Pada saat yang sama, Menteri Pendidikan membuka pembicaraan dengan organisasi pelajar, serikat guru dan perwakilan orang tua. Pemerintah juga menjanjikan percepatan pengadaan guru pengganti sehingga kelas-kelas yang selama ini terganggu dapat kembali berjalan.
Masalahnya, pemerintah kini menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengakhiri blokade. Mereka harus meyakinkan generasi muda bahwa negara benar-benar mendengar keluhan mereka.
Runtuhnya Kepercayaan Generasi Muda pada Negara
Inilah bagian paling penting dari kerusuhan pelajar Prancis. Aksi tersebut memang telah menghasilkan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Namun kekerasan tidak otomatis menghapus persoalan yang menjadi titik awal gerakan.
Protes itu lahir dari sekolah yang kekurangan guru, fasilitas yang bermasalah, kelas yang padat, beban belajar dan ketimpangan sumber daya. Persoalan tersebut bukan muncul pada September 2026. Yang berubah adalah kemampuan para pelajar untuk menghubungkan satu keresahan dengan keresahan lainnya dan menyebarkannya secara cepat melalui media sosial.
Karena itu, kerusuhan ini dapat dibaca sebagai dua persoalan sekaligus. Pertama, persoalan ketertiban umum, yang membutuhkan penegakan hukum terhadap kekerasan dan perusakan. Kedua, persoalan kepercayaan generasi muda kepada negara.
Jika sekolah yang mereka masuki setiap hari terasa tidak layak, guru tidak tersedia, beban belajar semakin berat dan mereka melihat adanya perbedaan kualitas pendidikan berdasarkan tempat tinggal dan status sosial, maka kemarahan tidak akan selesai hanya dengan membubarkan demonstrasi.
Prancis kini menghadapi persoalan besar. Mampukah negara memperbaiki sekolah-sekolah yang menjadi sumber kemarahan itu sebelum generasi muda kehilangan kepercayaan bahwa pendidikan publik benar-benar diperuntukkan bagi mereka?



