Pada 1 Oktober, pemerintah menyebut situasi telah berubah menjadi apa yang mereka kategorikan sebagai “kekerasan perkotaan”. Kementerian Dalam Negeri mencatat 1.027 sekolah terdampak dan 222 sekolah diblokade. Angka penangkapan juga meningkat hingga 1.949 orang pada saat itu.
Sehari kemudian, jumlah staf pendidikan yang terluka mencapai 65 orang, termasuk 40 kepala sekolah. Menteri Pendidikan mengatakan lebih dari 100 lycée mengalami kerusakan berat.
Di tengah kekacauan tersebut, muncul pula laporan mengenai orang-orang dari luar sekolah yang ikut dalam aksi. Menteri Pendidikan mengatakan sejumlah kepala sekolah yang menjadi korban kekerasan mengaku tidak mengenali pelaku sebagai murid mereka.
Hal ini kemudian menjadi alasan pemerintah untuk mengatakan bahwa gerakan yang awalnya membawa tuntutan pendidikan telah “diambil alih” kelompok-kelompok yang ingin membuat kerusuhan.
Pemerintah Curiga ada Tangan Politik
Pemerintah dan sejumlah pejabat menuding La France Insoumise (LFI), partai kiri radikal yang dipimpin Jean-Luc Mélenchon, ikut mendorong dan memobilisasi aksi tersebut.
Tuduhan itu sensitif karena Prancis akan menghadapi pemilihan presiden dalam beberapa bulan mendatang. Jika benar terjadi mobilisasi politik terhadap pelajar, maka demonstrasi pendidikan dapat berubah menjadi instrumen pertarungan politik nasional.
Namun LFI membantah tuduhan tersebut. Manuel Bompard, koordinator LFI, menilai pemerintah justru sedang mencari kambing hitam dan menuduh mereka menggunakan teori konspirasi untuk menjelaskan gerakan yang sesungguhnya lahir dari persoalan sosial.
TikTok Mempercepat Ledakan
Ada satu faktor yang membuat gerakan ini berbeda dari demonstrasi pelajar pada masa sebelumnya, yakni kecepatan media sosial. Video pendek menjadi semacam pengeras suara. Satu blokade dapat direkam menggunakan telepon seluler, diunggah ke TikTok atau platform lain, kemudian ditonton ribuan bahkan jutaan kali.
Bagi pelajar di kota lain, mereka tidak perlu menunggu pemberitaan televisi untuk mengetahui apa yang terjadi. Mereka dapat melihat sendiri aksi teman sebaya, menyaksikan kondisi sekolah dan melihat bentrokan dengan polisi melalui layar ponsel.
Inilah yang membuat sebuah persoalan lokal dapat berubah menjadi gerakan nasional hanya dalam beberapa hari.
Media sosial tidak selalu menciptakan kemarahan. Tetapi dapat mempercepat penyebaran kemarahan yang sebelumnya sudah ada.
Pemerintah akhirnya mengambil dua jalur sekaligus, keamanan dan dialog. Pasukan CRS dan polisi bergerak untuk mengendalikan aksi yang berubah menjadi kekerasan. Pemerintah juga menyerukan kepada orang tua agar tidak membiarkan anak-anak mereka ikut dalam aksi yang semakin berbahaya.
baca halaman selanjutnya……….



