• Login
Bacaini.id
Sunday, September 20, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Belanja Impulsif Bikin Keuangan Berantakan, Ini 5 Cara Mengendalikannya

Belanja impulsif sering dimulai dari keputusan kecil, seperti tergoda diskon atau cicilan paylater. Jika terus berulang, kebiasaan ini bisa membuat pengeluaran sulit dikendalikan dan menambah beban utang

ditulis oleh Solichan Arif
20 September 2026 15:53
Durasi baca: 5 menit
Cara menghindari belanja impulsif dan mengatur keuangan

Mengendalikan belanja impulsif dapat membantu menjaga pengeluaran dan mencegah penumpukan utang konsumtif (foto/ist)

Reporter: Bromo Liem | Editor: Solichan Arif

Poin Penting:

  • Belanja impulsif dapat membuat pengeluaran sulit dikendalikan, terutama jika dilakukan berulang karena diskon, media sosial, emosi, atau kemudahan transaksi digital.
  • Beri jeda sebelum checkout, bedakan kebutuhan dan keinginan, serta buat anggaran khusus untuk pengeluaran nonwajib.
  • Jangan mengandalkan paylater untuk membeli barang yang sebenarnya tidak mampu dibayar, dan hitung seluruh kewajiban utang, bukan hanya cicilan per transaksi.

Bacaini.ID, KEDIRI — Belanja impulsif sering terasa seperti keputusan kecil, yakni membeli pakaian karena diskon, checkout skincare karena melihat rekomendasi di media sosial, atau menggunakan paylater karena nominal cicilan terlihat ringan dengan harga lebih murah.

Masalahnya, keputusan tersebut dapat membuat pengeluaran sulit dikendalikan, apalagi berlangsung berulang. Jika tidak diimbangi kemampuan membayar, kebiasaan belanja impulsif bahkan bisa berujung pada lilitan hutang.

Baca Juga: Tip Mengatasi Lapar Belanja Agar Tidak Tekor Tiap Bulan

Penyebab belanja impulsif karena dorongan sesaat. Pemicu dapat berupa promosi, diskon, tekanan sosial, emosi, atau kemudahan transaksi digital. Fenomena ini semakin relevan ketika proses belanja semakin mudah. Konsumen tidak perlu lagi datang ke toko, membawa uang tunai, atau menunggu hingga memiliki dana cukup.

Barang yang diinginkan dapat dibeli dalam hitungan menit melalui aplikasi, sementara fasilitas kredit digital membuat pembayaran dapat ditunda.

Menghindari belanja impulsif bukan sekadar soal memiliki niat untuk berhemat. Ada beberapa cara mengatur keuangan yang dapat dilakukan agar keputusan belanja kembali berada dalam kendali.

Bedakan Keinginan dan Kebutuhan Sebelum Checkout

Langkah pertama adalah memberi jeda sebelum membeli. Ketika menemukan barang yang menarik, jangan langsung memasukkannya ke keranjang dan membayar. Masukkan terlebih dahulu ke daftar keinginan, kemudian tunggu setidaknya 24 jam.
Jeda tersebut membantu memisahkan kebutuhan dari keinginan sesaat.

Sebelum membeli, tanyakan beberapa hal sederhana: Apakah barang ini memang dibutuhkan? Apakah sudah memiliki barang yang fungsinya sama? Apakah pembelian ini sudah masuk anggaran bulan berjalan? Dan yang tidak kalah penting, apakah barang tersebut tetap ingin dibeli jika tidak sedang diskon? Pertanyaan terakhir penting karena label ‘diskon’ dapat membuat seseorang lebih fokus pada jumlah uang yang dianggap berhasil dihemat daripada uang yang sebenarnya tetap harus dikeluarkan.

Diskon tidak otomatis membuat suatu barang menjadi hemat. Jika barang tersebut tidak dibutuhkan, membeli dengan harga lebih murah tetap merupakan pengeluaran tambahan dan boros.

Cara lain yang dapat digunakan adalah menghitung harga barang berdasarkan waktu kerja. Misalnya, jika sebuah barang seharga Rp600 ribu membutuhkan penghasilan dari beberapa jam atau berapa hari kerja. Dengan cara ini, seseorang dapat memiliki gambaran yang lebih nyata mengenai biaya pembelian tersebut.

Buat Anggaran Khusus untuk Belanja Keinginan

Mengendalikan belanja tidak berarti seluruh pengeluaran untuk hiburan atau kesenangan harus dihilangkan.

