Keluhan Berkembang ke Isu Lain
Diawali dari kekurangan guru yang menjadi pemicu utama, keluhan para pelajar berkembang lebih luas. Kerusakan bangunan dan terbatasnya fasilitas belajar mulai digaungkan di wilayah yang secara ekonomi lebih tertinggal.
Masalah tersebut bertemu dengan kekurangan tenaga pendidikan. Guru tidak selalu tersedia ketika dibutuhkan, dan sejumlah kelas mengalami gangguan proses belajar karena posisi yang kosong belum segera terisi.
Kemarahan itu semakin besar karena mereka juga menghadapi kelas yang padat, jadwal belajar yang panjang serta tekanan akademik, termasuk persaingan masuk pendidikan tinggi melalui Parcoursup.
Créteil bukan tempat yang kebetulan menjadi titik awal. Wilayah pinggiran Paris selama bertahun-tahun menghadapi persoalan ketimpangan sosial dan ekonomi. Sekolah-sekolah di kawasan banlieue berhadapan dengan kebutuhan pendidikan yang besar, sementara persoalan sumber daya dan fasilitas terus menjadi keluhan.
Karena itu, gedung sekolah yang rusak atau guru yang tidak tersedia bagi para pelajar pinggiran memicu perasaan diskriminasi oleh negara. Mereka mulai mempertanyakan mengapa kualitas pendidikan yang diterima tidak sama dengan yang diperoleh anak-anak di kawasan yang lebih makmur.
Tekanan Fiskal Negara
Protes juga berlangsung di tengah tekanan fiskal yang berat di Prancis. Pemerintah tengah berupaya menekan defisit dan utang negara melalui kebijakan penghematan anggaran. Rencana anggaran pendidikan untuk 2027 bahkan diperkirakan hanya naik sekitar 1,7 persen, sementara beban pembayaran utang negara terus meningkat.
Reuters melaporkan bahwa biaya pembayaran utang diperkirakan akan melampaui anggaran pendidikan sebagai salah satu pos belanja terbesar pemerintah.
Bagi para pelajar dan guru, situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran. Jika sekolah yang ada sekarang saja masih kekurangan guru dan fasilitasnya bermasalah, bagaimana kondisinya jika anggaran publik kembali diperketat?
Karena itu, kemarahan pelajar beririsan dengan keresahan guru dan pegawai negeri yang juga menolak kebijakan penghematan pemerintah.
Aksi Protes Berubah Menjadi Kekerasan
Perubahan karakter gerakan berlangsung cepat. Pada tahap awal, aksi lebih banyak berupa blokade pintu masuk sekolah dan demonstrasi. Namun memasuki akhir September, sejumlah aksi berubah menjadi bentrokan.
Polisi dikerahkan untuk membubarkan massa. Sejumlah demonstrasi berakhir dengan penangkapan. Di beberapa tempat terjadi perusakan fasilitas sekolah dan serangan terhadap aparat maupun tenaga pendidikan.
baca halaman selanjutnya……..



