• Login
Bacaini.id
Saturday, May 23, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Soe Hok Gie: Kekuasaan Musuh Terakhir Moralitas

Soe Hok Gie percaya kekuasaan selalu cenderung merusak moralitas. Di tengah korupsi, ketidakadilan, dan pengkhianatan elite politik, ia memilih tetap gelisah, berontak, dan berdiri di pihak rakyat kecil

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
23 May 2026 14:46
Durasi baca: 4 menit
Potret Soe Hok Gie aktivis mahasiswa Indonesia yang kritis terhadap kekuasaan

Soe Hok Gie dikenal sebagai aktivis mahasiswa yang konsisten melawan kekuasaan dan ketidakadilan hingga akhir hayatnya (foto/ist)

Bacaini.ID, KEDIRI – Soe Hok Gie tidak pernah nyaman berada dekat dengan kekuasaan. Baginya, otoritas adalah musuh terakhir moralitas yang harus terus diawasi dan dilawan demi menjaga keberpihakan kepada rakyat kecil.

Baca Juga:

  • Mengenang Soe Hok Gie Sebagai Sejarawan yang Jernih

Ia tidak pernah risih dituduh sebagai seorang anarkis, dan justru membuatnya senang. Permainan aman dan taktis demi keuntungan taktis selalu ditolaknya, baik itu di masa kekuasaan Soekarno maupun pemerintahan Soeharto.

Ia tetap melihat kekuasaan sebagai musuh terakhir moralitas, dan karenanya secara naluriah selalu muncul rasa tidak nyaman ketika dikaitkan dengan otoritas kekuasaan. Soe Hok Gie tidak peduli sikapnya disebut sebagai pemberontakan anak muda, sebab ia telah menjadi pengajar di Fakultas Sastra.

“Secara emosional, saya tetaplah seorang mahasiswa, meskipun saya berstatus guru. Saya merasa sulit menyesuaikan diri secara emosional dengan kondisi baru saya,” tulis Gie dalam In Memoriam: Soe Hok Gie.

“Jika tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan, saya merasa tidak bisa tinggal di rumah. Saya tidak tahu apakah ini hanya sebuah fase, atau apakah ini pertanda bahwa saya akan selalu gelisah, dan tidak mampu hidup dalam damai,” lanjutnya.

Melihat sikapnya, akan sulit membayangkan Soe Hok Gie berusia setengah baya, hidup mapan, datang rutin ke kantor untuk bekerja, dan menikmati waktu libur bersama istri dan anak-anak.

Baca Juga:

  • Murdaya Poo Alumni GMNI Asal Blitar, Marhaeinis Konglomerat Rp20 Triliun
  • Konsolidasi Alumni GMNI Kediri Gaungkan Nasionalisme dan Marhaenisme yang Mulai Pudar

Bagi Gie, damai adalah menyerah, meninggalkan harapan dengan menerima rutinitas hidup yang melelahkan, sementara praktik korupsi terjadi di mana-mana, di sekelilingnya.

Karenanya ia begitu mencintai kata-kata: berontak, nekad, berani, jujur dan bersih dan itu selalu diucapkannya. Menurutnya moral mahasiswa, solidaritas kampus dan jalanan harus mengambil peran dalam politik Indonesia.

Cemoohnya terhadap pemimpin mahasiswa yang memutuskan hidup dalam damai dengan menerima posisi di Parlemen yang ditunjuk dengan segala limpahan fasilitas, tetap pedas.

“Saya menulis sebagian hanya untuk meredakan rasa muak saya terhadap kondisi kita. Namun terkadang, saya merasa seolah semua ini sia-sia. Saya merasa bahwa semua yang ada di artikel-artikel saya hanyalah beberapa petasan kecil. Dan saya ingin mengisinya dengan bom,” katanya.

Soe Hok Gie murka dengan eksploitasi kejam kekuasaan terhadap kaum miskin, papa: pajak-pajak liar yang sewenang-wenang, perampasan tanah, riba yang memeras, kekerasan bersenjata, dan kesombongan para pejabat.

Ia melihat otoritas dan karenanya bertekad jika mampu tetap berada di luar, apapun itu otoritasnya. Hal itu juga yang membuat Gie menyukai lagu legendaris Darah Rakyat ciptaan aktivis pemuda kiri Pesindo, yang telah dilarang.

Darah rakjat masih djalan

Menderita sakit dan miskin

Pada datangnja pembalasan

Kita jang mendjadi hakim

***

Hajo, hajo bergerak sekarang

Kemerdekaan telah datang

Merahlah pandji-pandji kita

Merah warna darah rakjat

***

Kita bersumpah pada rakjat

Kemiskinan pasti hilang

Kaum kerdja akan memerintah

Dunia baru tentu datang

Soe Hok Gie memberi kontribusi besar terhadap gerakan mahasiswa yang membantu menjatuhkan rezim Soekarno. Namun ia orang pertama yang menulis secara terang-terangan ribuan tahanan politik yang ditahan tanpa pengadilan.

Dengan tajam kepemimpinan komunis dalam Peristiwa Madiun 1948 dikritiknya, namun secara terbuka ia menyatakan simpati kepada mereka yang telah mengorbankan segalanya bagi rakyat Indonesia, tak peduli kiri maupun kanan.

“Simpati saya adalah untuk semua mereka yang telah mengorbankan segalanya bagi rakyat Indonesia, baik mereka berada di kiri maupun di kanan,” tulisnya.

Soe Hok Gie masih berusia 26 tahun ketika gas beracun di kawasan puncak Gunung Semeru Jawa Timur pada 16 Desember 1969, merenggut ajalnya. Baginya gunung adalah tempat melatih diri, dan di puncak ia benar-benar merasa bersih.

Apakah pemikiran Soe Hok Gie tentang kekuasaan dan moralitas masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini?

Penulis: Tim Redaksi

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: aktivis mahasiswagerakan mahasiswagunung semerusoe hok gie
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Potret Soe Hok Gie aktivis mahasiswa Indonesia yang kritis terhadap kekuasaan

Soe Hok Gie: Kekuasaan Musuh Terakhir Moralitas

Ilustrasi minyak peppermint alami untuk membantu menurunkan tekanan darah tinggi dan hipertensi

Minyak Peppermint Terbukti Turunkan Tekanan Darah, Harapan Baru Penderita Hipertensi

Ilustrasi kasus kriminal di Kediri terkait dugaan pencabulan anak dan dalih makhluk gaib

Makhluk Gaib Jadi “Kambing Hitam” Kasus Dugaan Pencabulan 12 Anak di Kediri

  • Maia Estianty memakai perhiasan red ruby di pernikahan El Rumi

    Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In