Justru, membuat anggaran khusus untuk ‘discretionary spending’ atau pengeluaran nonwajib dapat menjadi cara yang lebih realistis. Misalnya, setelah kebutuhan pokok, tabungan, investasi, dan kewajiban utang terpenuhi, sebagian pendapatan dapat dialokasikan untuk makan di luar, pakaian, kosmetik, hobi, atau hiburan.

Jika anggaran belanja keinginan bulan itu sudah habis, pembelian berikutnya harus ditunda hingga periode berikutnya. Dengan begitu, seseorang tetap memiliki ruang untuk menikmati hasil kerja tanpa mengambil uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting.

Jangan Menjadikan Paylater sebagai Tambahan Penghasilan

Salah satu jebakan belanja impulsif adalah cara pembayaran yang membuat harga barang terasa lebih ringan.

Harga Rp1,2 juta, misalnya, dapat terlihat tidak terlalu berat ketika ditampilkan sebagai cicilan Rp100 ribuan per bulan. Persoalannya, kemampuan membayar seharusnya tidak hanya dihitung berdasarkan satu transaksi.

Jika seseorang memiliki beberapa cicilan sekaligus, nominal kecil dari masing-masing transaksi dapat menumpuk menjadi kewajiban bulanan yang besar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri mengingatkan konsumen agar memahami manfaat, biaya, risiko, serta kewajiban sebelum menggunakan produk keuangan. Dalam penggunaan layanan ‘buy now, pay later’ atau BNPL, konsumen juga perlu memperhatikan bunga, biaya, tenor, denda, serta kemampuan membayar.

Prinsip sederhananya: jangan menggunakan utang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak mampu dibayar secara tunai.

Jangan Belanja Saat Sedang Emosional

Belanja juga dapat menjadi respons terhadap kondisi emosional tertentu. Seseorang mungkin berbelanja ketika sedang stres, bosan, sedih, marah, atau ingin memberikan hadiah kepada diri sendiri. Berbelanja memberikan rasa senang sementara, tetapi masalah emosional yang menjadi pemicunya belum tentu selesai.

Bukan berarti setiap pembelian ketika sedang sedih merupakan masalah psikologis. Namun, jika seseorang menyadari bahwa hampir setiap kali mengalami emosi tertentu ia langsung ingin berbelanja, pola tersebut perlu diperhatikan.

Buat daftar aktivitas alternatif sebelum membuka aplikasi belanja. Misalnya berjalan kaki, berolahraga, berbicara dengan teman, menonton film, membaca, atau melakukan aktivitas lain yang tidak membutuhkan pengeluaran.

Hitung Total Utang, Bukan Hanya Cicilan Bulanan

Bagi orang yang sudah terlanjur menggunakan kartu kredit, paylater, atau pinjaman konsumtif, langkah berikutnya bukan sekadar berhenti melakukan transaksi baru.

Jumlah seluruh kewajiban perlu dihitung. Catat berapa saldo utang, cicilan per bulan, bunga atau biaya, tanggal jatuh tempo, serta berapa lama utang tersebut akan selesai. Dengan begitu, kondisi keuangan dapat dilihat secara utuh.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menilai utang berdasarkan cicilan masing-masing. Cicilan Rp150 ribu mungkin terlihat kecil. Tetapi jika ada lima transaksi dengan pola yang sama, totalnya sudah menjadi Rp750 ribu per bulan.

Setelah seluruh kewajiban terlihat, hentikan sementara penambahan utang konsumtif dan prioritaskan pembayaran kewajiban yang ada sesuai strategi pelunasan yang realistis.

Jika utang sudah sulit dibayar atau mulai menimbulkan tunggakan, jangan menutupinya dengan mengambil pinjaman baru tanpa perhitungan. Konsultasikan kondisi tersebut dengan lembaga keuangan terkait dan gunakan kanal resmi untuk mencari solusi. (bl/sa)

Google News Lihat Berita Bacaini.id di Google News
Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: belanjabelanja impulsifmengatur keuanganpaylatertips keuangan
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Cara menghindari belanja impulsif dan mengatur keuangan

Belanja Impulsif Bikin Keuangan Berantakan, Ini 5 Cara Mengendalikannya

Ilustrasi komunitas perempuan

Kenapa Perempuan Perlu Punya Circle yang Sehat?

42 siswa Tulungagung mengikuti edukasi keselamatan kereta api dalam program Eduspoor KAI Daop 7 Madiun

Naik KA Malabar, 42 Siswa Tulungagung Belajar Jadi Pelopor Keselamatan Kereta Api

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In