Poin Penting:
- Mitos politik di Indonesia khususnya Jawa masih dipercaya sebagian masyarakat dan banyak berakar dari budaya Jawa
- Kediri menjadi salah satu pusat mitos politik paling populer, terutama narasi pemimpin yang datang bisa kehilangan kekuasaan
- Kepercayaan seperti ramalan, wahyu kekuasaan, dan simbol spiritual dinilai bertahan karena politik penuh ketidakpastian dan harapan publik
Bacaini.ID, KEDIRI – Mitos atau tahayul masih mempengaruhi alam fikir sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama di Jawa, termasuk telah merasuki dimensi politik. Misalnya Kediri Jawa Timur yang pada 20-22 Juni 2026 digelar Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Alim Ulama NU 2026 di Ponpes Al Falah Ploso.
BACA JUGA: Maklumat 26 KMNU Diluncurkan Jelang Munas-Konbes NU 2026 di Ploso Kediri, ini Isinya
Apakah Presiden Prabowo Subianto berani datang ke Kediri? Atau karena pengaruh adanya mitos politik tersebut kemudian penutupan acara Munas Konbes NU 2026 dihelat di Bangkalan Madura, agar presiden bisa hadir? Yakni dari Ploso ke Bangkalan (PKB), dan itu pertama kalinya ajang besar NU dibuka dan ditutup di tempat berbeda.
Yang pasti, selama dua periode menjabat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum pernah ke Kediri. Bahkan Pramono Anung saat masih menjadi sekretaris kabinet mengaku dirinya yang menghalangi. Begitu juga dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum pernah masuk wilayah Kota Kediri, termasuk Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden BJ Habibie dan Presiden Soeharto.
Presiden Indonesia yang berani datang ke Kediri selama masih aktif menjabat hanya Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Presiden Soekarno (Bung Karno). Terlepas dari adanya mitos politik tersebut, sejarah mencatat kekuasaan keduanya lengser di tengah jalan.
Berikut mitos politik atau tahayul politik yang paling sering dibicarakan di masyarakat Indonesia, terutama di Jawa dan hingga kini masih dipercaya kuat.
Presiden yang Datang ke Kediri Bisa Lengser
Lokasi mitos atau tahayul politik ini berpusat di wilayah Kediri, Jawa Timur, khususnya wilayah kota. Mungkin menjadi mitos politik paling populer di Indonesia. Cerita yang beredar menyebut pemimpin nasional yang datang ke Kediri akan kehilangan kekuasaan atau masa jabatannya tidak berlangsung mulus.
Mitos tersebut sering dikaitkan dengan narasi sejarah kerajaan dan cerita kutukan yang kemudian “dicocokkan” atau dikontekstualkan dengan peristiwa politik modern.
Ramalan Jayabaya tentang Pemimpin Nusantara
Mitos politik ini juga berpusat di Kediri. Nama Prabu Jayabaya sering dikaitkan dengan ramalan pergantian zaman dan munculnya pemimpin besar. Salah satu yang populer adalah keyakinan bahwa Indonesia akan melewati fase kekacauan sebelum muncul pemimpin yang membawa masa perubahan.
BACA JUGA: Kisah Kelam Kediri, Lahir dari Tumpahan Darah dan Air Mata
Mitos Ratu Adil Akan Muncul Menyelamatkan Negeri
Wilayahmitos berpusat diJawa. Konsep Ratu Adil menjadi salah satu mitos politik paling awet. Sosok ini dipercaya akan hadir saat rakyat mengalami kesulitan dan membawa era keadilan. Dalam praktiknya, banyak tokoh politik dari berbagai era pernah diasosiasikan publik dengan narasi ini.
Restu Keraton Menentukan Kelanggengan Kekuasaan
Wilayah mitos di Yogyakarta dan Jawa pada umumnya. Masih ada keyakinan bahwa pemimpin yang memperoleh restu simbolik dari lingkungan keraton atau tokoh budaya Jawa memiliki legitimasi lebih kuat. Kepercayaan ini lahir dari panjangnya sejarah hubungan kekuasaan dan budaya di Jawa.
Pemimpin Harus Melakukan Tirakat Sebelum Naik Jabatan
Wilayah mitos berada di Jawa. Ada anggapan bahwa jabatan tinggi tidak cukup dicapai dengan kerja politik, tetapi juga memerlukan laku spiritual seperti puasa, semedi, atau ziarah.
Cerita semacam ini sering muncul dalam kisah elite politik, meski umumnya bersifat personal dan tidak bisa diverifikasi.
Gunung dan Tempat Sakral Menjadi Penentu Karier Politik
Beberapa gunung dan lokasi tertentu dipercaya sebagai tempat mencari ketenangan batin, petunjuk, atau legitimasi simbolik menjelang kontestasi politik.
Pulung atau Wahyu Kekuasaan
Kepercayaan lama Jawa mengenal konsep wahyu keprabon, yakni semacam tanda bahwa seseorang memang ditakdirkan menjadi pemimpin. Sosok yang dianggap memiliki “pulung” dipercaya akan tetap naik meski menghadapi banyak rintangan.
Hari Baik Menentukan Pelantikan dan Deklarasi Politik
Masih ada keyakinan bahwa tanggal pelantikan, deklarasi, atau pendaftaran politik sebaiknya dipilih berdasarkan perhitungan hari dan weton agar membawa keberuntungan.
Nomor Urut Membawa Keberuntungan Politik
Nomor urut tertentu dianggap lebih mudah membawa kemenangan karena makna simbolik, unsur psikologi massa, atau tafsir budaya.
Pemimpin Besar Selalu Memiliki Tanda-Tanda Khusus
Mulai dari mimpi, fenomena alam, hingga simbol tertentu sering ditafsirkan sebagai pertanda hadirnya pemimpin besar.
Pertanyannya, kenapa mitos politik atau tahayul politik tetap terpelihara hingga sekarang? Jawabannya mungkin karena Politik menyangkut ketidakpastian dan harapan publik. Kemudian karena Budaya Indonesia masih kuat dipengaruhi simbol dan tradisi.
Juga mungkin karena narasi mistik sering dipakai dan masih efektif untuk membangun karisma dan legitimasi, serta adanya kecenderungan masyarakat yang suka menghubungkan peristiwa besar dengan pola atau pertanda.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Benarkah Berbuat Jahat di 2 Desa di Kediri ini akan Dimangsa Harimau? dan artikel lainnya di Rubrik PLURAL




