Poin Penting:
- BB TNBTS menutup total kawasan wisata Bromo mulai Sabtu malam (8/8/2026) hingga batas waktu yang belum ditentukan akibat kebakaran yang meluas
- Luas lahan terbakar di Blok Bantengan, Senduro, Lumajang, mencapai 176 hektar, dengan titik api tersisa di B29 dan sekitar Jantur
- Pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan dua helikopter water bombing, dengan kendala angin kencang, kondisi kering, medan terjal, dan minim sumber air
Bacaini.ID, LUMAJANG – Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan wisata Gunung Bromo Blok Bantengan, Senduro, Kabupaten Lumajang dimulai Senin 3 Agustus 2026. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mulai Sabtu (8/8/2026) malam menutup total kawasan wisata hingga batas waktu yang belum ditentukan, dengan fokus pemadaman titik api di B29.
Penutupan dilakukan karena kebakaran hutan dan lahan yang dimulai dari Lumajang tersebut semakin meluas. Seluruh pintu masuk atau akses menuju kawasan wisata Bromo, yakni di antaranya Cemoro Lawang dan Wonokitri, ditutup total. Dalam peristiwa Karhutla ini wilayah terdampak meliputi Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Malang.
Sesuai rilis BB-TNBTS dan BPBD Jatim yang diperoleh Bacaini.id, api telah bergerak ke arah Lembah Watangan dan kawasan savana. Asap terpantau hingga sekitaran desa sekitar. Sampai saat ini petugas belum menerima laporan adanya korban jiwa maupun kerusakan rumah warga.
Sementara itu luas lahan yang terbakar di Blok Bantengan, Senduro, Lumajang mencapai 176 hektar, meliputi savana, cemara gunung dan semak belukar. Saat ini titik api yang tersisa berada di Blok B29/Puncak B29 (Lumajang) dan area sekitar Jantur. Sebagian besar titik lain sudah padam.
Pemadaman Dilakukan dari Darat dan Udara
Penyebab Karhutla diduga disebabkan dugaan kelalaian manusia, kemungkinan perapian warga di jalur tradisional, bukan faktor alam. Dalam penanganan kebakaran ini dikerahkan Gabungan BB-TNBTS, Manggala Agni, BPBD, TNI/Polri, relawan, dan Masyarakat Peduli Api.
Petugas melakukan dua metode penanganan, yakni dari darat dan udara. Dari darat membuat jalur pemisah api (JLKT) dan basah-basahan. Sedangkan dari udara melibatkan 2 helikopter water bombing dengan fokus lokasi curam/sulit dijangkau. Juga ditambah drone untuk memantau titik panas.
Saat ini angin kencang dan kering, ditambah medan terjal, minim sumber air di ketinggian serta api sempat melompati jalur pemisah, menjadi kendala petugas. (sa/edt)




