Seorang ningrat dari trah Pakualam itu memilih ‘bunuh diri kelas’, dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk perjuangan rakyat, mendidik rakyat
Bacaini.ID, KEDIRI – Sekolah rakyat yang bernama Taman Putera itu didirikan oleh Sri Panggian, aktivis Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI), dengan konsep semua kegiatan pendidikan dikerjakan secara gotong royong, dengan guru-guru yang tidak dibayar, hanya menerima imbalan makan.
Lahirnya sekolah rakyat di masa Pemerintahan Kolonial Belanda datang dari kegelisahan Sri Panggian akan minimnya jumlah sekolahan. Sementara sekolah yang ada, terutama yang didirikan oleh pemerintah, tidak memiliki sistem pendidikan kerakyatan atau kurikulum kerakyatan. Mayoritas memakai sistem kolonial.
Berdiri di Yogyakarta sekitar tahun 1935-1936, Sekolah rakyat Taman Putera menyediakan jenjang pendidikan tingkat dasar hingga lanjutan, dengan pengajar para bekas murid Taman Guru Taman Siswa dan beberapa dari Perpri. Kehadirannya menarik perhatian publik, dan dalam waktu cepat memiliki banyak anak didik.
Siapa Sri Panggian?
Seiring majunya sekolah rakyat Taman Putera, kiprah Sri Panggian jadi perbincangan khalayak umum, termasuk diresahkan oleh pemerintah kolonial Belanda, dan mulai melakukan pengawasan.
Lahir di Bausasran, Yogyakarta, Sri Panggian berasal dari keluarga bangsawan trah Pakualam yang di lingkungannya dipanggil Raden Ayu Sri Panggian, namun memilih ‘bunuh diri kelas’ demi perjuangan rakyat.
Sri Panggian memilih cerai ketika suaminya Kusumojudo, Bupati Ponorogo melarang aktif di Partindo (Partai Indonesia), organisasi pergerakan di mana Bung Karno menjadi pengurus besarnya. Dari perkawinannya lahir seorang putra bernama Raden Mas Slamet Kusumojudo.
Sri mengenal dunia pergerakan dari kakak kandungnya, R. M. Parikanan Sosrodirdjo, propagandis Partindo yang di pergerakan lebih suka dipanggil bung Sosro ketimbang gelar ningratnya. Sama dengan kakaknya, semangat perjuangan rakyatnya telah mandarah daging.
Menjadi Ketua Pengurus Besar Persatuan Marhaeni Indonesia dengan kiprah di jalur pendidikan dan sosial, Sri Panggian menjadi salah satu aktivis pergerakan yang diawasi kolonial Belanda. Aktivis PMI dilarang berkumpul lebih dari lima orang dan Sri ditangkap karena dianggap melawan.
Dikutip dari Harian Rakyat 8 Januari 1952, rapat aktivis PMI dengan menyamar sebagai petani di sawah ketahuan PID (Polisi rahasia kolonial Belanda). Akibatnya Sri dijebloskan penjara selama 50 hari, termasuk dua rekannya, Murdjiah, seorang penulis dan Innersijah.
Kemudian karena dianggap melawan pemerintah Hindia Belanda, uang tunjangan yang diberikan keluarga setiap bulan, juga diputus selamanya. Di tengah hidup serba kekurangan dan coba bertahan dengan bekerja sebagai pembatik, sekolah rakyat Taman Putera dibubarkan.
Pemerintah kolonial Belanda mengirimkan surat larangan kepada para guru Sekolah Rakyat, intinya tidak boleh mengajar (onderwijs-verbod). Sri Panggian akhirnya memutuskan membubarkan Persatuan Marhaeni Indonesia.
Ketika Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) berdiri, sebagian besar aktivis PMI masuk ke dalamnya, termasuk Sri yang ikut aktif berjuang hingga Indonesia merdeka. Pada 26 Desember 1951 pukul 09.00 WIB, Sri Panggian, aktivis yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk perjuangan rakyat itu tutup usia.
Penulis: Solichan Arif




