Bacaini.ID, KEDIRI – Ledakan populasi ikan sapu-sapu membuat Jakarta dalam kondisi darurat lingkungan. Penangkapan massal oleh petugas PPSU dan dinas terkait di sejumlah aliran sungai, termasuk kawasan Bundaran HI dan Menteng, menunjukkan betapa seriusnya ancaman spesies invasif ini terhadap ekosistem kota.
Baca Juga:
Pada Jumat (10/4) petugas PPSU dan dinas terkait dilaporkan berhasil menjaring sekitar enam karung besar ikan sapu-sapu khususnya di kawasan Bundaran HI dan Menteng. Pemandangan itu menarik perhatian warga dan viral di media sosial.
Ledakan populasi ikan sapu-sapu juga menjadi ancaman serius bagi ekosistem sungai. Sebab selama ini dikenal sebagai spesies invasif yang tidak memiliki predator alami di sungai.
Populasi masif berpotensi merusak tebing sungai karena sarangnya. Selain itu tabiatnya yang gemar memakan telur ikan lokal mengancam kelangsungan hidup ikan lain. Kesadaran warga akan bahaya mengonsumsi ikan sapu-sapu juga turut andil membuat populasi tidak terkendali.
Ikan sapu-sapu diketahui bukan sekedar ‘pembersih kaca’, tapi juga memiliki keunggulan dalam hal tertentu yang bisa berdampak positif maupun negatif. Berikut beberapa fakta sains ikan sapu-sapu:
Fakta Sains Ikan Sapu-sapu yang Jarang Diketahui
Ikan sapu-sapu tidak hanya mengandalkan insang untuk bernapas. Mereka memiliki kemampuan unik bernama facultative air-breathing. Ikan ini dapat menelan udara ke dalam usus mereka yang akan pembuluh darah untuk menyerap oksigen.
Saat kadar oksigen di air sangat rendah, ikan sapu-sapu akan berenang ke permukaan dan ‘menelan’ udara atmosfer. Inilah yang membuat ikan sapu-sapu dapat bertahan hidup di air tercemar, berlumpur bahkan beracun.
Saat ikan sapu-sapu menggunakan ususnya untuk ‘bernapas’, secara otomatis sistem pencernaan mereka akan melambat karena usus lebih fokus menjadi organ pernapasan.
Daging Tinggi Protein Tapi Berbahaya Dikonsumsi
Secara biologis, daging ikan sapu-sapu mengandung protein yang cukup tinggi. Namun, ada beberapa alasan medis dan lingkungan mengapa ikan ini tidak boleh dimakan meskipun tidak ada larangan resmi.
Ikan sapu-sapu yang hidup di sungai-sungai kota besar, sangat berbahaya untuk dimakan. Ikan sapu-sapu merupakan bottom feeder atau pemakan dasar yang menghisap sedimen atau lumpur di dasar sungai.
Sungai yang tercemar, merupakan tempat endapan logam berat berbahaya. Karena ikan ini bisa hidup puluhan tahun, logam-logam berat menumpuk di dagingnya.
Selain itu habitat yang kotor dan penuh limbah domestik, membuat ikan sapu-sapu juga banyak yang mengandung bakteri E. Coli dan Salmonella, penyebab diare dan tipus.
Tukang Gali yang Bisa Rusak Tebing Sungai
Kulit ikan sapu-sapu keras dan kasar. Secara ilmiah, ini merupakan modifikasi dari sisik yang disebut scutes. Lapisan ini mirip lempengan tulang atau armor yang melindungi mereka dari gigitan predator.
Kulit kerasnya ini menjadi kunci kekuatannya menggali lubang sarang hingga satu sampai dua meter panjangnya. Ikan sapu-sapu menggali tebing sungai untuk sarang reproduksi. Ikan jantan menggali lubang secara horisontal untuk ikan betina yang akan bertelur.
Lubang-lubang galian ikan ini lah yang membuat struktur tanah tepian sungai menjadi rapuh dan dapat memicu longsor atau kerusakan pada tanggul beton.
Beberapa penelitian dan proyek wirausaha, memanfaatkan potensi kulit ikan sapu-sapu yang keras dan bertekstur ini untuk diolah menjadi produk aksesoris seperti dompet, gantungan kunci, tali jam tangan dan lainnya. Sementara dagingnya diekstrak untuk pakan ternak.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





