Bacaini.ID, KEDIRI – Ritual Tedak Siten kembali menjadi sorotan publik setelah banyak diperbincangkan di media sosial. Tradisi khas Jawa ini bukan sekadar seremoni, melainkan sarat makna filosofis tentang awal perjalanan hidup seorang anak saat mulai belajar berdiri dan berjalan.
Baca Juga:
- 4 Ritual Minta Hujan Masyarakat Nusantara: Ada Darah dan Tarian
- Sejarah Nyirih, Tradisi Kuno Nusantara yang Coba Dibunuh Kolonial Belanda
Salah satu ritual Jawa yang beberapa hari ini banyak diperbincangkan di media sosial adalah Tedak Siten yang dilakukan artis Erika Carlina untuk anak semata wayangnya, Andrew Raxy Neil, pada Jumat (3/4) lalu.
Tedak Siten menjadi pertanda seorang anak mulai belajar berdiri dan berjalan. Secara harfiah, Tedak Siten merupakan upacara ‘turun tanah’ bagi seorang anak. Ritual ini biasanya dilakukan ketika seorang anak berusia tujuh bulan dalam penanggalan Jawa.
Pada usia ini, anak mulai belajar berdiri dan melangkah yang secara simbolis menandai awal perjalanannya menapaki kehidupan di dunia.
Dalam kosmologi Jawa, tanah dianggap sebagai sumber kehidupan yang suci. Dengan menapakkan kaki ke tanah untuk pertama kalinya melalui ritual ini, anak diperkenalkan kepada alam semesta dan diingatkan bahwa ia kelak akan mengarungi kehidupan yang penuh tantangan sekaligus penuh berkah dari bumi.
Prosesi dan Simbolisme dalam Ritual Tedak Siten
Setiap eleman dalam Tedak Siten memiliki makna teologis dan moral. Berikut beberapa tahapan utama dalam ritual Tedak Siten:
Membersihkan Kaki
Anak dituntun menginjakkan kaki pertama ke tanah. Ini melambangkan langkah awal yang suci.
Meniti Jadah Tujuh Warna
Anak dituntun untuk melangkah di atas tujuh macam warna ketan atau jadah: merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga dan ungu. Maknanya: Angka tujuh atau pitu dalam bahasa Jawa, dikaitkan dengan kata ‘pitulungan’ atau pertolongan.
Tujuh warna melambangkan perjalanan hidup manusia yang penuh pilihan, rintangan dan pengalaman. Tujuh warna juga dikaitkan dengan tujuh cakra dalam tubuh manusia.
Melangkahkan kaki dalam jadah tujuh warna melambangkan harapan agar anak mampu melewati setiap fase hidupnya dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa.
Naik dan Turun Tangga Tebu Wulung
Dalam prosesi ini, anak dibimbing menaiki tangga yang terbuat dari tebu wulung atau tebu ungu. Tebu diakronimkan sebagai ‘antebing kalbu’, yang artinya ketetapan hati.
Prosesi ini melambangkan cita-cita yang tinggi, naik, dan perjalanan hidup yang diharapkan terus meningkat. Naik tangga tebu memiliki simbol tekad yang kuat dalam mengejar kesuksesan tanpa melupakan integritas diri.
Masuk Kurungan Ayam
Prosesi ini menjadi bagian paling ikonik dalam ritual Tedak Siten, masuk kurungan ayam. Di dalam kurungan, disiapkan berbagai benda: buku, uang, perhiasan, alat tulis, mainan. Benda-benda ini merupakan simbol dari profesi atau minat anak di masa depan.
Kurungan ayam melambangkan lingkungan masyarakat, etika yang melingkupi anak apapun minat yang akan dilakoni di masa depannya.
Menyebar Udhik-udhik
Orang tua menyebarkan udhik-udhik: campuran uang koin, beras kuning, dan bunga, kepada tamu undangan. Prosesi ini melambangkan konsep kedermawanan.
Ketika dewasa kelak, anak diharapkan memiliki sifat dermawan dan melakukan kewajiban sosialnya kepada masyarakat.
Mandi Air Sritaman
Anak dimandikan dengan air yang dicampur dengan bunga mawar, melati, dan kenanga kemudian dipakaikan baju baru yang bersih. Prosesi ini melambangkan harapan agar anak tumbuh membawa nama ‘harum’ bagi keluarga.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





