DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Blitar bersiap menggelar Musyawarah Cabang (Muscab). Momentum ini menjadi krusial untuk menentukan nahkoda baru yang mampu membawa PKB bangkit usai kekalahan di Pilkada 2024.
Shohibul bait telah menyebar undangan. Kalau tidak ada perubahan jadwal, acara Musyawarah Cabang (Muscab) itu akan digelar pada Sabtu Wage 28 Maret 2026 besok.
Meski penentu akhir berada di tangan DPP, Muscab DPC PKB tentu bukan sekedar praktik taklid buta. Sekedar menggugurkan kepatuhan perintah AD/ART partai. Jelas bukan. Dalam Muscab ada ghirah atau semangat perubahan seperti dalil masyhur berikut.
“Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang beruntung. Barang siapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia orang merugi. Dan barang siapa yang harinya sekarang lebih buruk daripada harinya kemarin maka dia celaka”
Tentu saja dengan digelarnya Muscab pada 28 Maret 2026 oleh shohibul bait, DPC PKB Kabupaten Blitar tidak berangan akan terus berada dalam situasi yang sama dengan hari kemarin. Juga tidak berharap merugi maupun celaka.
Lantas figur nahkoda macam apa yang mampu membawa hari-hari DPC PKB Kabupaten Blitar menjadi lebih baik? Khususnya di Pemilu 2029, utamanya pemilu legislatif dan pemilu kepala daerah.
Sebelum menjawab itu, mari sedikit flash back pada tahun 2024, di Pilkada 2024. Semua masih ingat, Pilkada 2024 di Kabupaten Blitar merupakan pilkada dengan dinamika paling sengit meskipun di atas kertas squad PKB unggul besar.
PKB didukung koalisi besar yang mengusung calon kepala daerah petahana: Rini Syarifah (Mak Rini). Bukan hanya menjabat bupati, Mak Rini juga Ketua DPC PKB Kabupaten Blitar. Di atas kertas harusnya menang.
Namun nyatanya kalah telak. PKB dan koalisi besarnya berhasil dipecundangi oleh koalisi PDIP, PAN dan Partai Nasdem yang mengusung pasangan Rijanto-Beky Herdihansah. Kekalahan yang menampar muka.
Kalau meminjam kerangka teori santri dan abangan dan PKB representasi partai berbasis santri, kekalahan itu merupakan kekalahan kaum santri. Dan Gus Iqdam beserta jamaah santrinya menjadi salah satu faktor.
Bagi PKB Kabupaten Blitar kekalahan dalam pilkada 2024 adalah sejarah gelap. Menjadi catatan sekaligus beban bagi siapapun yang terpilih sebagai Ketua DPC PKB Kabupaten Blitar periode 2026-2031.
Karenanya siapapun yang berhasrat menjadi Ketua DPC Kabupaten Blitar hukumnya wajib berkomitmen sanggup menebus kekalahan, disamping menjaga atau menaikkan jumlah kursi di legislatif.
Yang kedua, Ketua DPC PKB Kabupaten Blitar yang baru mesti memiliki kemampuan membaca perubahan sosial, kebutuhan sosial, dan tantangan sosial di era digital ini. Siapapun dia harus punya kemampuan multitasking internal dan eksternal.
Cakap mengonsolidasikan kader mulai dari level ranting (grassroot), anak cabang hingga cabang, dan di saat yang sama piawai berkomunikasi lintas sektoral baik secara online maupun offline. Memahami algoritma sosial.
Pendek kata, DPC PKB Kabupaten Blitar butuh seorang nahkoda yang bukan hanya pintar ngaji, tapi juga piawai ngopi. Ngaji merepresentasikan kedalaman nilai keagamaan, sementara ngopi mencerminkan kemampuan membangun komunikasi yang inklusif, santai, dan merangkul berbagai kalangan.
Ngopi adalah bentuk silaturahmi, yang itu tidak hanya dilakukan di kalangan santri, tapi juga di luar kaum bersarung.
Kenapa demikian? Karena ini Blitar yang sebagian besar warna sosialnya terbagi atas firqoh santri dan abangan (ijo abang). Gaya komunikasi yang lebih inklusif, egaliter dengan nilai-nilai kemudaan lebih disukai ketimbang watak elitis dan feodal.
Pada konteks Pemilu 2029 hal itu juga relevan dengan fenomena cluster pemilih gen Z (pemilih pemula) yang sesuai data telah mencapai sekitar 900 ribu hingga 1 juta.
Pertanyaannya, dari nama-nama bakal calon Ketua DPC PKB Kabupaten Blitar yang muncul, yakni Moh Rifai, Rini Syarifah, Nur Fathoni, Lutfi Azis, Ahmad Tamim, dan Ufik Rohmatul Fitria, adakah yang memenuhi kriteria?
Penulis: Garendi
*) Penulis adalah jurnalis penyuka pecel punten, es pleret dan The Beatles





