Poin Penting:
- Gus Yahya menggemakan wirid Ya Jabbar dan Ya Qahhar saat membuka Munas-Konbes NU di Ploso Kediri
- Wirid tersebut disebut sebagai warisan Syaikhona Kholil Bangkalan dan memiliki makna spiritual dalam tradisi pesantren
- PBNU mengajak seluruh peserta mencurahkan khidmat dan ikhtiar untuk masa depan NU
Bacaini.ID, KEDIRI – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menggemakan wirid Ya Jabbar (Yang Maha Perkasa) dan Ya Qahhar (Yang Maha Menundukkan) saat membuka Munas-Konbes Alim Ulama NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri. Wirid yang disebut sebagai warisan Syaikhona Kholil Bangkalan itu menjadi penegasan spiritual tentang keteguhan menjaga martabat dan masa depan jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
BACA JUGA: Munas Konbes NU di Ploso Kediri Siapkan Muktamar NU ke-35 yang Sejuk dan Gembira
Gus Yahya menegaskan dalam pidatonya, setiap upaya yang bertujuan mengganggu, mencederai atau merusak organisasi Nahdlatul Ulama (NU), ia yakin tidak akan pernah berhasil. “Apapun yang dilakukan orang untuk mengganggu, untuk mencederai, untuk merusak apa yang mulia di dalam jam’iyyah ini, pasti tidak akan mencapai apa yang diinginkan,” tegasnya dalam pidato sambutan Sabtu (20/6/2026).

Gus Yahya juga mengajak seluruh peserta Munas-Konbes NU untuk mencurahkan ketulusan khidmat demi kepentingan jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Diharapkan seluruh gagasan, tenaga dan ikhtiar yang disampaikan dalam forum bisa menjadi bagian dari upaya membangun masa depan NU yang lebih baik.
BACA JUGA: Maklumat 26 KMNU Diluncurkan Jelang Munas-Konbes NU 2026 di Ploso Kediri, ini Isinya
“Ini kesempatan kita semua. Kesempatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama beserta segenap pimpinan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama seluruh Indonesia untuk melakukan yang terbaik bagi jam’iyyah ini,” terangnya.
Makna Wirid Ya Jabbar dan Ya Qahhar dalam Tradisi Pesantren
Wirid Ya Jabbar dan Ya Qahhar yang disebut Gus Yahya warisan dari Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkala Madura merupakan amalan dzikir yang mengambil dua nama Allah (Asmaul Husna). Ya Jabbar: Wahai Yang Maha Perkasa, Yang Maha Memperbaiki, Yang menundukkan segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya.
BACA JUGA: Masyayikh NU Minta Larangan Rangkap Jabatan Politik Tidak Dihapus
Kemudian Ya Qahhar: Wahai Yang Maha Mengalahkan, Yang Maha Menundukkan seluruh makhluk. Dalam tradisi pesantren wirid ini sering dipahami sebagai dzikir untuk memohon kekuatan batin, keteguhan hati, perlindungan, dan pertolongan Allah dalam menghadapi kesulitan atau melawan hawa nafsu, bukan untuk menguasai atau mencelakai orang lain.
Syaikhona Kholil Bangkalan Madura atau dikenal dengan Mbah Kholil merupakan ulama besar yang sangat berpengaruh dalam jaringan pesantren Jawa–Madura dan menjadi guru dari banyak tokoh pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), termasuk KH Hasyim Asy’ari.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Mitos Politik Kediri di Munas Konbes NU, Presiden Prabowo Berani Datang? dan artikel lain di Rubrik BACA




