Bacani.ID, KEDIRI – Film dokumenter Pesta Babi yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Jehan Paju Dale mengungkap praktik culas perusahaan sawit di Papua.
Film berdurasi 95 menit ini menyoroti potret pahit perjuangan masyarakat adat di wilayah Papua Selatan, terutama dari suku Marind, suku Yei, suku Awyu, dan suku Muyu, yang ruang hidupnya terancam oleh eksploitasi lahan skala besar.
Di balik deru mesin pembuka lahan dan deretan pohon sawit yang kian meluas di Papua, tersimpan jejak rumit kepemilikan perusahaan yang berkelindan hingga ke pusat keuangan dunia.
Investigasi publik dari 2020 hingga 2026 mengungkap bagaimana jaringan offshore digunakan oleh para taipan sawit untuk menyalurkan keuntungan ke luar negeri, sementara dampak deforestasi dan konflik sosial ditanggung masyarakat Papua.
Nama-nama besar muncul dalam peta kepemilikan ini. Martias Fangiono dan keluarganya, melalui First Resources dan FAP Agri Group, menguasai jutaan hektare lahan di Papua. Struktur kepemilikan mereka bercabang ke Singapura lewat Eight Capital Inc., hingga ke British Virgin Islands melalui Prinsep Management Ltd. Perusahaan-perusahaan seperti PT Bintang Harapan Palma dan PT Bina Agro Sejahtera menjadi ujung tombak operasi di lapangan.

Anthony Salim, pewaris konglomerasi Salim Group, menancapkan pengaruhnya lewat First Pacific Company Ltd. di Hong Kong dan Indofood Agri Resources Ltd. di Singapura. Jaringan trust di BVI dan Cayman memperkuat lapisan kerahasiaan kepemilikan. Di Papua, PT Duta Rendra Mulya dan PT Sawit Khatulistiwa Lestari menjadi bagian dari ekspansi yang menggerus hutan.
Nama lain yang tak kalah mencolok adalah Seung Eun-Ho dari Korindo Group. Ia mengendalikan ratusan ribu hektare melalui lebih dari 62 perusahaan cangkang di BVI, Panama, Singapura, dan Labuan. PT Tunas Sawa Erma dan PT Gelora Mandiri Membangun menjadi wajah lokal dari jaringan global yang kompleks. Korindo tak hanya menguasai perkebunan sawit, tetapi juga konsesi hutan dan pabrik pengolahan CPO.
Di sisi lain, keluarga Widjaja melalui Capitol Group menancapkan jejak lewat PT Medco Papua Hijau Selaras, sementara Rosna Tjuatja dengan Indonusa Agromulia mengoperasikan PT Internusa Jaya Sejahtera dan PT Anugerah Sakti Internusa. Meski skala mereka lebih kecil, pola kepemilikan tetap serupa: Singapura sebagai hub, tax haven sebagai benteng kerahasiaan.
Pola umum yang ditemukan dalam investigasi ini mencerminkan strategi sistematis: perusahaan induk di Singapura atau Hong Kong, jaringan shell company di tax haven, penggunaan nominee directors, kepemilikan sirkular, hingga trust offshore. Semua ini berujung pada satu hal: keuntungan mengalir ke luar negeri, sementara risiko lingkungan dan hukum dipisahkan dari entitas utama.
Dampak di Papua nyata dan mengkhawatirkan. Ekspansi sawit telah menelan hutan primer, memicu emisi karbon tinggi, dan menimbulkan konflik sosial serta pelanggaran hak asasi manusia. Masyarakat adat kehilangan tanah, ekosistem hancur, sementara keuntungan besar justru tercatat di bursa Singapura atau tersimpan di rekening luar negeri.
Singapura sendiri berperan sebagai simpul penting. Kota ini menjadi pusat listing perusahaan, pembiayaan, perdagangan perantara, dan optimasi pajak. Dari sinilah arus modal mengalir, menghubungkan Papua dengan jaringan global yang sulit ditembus transparansi publik.
Investigasi ini menegaskan bahwa isu sawit di Papua bukan sekadar soal perkebunan, melainkan soal struktur ekonomi politik global. Di satu sisi, ada janji pembangunan dan investasi. Di sisi lain, ada kenyataan deforestasi, konflik sosial, dan aliran keuntungan yang meninggalkan Papua tanpa kesejahteraan yang dijanjikan.
Penulis: Danny Wibisono, Hari Tri Wasono
Editor: Hari Tri Wasono





