Poin Penting:
- Paus Leo meminta maaf secara eksplisit atas keterlibatan historis Gereja Katolik dalam praktik perbudakan
- Ensiklik “Magnifica Humanitas” mengakui Vatikan terlambat mengecam perbudakan secara universal hingga abad ke-19
- Dokumen tersebut juga menyoroti ancaman AI dan eksploitasi ekonomi modern sebagai bentuk “perbudakan gaya baru”
Bacaini.ID, VATIKAN – Paus Leo mencatat sejarah baru di tubuh Gereja Katolik setelah secara terbuka meminta maaf atas keterlibatan historis Vatikan dalam praktik perbudakan, sekaligus mengakui Gereja terlambat mengecam sistem penindasan tersebut secara menyeluruh.
Baca Juga:
Dikutip dari Reuters, pengakuan berani ini dituangkan dalam bagian krusial dari ensiklik kepausan pertamanya yang bertajuk ‘Magnifica Humanitas’ (Kemanusiaan yang Agung). Dalam manifesto tersebut, Paus Leo merefleksikan bagaimana Gereja Katolik membutuhkan waktu berabad-abad untuk sepenuhnya menyadari bahwa ‘bencana perbudakan’ adalah pelanggaran nyata martabat manusia.
Ia menyebut warisan kelam ini sebagai sebuah ‘luka dalam ingatan umat Kristen’ dan secara tulus memohon pengampunan atas nama Gereja, dibarengi rasa kesedihan yang mendalam atas penderitaan tanpa peri kemanusiaan yang dialami oleh orang-orang yang diperbudak.
Pernyataan Paus Leo kali ini dianggap sebagai titik balik besar karena ia tidak lagi menggunakan diplomasi bahasa yang normatif. Secara berani, ia mengakui bahwa otoritas Gereja di masa lalu kerap tunduk pada kemauan para penguasa politik dengan menerbitkan regulasi yang melegitimasi berbagai bentuk penindasan, termasuk perbudakan terhadap kaum non-Kristen.
Baca Juga:
- Samanhudi Anwar Akan Mundur Saat Pelantikan Ketua KONI Kota Blitar
- Ajudan Bupati Jombang dan Oknum PNS Dilaporkan Memeras dan Sekap Warga
Bahkan, jauh sebelum era modern, tepatnya pada Abad Pertengahan, berbagai lembaga internal gerejawi secara aktif memiliki dan mempekerjakan budak mereka sendiri. Paus Leo menjelaskan bahwa Gereja baru benar-benar mencapai konsensus ‘kecaman formal, absolut, dan universal’ terhadap perbudakan pada abad ke-19 di bawah kepemimpinan Paus Leo XIII, setelah melewati periode panjang yang penuh dengan ketidakkonsistenan antara ajaran teologis dan praktik di lapangan.
Langkah Paus Leo ini dianggap melangkah jauh lebih kedepan daripada para pendahulunya yang cenderung mengatribusikan kesalahan perbudakan pada ‘oknum’ individu, bukan institusi Vatikan itu sendiri. Sebagai perbandingan, Paus Yohanes Paulus II saat berkunjung ke Afrika pada tahun 1985 membatasi kesalahan pada tindakan ‘orang-orang dari negara Kristen’.
Sementara Paus Fransiskus memang telah mengutuk perbudakan modern dan menolak dokumen kepausan abad ke-15 yang dipakai penjajah untuk melegitimasi kolonialisme, namun ia tetap membingkainya dalam konteks situasi historis zaman dulu dan tindakan umat secara luas.
Melalui ensiklik terbaru ini, Paus Leo secara eksplisit menggeser fokus tersebut dengan mengakui langsung tanggung jawab institusional kepausan. Latar belakang personal Paus Leo diyakini memberikan pengaruh besar terhadap kepekaannya dalam isu ini.
Sebagai Paus pertama dalam sejarah yang lahir di Amerika Serikat, penelitian silsilah yang dirilis setelah pemilihannya tahun lalu mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa garis keturunannya sangat beragam, mencakup leluhur yang merupakan korban perbudakan sekaligus mereka yang menjadi pemilik budak. Ikatan darah yang kompleks ini tampaknya membawa perspektif rekonsiliasi yang kuat dalam masa kepausannya.
Dokumen ‘Magnifica Humanitas’ tidak hanya terjebak pada pembahasan masa lalu. Melalui ensiklik ini, Paus Leo justru mengaitkan esensi kemanusiaan dengan masa depan. Paus Leo memanfaatkan momen tersebut untuk menyoroti tantangan etika kontemporer, termasuk regulasi seputar Kecerdasan Buatan (AI) agar teknologi tidak menjadi alat baru untuk merendahkan martabat manusia, sekaligus memperingatkan dunia tentang munculnya ‘bentuk perbudakan gaya baru’ di era eksploitasi ekonomi global saat ini.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





