Poin Penting:
- AHWA Muktamar ke-35 NU diputuskan berlangsung di Ndalem KH Abdul Wahab Hasbullah, Tambakberas, Jombang
- Lokasi tersebut dipilih karena lebih kondusif sekaligus memiliki nilai historis sebagai tempat awal perjuangan Mbah Wahab Hasbullah dalam merintis NU
- Forum AHWA beranggotakan sembilan ulama yang memiliki mandat memilih Rais Aam PBNU periode berikutnya
Bacaini.ID, JOMBANG — Ndalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang diputuskan menjadi tempat Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Muktamar ke-35 NU. Sebelumnya sempat dipilih di area makam.
Keputusan memilih Ndalem Kasepuhan tersebut didasari oleh nilai sejarah dan napak tilas perjuangan Mbah Wahab Hasbullah dalam mengawali gagasan pendirian hingga pengembangan organisasi NU.
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozaq), mengungkapkan panitia lokal sebelumnya sempat merencanakan kawasan makam sebagai lokasi musyawarah. Namun dibatalkan karena diprediksi menjadi titik pusat keramaian para peziarah dan penggembira sepanjang pelaksanaan muktamar.
“Memang awalnya kita punya wacana ditempatkan di area makam. Tapi karena di situ area keramaian, jadi kita geser ke Ndalem KH Wahab Hasbullah,” ujar Gus Rozaq saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (11/8/2026).
Gus Rozaq menegaskan Ndalem Kiai Wahab jauh lebih kondusif dan dapat memberikan ketenangan. Langkah ini juga bentuk kesiapan panitia lokal Tambakberas Jombang dalam mendukung kelancaran seluruh acara muktamar NU.
Sebagai forum tertinggi, AHWA beranggotakan sembilan ulama pilihan yang mengemban mandat khusus untuk memilih Rais Aam PBNU periode berikutnya.
Pemilihan Ndhalem Kiai Wahab sekaligus difungsikan sebagai momentum untuk merefleksikan ulang jejak historis dan spirit perjuangan Mbah Wahab.
“Ini sekaligus untuk mengenang awal perjuangan Kiai Wahab mendirikan NU yang memang berawal dari rumah tersebut,” tambah Gus Rozaq.
Penetapan Ndalem Kiai Wahab juga bukan sekadar persoalan teknis tempat, melainkan sarat akan simbol historis bagi perjalanan jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Hal itu mengingat AHWA merupakan sistem penetapan pimpinan tertinggi, khususnya Rais Aam Syuriyah.
Mekanisme ini melibatkan jajaran ulama dan kiai sepuh terkemuka yang dinilai memiliki kedalaman ilmu serta kearifan dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi.
Dalam prosesnya, forum AHWA mengedepankan prinsip musyawarah mufakat guna memilih figur yang paling matang dan layak mengemban amanah sebagai Rais Aam.
Konsep AHWA ini mengakar kuat dari tradisi politik Islam klasik yang dicontohkan para sahabat Nabi Muhammad SAW saat menentukan pemrakarsa kepemimpinan umat.
Bagi NU, penerapan mekanisme AHWA menjadi benteng untuk menjaga martabat para ulama serta melestarikan tradisi regenerasi kepemimpinan berbasis keilmuan. (sya/sa)




