Poin Penting:
- Kasus bunuh diri remaja Italia menyoroti bahaya rabbit hole algoritma yang terus mendorong konten serupa hingga ekstrem
- Algoritma media sosial memanfaatkan pola perilaku pengguna untuk meningkatkan engagement dan berpotensi mempersempit sudut pandang
- Pakar menyarankan reset algoritma, gunakan fitur “Tidak Tertarik”, dan sengaja mencari perspektif berbeda
Bacaini.ID, KEDIRI – Kasus bunuh diri seorang remaja di Italia membuka perhatian dunia terhadap sisi gelap algoritma media sosial dan bahaya fyp. Selama berbulan-bulan, korban diduga terjebak dalam pusaran konten depresi yang terus direkomendasikan sistem, memunculkan kembali perdebatan soal fenomena ‘rabbit hole’ dan dampak AI terhadap cara manusia berpikir.
BACA JUGA: Friendster Kembali Hadir, Media Sosial Anti Algoritma yang Bikin Anak Warnet Nostalgia
Ibu korban mengungkap anaknya terjebak dalam pusaran konten depresi dan menyakiti diri sendiri selama lima bulan sebelum peristiwa fatal terjadi. Tragedi ini tidak hanya memicu gugatan kolektif pertama di Italia melawan Meta dan TikTok, namun juga menyoroti krisis kognitif global yang membuat masyarakat modern semakin sulit melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang (Point of View/POV).
Kasus ini semakin memperkuat bukti bahwa algoritma media sosial secara agresif mampu memanipulasi psikologis pengguna yang rentan.
Apa Itu Rabbit Hole Algoritma Media Sosial?
Istilah ‘rabbit hole’ pertama kali diciptakan oleh penulis asal Inggris, Lewis Carroll, pada tahun 1865 dalam buku cerita klasiknya: Alice’s Adventures in Wonderland. Dalam cerita tersebut, tokoh utama jatuh ke dalam lubang kelinci dan masuk ke dunia alternatif yang aneh dan membingungkan.
Istilah ini diadaptasi secara teknis dalam riset dunia digital oleh ilmuwan komputer, jurnalis maupun kritikus teknologi sejak pertengahan tahun 2010-an. Salah satunya adalah Guillaume Chaslot, mantan insinyur rekomendasi YouTube. Ia adalah salah satu tokoh kunci yang membongkar cara kerja fenomena ini.
BACA JUGA: Terungkap Kenapa yang Kita Bicarakan Tiba-tiba Bisa Muncul di Konten Media Sosial
Setelah keluar dari YouTube, Chaslot mendirikan AlgoTransparency untuk menunjukkan bagaimana algoritma rekomendasi sengaja dirancang untuk menuntun pengguna ke ‘jebakan lubang kelinci’ yang penuh teori konspirasi dan konten ekstrem demi mengejar durasi tonton
Secara teknis sistemik, rabbit hole atau ‘lubang kelinci’ ini aktif secara masif sejak tim riset kecerdasan buatan Google (Google Brain) membangun ulang sistem rekomendasi berbasis jaringan saraf tiruan (deep neural networks) pada tahun 2015.
Sistem AI baru ini mampu membaca hubungan implisit antar-konten yang tidak disadari manusia, memicu lahirnya fenomena rabbit hole modern yang sekarang juga diadopsi secara agresif oleh algoritma For You Page (FYP) TikTok dan Reels Instagram.
Melalui metrik mikro seperti kecepatan gulir dan durasi nonton, secara otomatis mesin algoritma akan terus menyajikan konten serupa secara terus menerus dan membagikan konten dengan isu serupa yang lebih ‘dalam’. Algoritma akan ‘menyuapi’ penontonnya dengan konten sejenis yang semakin ekstrem demi mengejar keterikatan atau engagement dan tentu saja keuntungan iklan.
Secara psikologis, para ilmuwan dan psikolog membuktikan bahwa dampak rabbit hole algoritma merupakan akibat dari manipulasi sistem saraf otak manusia yang dilakukan secara sengaja oleh sistem komputasi.
Platform digital memanfaatkan sistem penghargaan intermiten (intermittent reward) yang memicu lonjakan hormon dopamin, mirip dengan mekanisme kecanduan judi maupun pornografi. Selain itu, konten provokatif sengaja didorong karena merangsang amigdala pusat emosi, yang secara perlahan melumpuhkan fungsi pusat logika dan kontrol impuls pada otak manusia.
Menurut para ahli psikologi, akibat pembajakan saraf oleh algoritma ini, netizen modern mengalami krisis kognitif akut yang memicu beberapa fenomena psikologi sosial:
- Bias Konfirmasi: Pengguna hanya mencari dan menerima informasi yang mendukung opininya, yang kemudian divalidasi secara otomatis oleh AI secara terus-menerus.
- Ruang Gema: Netizen terisolasi di dalam gelembung informasi (filter bubble). Karena hanya mendengar opini yang serupa, mereka kehilangan empati kognitif untuk memahami sudut pandang orang lain yang berbeda.
- Realisme Naif: Bias yang membuat seseorang merasa pandangannya adalah fakta objektif mutlak, karena beranda media sosialnya dipenuhi oleh ribuan orang yang menyetujui pendapatnya.
Bukti bahwa perusahaan teknologi mengetahui dampak berbahaya ini dibongkar melalui dokumen internal Meta (Facebook Papers) yang dibocorkan oleh whistleblower Frances Haugen pada tahun 2021, yang sempat membuat heboh seluruh dunia.
Dokumen tersebut menjadi bukti kuat di dunia hukum bahwa perusahaan sebenarnya sudah tahu secara detail bahwa algoritma mereka merusak mental remaja, namun sengaja mengabaikannya demi mengejar keuntungan finansial.
Dampak dari terbongkarnya praktik jahat algoritma media sosial ini, Facebook menghadapi tekanan publik dan sidang dengar pendapat di Senat Amerika Serikat dan parleman Eropa. Karena kasus ini pulalah, Mark Zuckerberg secara mendadak melakukan rebranding dengan mengumumkan bahwa Facebook, Inc. resmi berganti nama menjadi Meta Platforms, Inc.
Cara Menghindari Terjebak Rabbit Hole Algoritma
Untuk mengantisipasi dampak buruk manipulasi algoritma dan mengembalikan kemampuan berpikir kritis, para pakar teknologi menyarankan beberapa langkah taktis berikut:
- Lakukan reset algoritma berkala dengan fitur hapus riwayat tontonan atau refresh FYP secara rutin.
- Gunakan Tombol ‘Not Interested’ atau ‘Tidak Tertarik’. Skip video dalam waktu kurang dari dua detik.
- Lawan efek ruang gema dengan sengaja mencari topik yang bertolak belakang dengan preferensi selama ini.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Maklumat 26 KMNU Diluncurkan Jelang Munas-Konbes NU 2026 di Ploso Kediri, ini Isinya dan artikel lainnya di Rubrik BACAGAYA




