat dengan kebudayaan agraris maupun kebudayaan pesisir, baik pantai utara maupun pantai selatan.

Menghindari hajatan besar atau pesta meriah

Di sebagian tradisi Jawa, bulan Suro dianggap kurang tepat untuk menggelar hajat pernikahan, pindahan rumah, khitanan, atau membuka usaha baru. Alasannya lebih ke penghormatan pada suasana prihatin dan introspeksi, bukan larangan agama.

Tidak bersikap berlebihan atau foya-foya

Ada anggapan bulan Suro merupakan momentum yang tepat untuk menahan diri dari kesenangan berlebihan, foya-foya, pesta, mabuk, atau perilaku yang dianggap mengotori batin.

Tirakat: mengurangi makan, tidur, dan hiburan

Selama bulan Suro sebagian pelaku laku kejawen menjalani puasa mutih, puasa ngrowot, tidak keluar rumah malam tertentu, atau memperbanyak semedi dan doa. Bentuknya berbeda-beda dan biasanya berdasarkan guru spiritual atau tradisi keluarga.

Menjaga ucapan dan emosi

Bertengkar, berkata kasar, menyebar konflik, atau membuat keributan selama Suro sering dianggap tidak baik karena tujuan utamanya adalah membersihkan diri lahir batin.

Menghindari bepergian atau aktivitas tertentu pada malam 1 Suro

Di beberapa daerah ada tradisi tidak keluar rumah kecuali untuk ritual tertentu, sementara di tempat lain justru ada kirab, ziarah, atau tirakatan.

Tidak sembarangan melakukan ritual mistik

Ada kepercayaan bahwa Suro adalah waktu yang “kuat secara batin”, sehingga ritual pencarian kesaktian, pesugihan, atau praktik yang dianggap tidak bertanggung jawab justru dihindari atau dilakukan dengan aturan ketat.

Ziarah dan penghormatan leluhur

Selama bulan Suro sebagian komunitas memperbanyak doa, nyekar, dan refleksi terhadap asal-usul keluarga.

Baca Juga:

  • 935 Personel Polres Trenggalek Disiagakan Selama Bulan Suro 2026, Cegah Gesekan Pesilat
  • Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno dan Resmikan Istana Gebang di Blitar 14–15 Juni 2026

Sementara banyak budayawan Jawa menjelaskan makna asli dari Suro adalah lebih mendekatkan diri pada pengendalian diri, evaluasi hidup dan laku prihatin, bukan bulan sial. Karenanya tidak semua percaya pada pantangan yang sama.

Apakah tradisi pantangan Bulan Suro masih dijalankan di daerah Anda? Bagikan pengalaman dan pandangan Anda di kolom komentar.

Penulis: Tim Redaksi

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: bacaini.idbulan suroMUHARRAMPantangan Bulan SuroTradisi Jawa
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi suasana tirakat dan tradisi bulan Suro dalam budaya Jawa

Pantangan Bulan Suro dalam Tradisi Masyarakat Jawa Timur

Megawati Soekarnoputri dijadwalkan berziarah ke Makam Bung Karno dan meresmikan Istana Gebang di Kota Blitar

Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno dan Resmikan Istana Gebang di Blitar 14–15 Juni 2026

Singapura Respon Positif Kebijakan Ekspor Satu Pintu Indonesia

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In