Poin Penting:
- Petis telah tercatat dalam Prasasti Rukam tahun 907 M dan berbagai naskah kuno, membuktikan keberadaannya sejak era Mataram Kuno
- Bumbu khas Jawa Timur ini lahir dari pemanfaatan kaldu rebusan udang dan ikan, mencerminkan konsep zero waste yang diterapkan masyarakat pesisir sejak ratusan tahun lalu
- Petis berkembang menjadi simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa serta tetap bertahan sebagai identitas kuliner Nusantara hingga saat ini
Bacaini.ID, KEDIRI – Sejarah petis ternyata jauh lebih tua daripada yang dibayangkan banyak orang. Bumbu hitam khas Jawa Timur ini telah tercatat dalam berbagai naskah kuno sejak era Mataram Kuno dan Majapahit, sekaligus menjadi bukti kecerdasan leluhur dalam mengolah hasil laut dengan konsep zero waste.
Baca Juga:
Petis sangat dikenal oleh para pecinta kuliner Nusantara, khususnya asal Jawa Timur sebagai pasta hitam pekat dengan cita rasa gurih, manis dan beraroma tajam. Bagi hidangan populer seperti Rujak Cingur, Tahu Tek, hingga Lontong Kupang jadi kunci penentu cita rasa, karena tanpanya rasa masakan kurang afdol.
Dibalik penampakannya yang unik dan ‘intimidatif’ bagi sebagian orang, petis menyimpan sejarah panjang yang mendalam sebagai warisan teknologi pangan leluhur yang sudah eksis sejak ratusan tahun lalu.
Petis Tercatat dalam Prasasti dan Naskah Kuno Sejak Abad ke-10
Banyak orang mengira petis merupakan kreasi modern masyarakat pesisir. Faktanya, jejak sejarah petis telah terekam sejak era Mataram Kuno, abad ke-10 Masehi (tahun 901 M dan 907 M).
Baca Juga:
- Pecel Blitar: Kuliner yang Bikin Bung Karno Lupakan Revolusi
- Samanhudi Anwar Never Give Up di Tengah Polemik KONI Kota Blitar
Dalam Prasasti Rukam dengan angka tahun 829 Saka atau 19 Oktober 907 M, menyebut hidangan perayaan sebuah upacara yang salah satunya disebut dengan istilah ‘tetis’, yang diidentifikasikan oleh para arkeolog sebagai cikal bakal petis.
Pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14 M) dalam Babad Cirebon, juga terdapat catatan yang menyebut petis sebagai salah satu upeti kesukaan penguasa atau raja pada masa itu.
Beberapa catatan kuno lain seperti Serat Centhini hingga buku ‘The History of Java’ yang ditulis di era Kolonial Inggris, juga terdapat tentang petis sebagai bumbu atau hidangan pelengkap.
Petis digambarkan sebagai salah satu pelengkap hidangan atau suguhan yang disajikan dalam pesta-pesta keraton, upacara adat, maupun jamuan para bangsawan. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Jawa sudah menguasai teknologi pengolahan ekstrak makanan laut ini sejak masa pra-kolonial.
Terciptanya petis tak lepas dari kreativitas dan kearifan lokal masyarakat pesisir pantai utara pulau Jawa. Sejak zaman dulu, wilayah-wilayah ini dikenal sebagai pusat tangkapan laut, terutama udang, kupang, dan ikan.
Petis bermula dari industri rumahan pembuatan ebi (udang kering) dan ikan asin. Dalam proses produksinya, udang atau ikan harus direbus dalam jumlah besar terlebih dahulu. Usai perebusan, para nelayan zaman dulu melihat air sisa rebusan yang keruh dan berbuih melimpah.
Sadar bahwa air tersebut mengandung sari pati dan kaldu yang sangat gurih, mereka enggan membuangnya. Lahirlah konsep ‘zero waste’ atau pemanfaatan limbah pangan yang genius.
Air kaldu sisa rebusan itu kemudian ditampung dan dimasak kembali menggunakan api kecil selama berjam-jam hingga kadar airnya menyusut drastis. Setelah teksturnya mengental, mereka menambahkan gula merah (gula jawa) dan sedikit garam.
Gula merah berfungsi ganda: sebagai penyeimbang rasa gurih-manis, sekaligus sebagai pengawet alami agar pasta tersebut awet disimpan hingga berbulan-bulan di iklim tropis.
Petis Menjadi Simbol Akulturasi Budaya di Dapur Jawa
Memasuki era perdagangan bebas di pesisir Jawa, petis yang awalnya merupakan konsumsi masyarakat lokal mulai berbaur dengan budaya kuliner para pendatang, khususnya etnis Tionghoa.
Masuknya kecap manis dan teknik menggoreng dari Tionghoa berpadu sempurna dengan petis lokal. Akulturasi ini melahirkan variasi kuliner baru yang dikenal hingga sekarang, seperti Tahu Tek (paduan tahu goreng, saus kacang, kecap, dan petis) serta Lontong Cap Go Meh versi pesisir Jawa Timur yang kerap diberi sentuhan kuah petis yang gurih.
Petis tidak hanya sekadar bumbu dapur berwarna hitam, melainkan simbol ketahanan pangan, kreativitas leluhur dalam meminimalisir sampah makanan, dan identitas kultural yang berhasil bertahan melintasi zaman. Hadir dari meja perjamuan raja Majapahit hingga ke rombong kaki lima di sudut kota hari ini.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





