Bacaini.ID, KEDIRI – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, menyatakan diri maju sebagai calon legislatif DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah. Langkah ini menandai debut politik Kaesang di panggung legislatif nasional, sekaligus menjadi ujian besar bagi PSI di ‘kandang banteng’.
Pernyataan itu disampaikan dalam Rakorda PSI Kota Solo, Sabtu malam, 25 Juli 2026. Kaesang menegaskan bahwa langkahnya bukan sekadar sebagai ketua umum partai, melainkan sebagai bakal caleg yang siap bertarung di dapil V Jawa Tengah, wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis kuat PDIP.
“Pesan yang saya sampaikan tadi bukan pesan saya sebagai ketua umum, tapi pesan saya sebagai bakal calon legislatif RI Dapil V Jawa Tengah,” ujar Kaesang di hadapan kader PSI.
baca ini:
- Strategi PSI Menjadikan Jawa Timur Kandang Gajah
- Wali Kota Kediri Beberkan Langkah Penyelesaian Alun-alun, DPRD: Normatif dan Tak Solutif
Ia menambahkan, fokusnya hanya di Kota Solo, sementara wilayah lain seperti Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo akan diisi kader PSI lain. Strategi ini disebut sebagai upaya menghindari perebutan suara internal dan menjaga konsolidasi partai.
Peta Politik Jawa Tengah
Hasil Pemilu Legislatif 2024 di Jawa Tengah masih didominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di tahta teratas. Dari total 77 kursi DPR RI yang diperebutkan, PDIP berhasil meraih 23 kursi. Tokoh besar seperti Puan Maharani dan Bambang Wuryanto tercatat sebagai caleg yang terpilih, memperkuat posisi PDIP sebagai partai utama di kandang banteng.
Partai Golkar mengamankan 12 kursi dengan basis kuat di dapil Jawa Tengah 2 dan 3. Nama Nusron Wahid muncul sebagai salah satu caleg dengan perolehan suara tinggi. Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meraih 10 kursi, konsisten di basis Nahdlatul Ulama, terutama di wilayah pantura dan eks Karesidenan Pati.
Partai Gerindra memperoleh 9 kursi, menunjukkan penguatan di dapil urban dan semi-urban. Partai Amanat Nasional (PAN) meraih 7 kursi dengan dukungan kuat dari komunitas Muhammadiyah.
Demokrat bertahan dengan 6 kursi, terutama di wilayah barat Jawa Tengah. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masih mempertahankan basis tradisional dengan 5 kursi, meski jumlahnya menurun dibanding pemilu sebelumnya. NasDem juga menancapkan pengaruh baru dengan 5 kursi dari beberapa dapil.
Sementara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tidak berhasil menembus DPR RI dari Jawa Tengah.

Alasan Kaesang Memilih Jateng
Keputusan Kaesang maju di dapil Jawa Tengah memunculkan sejumlah spekulasi di kalangan pengamat politik. Berikut beberapa asumsi yang diduga menjadi alasan Kaesang maju di kandang banteng:
Simbolisme Solo Raya
Solo adalah kampung halaman keluarga Jokowi. Dengan memilih dapil ini, Kaesang seolah menegaskan kesinambungan politik keluarga sekaligus menguji kekuatan PSI di wilayah yang selama ini dikenal sebagai “kandang banteng” PDIP. Langkah ini dibaca sebagai tantangan langsung terhadap dominasi PDIP di basis tradisionalnya.
Uji Popularitas Figur
PSI belum memiliki basis suara kuat di Jawa Tengah. Karena itu, pencalonan Kaesang lebih banyak bertumpu pada magnet personalnya sebagai figur publik dan putra Presiden Jokowi. Popularitas Kaesang menjadi senjata utama untuk menembus suara tradisional yang selama ini dikuasai partai lama.
Target Pemilih Muda
Kaesang membawa citra generasi milenial dan Gen Z, segmen yang menjadi sasaran utama PSI. Dengan gaya komunikasi yang dekat dengan anak muda, ia diharapkan mampu menggerakkan pemilih baru yang cenderung mencari alternatif di luar partai mapan.
Pertarungan Jokowi vs PDIP
Pencalonan Kaesang di dapil ini juga dibaca sebagai adu pengaruh politik antara Jokowi dan PDIP. Solo Raya selama ini menjadi simbol kekuatan Megawati dan Ganjar Pranowo. Kehadiran Kaesang menambah dimensi baru: apakah pengaruh Jokowi mampu mengimbangi dominasi PDIP di “kandang banteng”.
Konsolidasi Internal PSI
Dalam pernyataannya, Kaesang menegaskan hanya akan fokus di Kota Solo, sementara wilayah lain seperti Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo akan diisi kader PSI lain. Strategi pembagian teritori ini menunjukkan upaya PSI menghindari konflik internal dan memaksimalkan suara partai.
Penulis: Hari Tri Wasono




