• Login
Bacaini.id
Thursday, May 7, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Friendster Kembali Hadir, Media Sosial Anti Algoritma yang Bikin Anak Warnet Nostalgia

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
7 May 2026 21:33
Durasi baca: 4 menit
Tampilan aplikasi Friendster terbaru di iPhone dengan konsep media sosial anti algoritma dan desain minimalis

Friendster resmi comeback! Media sosial legendaris era anak warnet kini hadir dengan konsep anti algoritma, tanpa iklan, dan lebih privat. Siap nostalgia sambil coba pengalaman sosial media yang lebih “real”? (foto/ist)

Poin Penting:

  • Friendster resmi kembali hadir dengan konsep media sosial anti algoritma dan bebas iklan
  • Pengguna hanya bisa menambah teman melalui fitur Tap to Connect menggunakan NFC saat bertemu langsung
  • Friendster ingin menjadi alternatif media sosial yang lebih privat tanpa eksploitasi data pengguna

Bacaini.ID, KEDIRI – Friendster, media sosial (medsos) legendaris era anak warnet awal 2000-an, resmi kembali hadir dengan konsep baru yang menolak sistem algoritma modern. Platform yang sempat berjaya sebelum tergeser Facebook ini kini hadir eksklusif di iOS dengan menawarkan pengalaman media sosial yang lebih privat, sederhana, dan bebas iklan.

Baca Juga:

  • Algoritma Netflix Ubah Lanskap Perfilman Indonesia: Dari Aksi ke Horor, Kini Dikuasai Komedi

Di awal tahun 2000-an, Friendster identik dengan ‘anak warnet’ karena teknologi ponsel masih sebatas untuk menelfon dan berkirim pesan singkat, yang membuat Friendster hanya bisa diakses melalui PC atau laptop.
Dan karena koneksi internet di rumah juga masih langka, era tersebut marak Warung Internet (Warnet) yang menyediakan sewa PC sekaligus jaringan internetnya per jam.

Tahun 2003 hingga 2008 menjadi era kejayaan Friendster yang menjadi platform media sosial paling dominan di dunia. Kini, Friendster sang pionir media sosial, mengumumkan kembalinya mereka di bulan April lalu. Friendster tidak hanya menjual nama besar masa lalu, namun menjadi antitesis terhadap supremasi algoritma media sosial modern.

Sejarah Friendster dan Kejayaannya Sebelum Facebook

Friendster didirikan oleh Jonathan Abrams di tahun 2002 dan dengan cepat menjadi pemimpin yang memiliki jutaan pengguna aktif, terutama di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia dan Filipina.

Munculnya Facebook yang menawarkan server lebih cepat, menggulung kejayaan Friendster yang akhirnya berubah menjadi situs social gaming pada 2011 sebelum akhirnya benar-benar menutup layanannya secara permanen pada 2015.

Selama lebih dari satu dekade, domain frienster.com hanya menjadi halaman kosong yang kemudian dilupakan. Kini, dibawah bendera Friendster Labs Inc. tim baru yang menggawangi kembalinya media sosial ini, meluncurkan aplikasi Friendster baru secara eksklusif untuk platform iOS, iPhone, melalui App Store. Sedangkan untuk Android, masih dalam proses.

Friendster tidak hanya sekadar kembali, namun juga menawarkan sesuatu yang segar bagi penggunanya. Sama seperti kemunculannya pertama kali sebagai pionir media sosial global, kelahiran kembali Friendster kali ini membawa ‘aturan’ baru yang mereka ciptakan sendiri dengan menolak sistem algoritma. Friendster ingin kembali menjadi pionir media sosial alternatif yang berbeda dari para raksasa media sosial.

Friendster Bisa Jadi Alternatif Media Sosial Modern

Friendster baru, diluncurkan dengan semangat ‘kesederhanaan’, simple namun ‘dekat’. Aplikasi Friendster memiliki ukuran yang sangat minimalis, 5,9 MB. Sangat kontras dengan aplikasi media sosial lain yang bisa memakan ruang hingga ratusan megabyte.

Friendster juga mempromosikan dirinya sebagai media sosial anti-mainstream. Berbeda dengan platform lain yang memungkinkan penggunanya mencaarai ribuan orang asing di kolom pencarian, Friendster ‘memaksa’ penggunanya untuk berinteraksi di dunia nyata melalui teknologi Tap to Connect.

Baca Juga:

  • PSHT Kabupaten Blitar Gelar Aksi Damai, Desak Pemda dan Polisi Tertibkan Kelompok Ilegal

Untuk menambahkan teman, pengguna harus berada di lokasi yang sama dan melakukan sinkronisasi ponsel secara firik dengan memanfaatkan teknologi NFC atau tap phone. Bagi banyak orang, cara ini dianggap lebih aman karena daftar pertemanan hanya berisi orang-orang yang secara real, telah dikenal.

Selain itu, Friendster menawarkan halaman media sosial yang lebih ‘bersih’ tanpa manipulasi algoritma. Feed pengguna hanya akan berisi unggahan teman secara kronologis, tanpa iklan atau konten-konten yang disarankan.

Friendster juga memastikan tidak akan menjual data penggunanya kepada pengiklan pihak ketiga. Model bisnisnya tidak didasarkan pada ekspoitasi data, melainkan pada pembangunan ekosistem yang sehat untuk komunikasi privat.

Friendster dapat menjadi media sosial alternatif bagi orang-orang yang merindukan terkoneksi dengan teman tanpa diganggu algoritma, orang tak dikenal yang tiba-tiba mengirim permintaan pertemanan, konten-konten ‘sampah’, hingga kekhawatiran pada penyalahgunaan data pribadi. ‘Anak Warnet’ sudah siap main friendster lagi?

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: anak warnetFriendstermedia sosialmedsosTEKNOLOGI
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Tampilan aplikasi Friendster terbaru di iPhone dengan konsep media sosial anti algoritma dan desain minimalis

Friendster Kembali Hadir, Media Sosial Anti Algoritma yang Bikin Anak Warnet Nostalgia

Ratusan anggota PSHT Kabupaten Blitar menggelar aksi damai di depan Kantor Bupati Blitar dengan mengenakan pakaian hitam dan membawa poster tuntutan

PSHT Kabupaten Blitar Gelar Aksi Damai, Desak Pemda dan Polisi Tertibkan Kelompok Ilegal

Ilustrasi bunuh diri. (foto/ist)

Pusiknas Polri Ungkap Kasus Bunuh Diri di Indonesia Meningkat

  • Maia Estianty memakai perhiasan red ruby di pernikahan El Rumi

    Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kedatangan KPK ke Blitar Picu Rumor OTT, Jubir Pastikan Hanya Sosialisasi Pencegahan Korupsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In