Poin Penting:
- Teror pocong viral di Jawa Timur dipastikan polisi sebagai hoax yang dibuat lewat rekayasa konten media sosial
- Fenomena ini mengingatkan publik pada teror ninja, kolor ijo, dan babi ngepet yang pernah memicu kepanikan massal
- Rumor dan penyebaran informasi liar di media sosial menjadi pemicu utama keresahan masyarakat
Bacaini.ID, KEDIRI – Viralnya teror pocong di sejumlah wilayah Jawa Timur bukan sekadar isu horor biasa. Fenomena yang menyebar cepat lewat media sosial (medsos) itu menghidupkan kembali ingatan publik pada berbagai teror sosial bernuansa mistis yang pernah membuat masyarakat dilanda ketakutan massal.
Baca Juga:
Informasi yang dihimpun Bacaini.id, teror yang cukup meresahkan masyarakat dan diduga sebagai modus kejahatan tersebut, telah masuk wilayah Malang, Pasuruan, Kediri, Lamongan, Bojonegoro, Jember dan Situbondo. Sebelumnya isu teror pocong pertama kali viral di wilayah Depok, Jawa Barat, Tangerang, Jakarta dan berlanjut muncul di sebagian wilayah Provinsi Jawa Tengah.
Teror sosial yang cukup meresahkan tersebut memaksa aparat kepolisian turun tangan melakukan penyelidikan. Hasilnya, polisi menegaskan informasi adanya teror pocong adalah kabar hoax. Terungkap teror dilakukan oleh sejumlah orang tidak bertanggung jawab. Mereka membuat rekayasa visual yang dibumbui narasi, lalu disebar ke media sosial.
Fenomena teror sosial dengan memakai hantu atau sesuatu bersifat mistis, klenik dan misterius dengan tujuan membuat keresahan bukan pertama kali terjadi di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Berikut di antaranya yang pernah terjadi dan masih diingat hingga sekarang.
Jawa Timur Pernah Dilanda Teror Ninja 1998
Fenomena ini paling terkenal di Jawa Timur, terutama di wilayah Banyuwangi. Orang-orang misterius berpakaian hitam disebut “ninja” dituduh membunuh dukun santet, tokoh agama, dan warga tertentu pada 1998, saat situasi politik nasional sedang kacau menjelang jatuhnya Presiden Soeharto.
Baca Juga:
- Memahami Alasan dan Tujuan Teror Bangkai Binatang, Psikopat?
- Sinyal Tegas Wali Kota Blitar soal Dana Hibah KONI, Problem Hukum Samanhudi Jadi Kajian
Yang terjadi di masyarakat saat berlangsung teror ninja adalah warga melakukan ronda massal setiap malam. Kemudian muncul isu rumah yang menjadi target dengan diberi tanda.
Akibat keresahan yang meluas banyak orang takut keluar malam. Pada saat yang sama muncul peristiwa pembunuhan misterius dan aksi main hakim sendiri. Berbagai spekulasi bermunculan, mulai operasi intelijen, konflik santet, konflik politik lokal hingga histeria massal akibat krisis 1998.
Pembantaian Dukun Santet Jadi Trauma Sosial
Masih berkaitan dengan “ninja”. Di Banyuwangi dan beberapa daerah di Jawa Timur, banyak orang yang dituduh dukun santet dibunuh oleh massa atau kelompok misterius. Korbannya ratusan orang. Peristiwa ini menimbulkan trauma besar di sejumlah desa di wilayah Jawa Timur.
Kolor Ijo Pernah Membuat Warga Ronda Massal
Teror kolor ijo pada medio 2003-2004 digambarkan sebagai pria misterius bercelana hijau yang masuk rumah warga dan memperkosa perempuan. Teror yang meresahkan itu membuat warga ronda malam di mana-mana.
Juga terjadi pemasangan bambu kuning dan daun kelor secara massal yang itu imbas informasi getok tular, dari mulut ke mulut yang menyebar cepat. Banyak orang percaya pelakunya memiliki ilmu gaib.
Babi Ngepet dan Kepanikan Kolektif Masyarakat
Fenomena teror babi ngepet ini juga sangat terkenal sejak era 1990-an hingga awal 2000-an. Masyarakat percaya ada orang yang berubah menjadi babi jadi-jadian untuk mencuri uang warga memakai ilmu hitam.
Baca Juga:
Peristiwa ini ditandai dengan beredarnya kabar adanya warga yang kehilangan uang secara misterius. Sejumlah warga melakukan perburuan di malam hari yang itu dibarengi munculnya ritual penangkal.
Keresahan sosial itu ujung-ujungnya adalah fitnah kepada orang tertentu.
Isu Genderuwo dan Penculikan Anak Saat Reformasi
Pada akhir masa Orde Baru sampai awal Reformasi juga sering muncul sejumlah isu penculik anak untuk tumbal proyek. Kemudian hantu genderuwo pemerkosa dan pencuri organ tubuh hingga isu orang asing yang menyebarkan santet.
Teror sosial ini berkembang pesat karena dipengaruhi situasi politik dan ekonomi yang tidak stabil. Lemahnya informasi resmi juga memperparah situasi, termasuk masih kuatnya budaya rumor yang tersebar dari mulut ke mulut.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif





