Poin Penting:
- Viral turis Italia menghina warga Thailand memicu perdebatan mengenai arogansi wisatawan asing dan dugaan munculnya neo kolonialisme dalam industri pariwisata Asia Tenggara
- Ketergantungan ekonomi pada sektor wisata dinilai dapat memunculkan relasi kuasa yang membuat sebagian turis merasa memiliki hak istimewa terhadap negara tujuan
- Solidaritas netizen ASEAN melalui media sosial terbukti efektif memberi tekanan hingga mendorong permintaan maaf resmi dan tindakan hukum terhadap turis bermasalah
Bacaini.ID, KEDIRI — Kasus viral turis Italia di media sosial yang menghina warga Thailand memicu perdebatan luas mengenai arogansi wisatawan asing, white arrogance (arogansi kulit putih), dan dugaan munculnya neo kolonialisme dalam industri pariwisata Asia Tenggara. Sebelumnya tindakan rasis oleh turis Belanda kepada warga lokal juga terjadi di Bali, Indonesia.
BACA JUGA: Dirjen Imigrasi Cekal WNA Penyelenggara Bali Silent Disco
Dalam video viral yang terjadi Thailand tersebut, terlihat seorang turis perempuan kulit putih mengatakan: “Sorry for bringing money to your country” (Maaf ya kami sudah membawa uang ke negaramu). Kalimat berkesan sombong dan menghina tersebut meluncur dari mulut seorang pendamping rombongan pelajar asal Italia di atas gerbong BTS Skytrain Bangkok, Thailand.
Video sontak viral di media sosial kawasan Asia Tenggara yang itu berawal dari teguran warga lokal karena rombongan remaja turis asal Italia membuat kegaduhan di ruang publik. Alih-alih minta maaf mereka justru membalas dengan acungan jari tengah dan kalimat yang merendahkan.
Insiden berturut-turut atas perilaku ‘bule’ di kawasan Asia Tenggara tersebut bukan sekadar urusan tata krama yang buruk. Apalagi ada asumsi implisit dari sebagian wisatawan Barat bahwa nominal devisa yang mereka belanjakan memberi hak istimewa (privilege) untuk mengangkangi hukum, etika, dan kedaulatan warga lokal di negara berkembang.
Mengapa Turis Asing Merasa Berhak Bersikap Arogan?
Asia Tenggara dikenal dengan destinasi wisata beragam yang tak hanya menawarkan liburan menyenangkan, namun juga harga yang sangat murah untuk ukuran warga negara maju. Harga murah inilah yang seringkali justru menarik wisatawan asing dengan budget minim untuk menikmati sensasi ‘orang kaya’ di dunia ketiga dan bersikap arogan.
BACA JUGA: Tren Hastag #KaburAjaDulu, Warga Asing Justru Berebut Jadi WNI
Arogansi ‘bule’ ini tumbuh seiring dengan ulasan para ekonom pariwisata yang sering mengagungkan angka-angka devisa. Thailand meraup miliaran dolar dari turis asing, Malaysia mencatatkan puluhan juta kunjungan, dan Indonesia terus memoles Bali demi pundi-pundi rupiah. Tanpa disadari, para turis asing yang datang ke negara berkembang merasa kehadiran mereka sangat dibutuhkan untuk menambah devisa negara setempat. Asumsi ketergantungan ekonomi pada sektor pariwisata yang tinggi ini tanpa sadar menciptakan relasi kuasa yang timpang.
Secara sosiologis, apa yang terjadi di Bangkok, Bali dan rentetan kasus turis mengamuk di kafe Da Nang, Vietnam, hingga turis asing yang membentak petugas, merupakan bentuk nyata dari White Arrogance (arogansi kulit putih). Mereka datang dengan mentalitas komodifikasi, memandang negara-negara Asia Tenggara bukan sebagai peradaban yang berdaulat, melainkan sebagai ‘taman bermain murah tanpa aturan’ di mana segalanya bisa dibeli dengan mata uang asing.
Kalimat ‘kami membawa uang ke negaramu’ merupakan manifestasi dari sindrom juru selamat. Cara pandang usang yang menganggap bahwa tanpa uang mereka, masyarakat lokal akan kelaparan. Pandangan bias kolonial inilah yang membuat turis asing tidak menyadari bahwa pariwisata merupakan transaksi yang setara: membayar untuk menikmati keindahan dan fasilitas, bukan untuk membeli harga diri bangsa yang dikunjungi.
Dari data beberapa negara ASEAN yang ada, diketahui bahwa sektor pariwisata Indonesia menyumbang 8-10% dari total pendapatan ekspor non-migas nasional. Sementara itu di Thailand, industri pariwisata memiliki peran yang jauh lebih masif bagi perekonomian negara, di mana devisa dari wisatawan mancanegara menyumbang sekitar 20% hingga 25% dari total penerimaan ekspor barang dan jasa negara tersebut.
Di Malaysia, sektor pariwisata menyumbang sekitar 12% hingga 15% dari total penerimaan devisa transaksi berjalan. Di Vietnam, sektor pariwisata dari kedatangan wisatawan mancanegara menyumbang sekitar 10% hingga 12% dari total penerimaan devisa ekspor.
Solidaritas Netizen ASEAN Jadi Senjata Baru Melawan Arogansi Turis
Jika di masa lalu arogansi seperti ini sering kali berakhir damai di bawah meja demi ‘menjaga nama baik pariwisata’, era digital telah mengubah lanskap secara total. Netizen Asia Tenggara kini memiliki senjata pemukul yang sangat efektif: viralitas. Apalagi warganet Asia Tenggara yang dikenal solid saling mendukung jika salah satu negara ‘diserang’ negara lain non ASEAN, bahkan memiliki julukan tersendiri: SEAbling, persaudaraan di dunia maya antar warga negara Asia Tenggara.
Solidaritas digital di lintas negara ASEAN terbukti sangat agresif. Dalam kasus terbaru di Thailand, begitu video arogansi tersebut menyebar, tekanan publik langsung memaksa Kedutaan Besar Italia di Bangkok merilis permintaan maaf resmi, dan kepolisian setempat segera menangkap pelaku untuk diperiksa. Hal serupa terjadi di Indonesia dan Vietnam, di mana tekanan netizen sukses mendepak turis-turis bermasalah melalui jalur deportasi dan penahanan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Warisan Feodalisme di Jawa Timur yang Bertahan, Ini Contohnya dan artikel lainnya di rubrik BACA




