Bacaini.ID, JOMBANG – Gus Yahya ditengarai bakal menjadi calon Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU Jombang yang berpotensi paling banyak mendapat serangan isu kontroversial melalui pemberitaan media massa maupun media sosial. Salah satu faktornya karena Yahya Cholil Staquf adalah satu-satunya bakal calon petahana dan telah memastikan maju kembali.
Dari pantauan Bacaini.id, salah satu serangan yang mulai muncul menjelang Muktamar NU adalah munculnya narasi ABG yang diakronimkan Asal Bukan Gus Yahya di media sosial. Juga adanya forum-forum diskusi pra Muktamar dengan point of view (POV) mengupas ‘kesalahan’ Gus Yahya selama menahkodai PBNU.
Semua yang telah muncul di ruang publik tersebut mengindikasikan, bahwa di Muktamar ke-35 NU posisi bekas juru bicara Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu tengah ‘dikeroyok’. Berikut sejumlah isu kontroversial yang berpeluang ‘didaur ulang’ untuk menyerang Gus Yahya di muktamar.
Polemik Undangan Peter Berkowitz
Ini merupakan salah satu isu paling kuat yang melekat pada Gus Yahya dan berpotensi didaur ulang. Ceritanya PBNU mengundang Peter Berkowitz sebagai narasumber Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU) pada Agustus 2025.
Kehadiran Berkowitz menjadi sorotan dan sekaligus kritik keras kepada PBNU setelah terungkap sebagai seorang yang pro-Zionisme. Gus Yahya kemudian secara terbuka meminta maaf dan mengakui dirinya khilaf serta kurang cermat dalam memeriksa rekam jejak narasumber.
Yang menarik, persoalan tersebut kemudian ikut masuk ke dalam konflik internal PBNU. Pada November 2025, isu Berkowitz disebut dalam Risalah Rapat Harian Syuriyah yang berujung pada permintaan agar Gus Yahya mengundurkan diri.
Polemik Konsesi Tambang NU
Ini isu yang jauh lebih besar karena menyangkut konsesi tambang yang diterima NU dan kemudian menjadi salah satu titik konflik internal.
KH Said Aqil Siroj menyatakan polemik PBNU dipicu antara lain oleh persoalan konsesi tambang dan mengusulkan agar konsesi dikembalikan kepada pemerintah. Gus Yahya tidak menutup kemungkinan pembahasan tersebut, tetapi menegaskan bahwa persoalannya lebih kompleks daripada sekadar tambang.
Pada Desember 2025, Gus Yahya juga menjelaskan bahwa pengelolaan tambang tidak boleh dilakukan NU sendirian tanpa koordinasi dengan pemerintah. Wasekjen PBNU bahkan menyatakan pihak Tanfidziyah terbuka terhadap opsi mengembalikan konsesi apabila hal tersebut bisa menjadi solusi rekonsiliasi.
Polemik Pemberhentian atau Pemakzulan Gus Yahya
Ini kemungkinan menjadi isu yang paling berat secara politik organisasi. Pada 20 November 2025 beredar Risalah Rapat Harian Syuriyah yang meminta Gus Yahya mundur atau diberhentikan. Setelah itu muncul surat yang menyatakan Gus Yahya tidak lagi menjabat Ketua Umum PBNU per 26 November 2025.
Menjadi polemik panas setelah Gus Yahya menyatakan menolak keabsahan keputusan tersebut. Ia menyatakan tidak memiliki niat mundur dan meminta persoalan diselesaikan melalui Muktamar.
Konflik berkembang sampai muncul persoalan mengenai posisi Pj Ketua Umum dan akhirnya dilakukan upaya rekonsiliasi di antara elite PBNU. Konflik mereda setelah terjadi pertemuan antara KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya di Lirboyo pada 25 Desember 2025.
Dugaan TPPU
Dalam konflik internal PBNU sempat muncul pembahasan mengenai adanya praktik dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Gus Yahya memberikan klarifikasi terhadap berbagai tuduhan tersebut. Isu TPPU berpeluang besar akan muncul kembali sebagai serangan terhadap Gus Yahya di Muktamar NU.
Yahya Cholil Staquf mengaku bahagia Muktamar ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur. Ia menegaskan akan maju lagi sebagai kandidat karena berhutang tanggungjawab atau program yang selama memimpin belum terealisasi.
“Saya sangat bahagia bahwa tercapai keputusan pelaksanaan muktamar NU di pesantren Tambakberas Jombang,” kata Gus Yahya saat kunjungan ke Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Minggu 12 Juli 2026
Sementara selain Gus Yahya sejumlah nama telah muncul dan juga menyatakan siap maju sebagai bakal calon Ketum PBNU di Muktamar ke-35 NU. Di antaranya adalah Gus Salam, Gus Kikin, Gus Zulfa dan Gus Rozin. (sa/edt)




