• Login
Bacaini.id
Sunday, July 5, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Soekarno: Kebahagiaan Wanita Ada dalam Masyarakat Sosialis

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
5 July 2026 15:02
Durasi baca: 3 menit
Bung Karno berbicara di depan ribuan wanita di Istana Negara

Presiden Soekarno menegaskan bahwa kebahagiaan perempuan hanya dapat terwujud dalam masyarakat yang adil dan makmur melalui perjuangan bersama seluruh rakyat Indonesia (foto/ist/Commons Wikimedia)

Poin Penting:

  • Soekarno menyatakan kebahagiaan perempuan hanya dapat dicapai dalam masyarakat yang adil dan makmur, bukan semata melalui persamaan hak dengan laki-laki
  • Bung Karno membagi perjuangan perempuan Indonesia menjadi tiga tahap, yakni meningkatkan derajat kaum wanita, memperjuangkan persamaan hak, dan membangun masyarakat berkeadilan sosial
  • Pidato yang disampaikan pada 15 April 1953 di Istana Negara menunjukkan pandangan Soekarno bahwa emansipasi perempuan harus berjalan seiring dengan perjuangan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat

Bacaini.ID, JAKARTA – Pidato Presiden Soekarno pada 15 April 1953 memuat pandangan menarik mengenai perjuangan perempuan Indonesia. Di hadapan ribuan wanita Jakarta Raya di Istana Negara, Bung Karno menyampaikan bahwa persamaan hak belum cukup membawa kebahagiaan. Menurutnya, perempuan hanya dapat mencapai kebahagiaan di dalam masyarakat yang adil dan makmur. Masyarakat sosialis.

Bung Karno berbicara di depan 3000 massa wanita Jakarta Raya. Kebahagiaan wanita ditegaskannya hanya bisa dicapai di dalam masyarakat adil dan makmur, dan itu di dalam masyarakat sosialis. “Hanya dalam masyarakat adil dan makmur, hanya dalam masyarakat sosialis, wanita dapat mencapai kebahagiaan,” kata Bung Karno dalam pidatonya seperti dikutip dari majalah Api Kartini edisi tahun pertama No 1 Tahun 1959.

BACA JUGA: Lawatan ke Semarang, ‘Mekkahnya’ Kaum Merah dan Jejak Semaun

Ada tiga tingkatan perjuangan wanita Indonesia. Pertama, kata Bung Karno adalah fase perjuangan wanita mengangkat kaumnya dari segala keterbelakangan. Surat-surat R.A. Kartini dalam ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ jadi rujukan.

Pada masa itu gerakan yang diperjuangkan adalah penyempurnaan kewanitaan, seperti mengejar berbagai pengetahuan di dalam kehidupan rumah tangga. Kedua, Bung Karno menyebut fase tingkatan kaum wanita mengejar hak sama dengan kaum pria.

Digambarkan bagaimana dalam pertemuan antara wanita dan lelaki, kaum lelaki merasa lebih bercakrawala (berpengetahuan) ketimbang kaum wanita, dan karenanya kaum wanita harus berjuang menyetarakannya.

Namun, lanjut Bung Karno, persamaan hak saja belum cukup membuat kaum wanita mencapai kebahagiaan. Belum bisa mendapatkan sorga dalam kehidupannya. Dicontohkan di Amerika dan Eropa. Meskipun persamaan hak kaum wanita sudah tercapai, kebahagiaan tidak serta merta mengikuti.

BACA JUGA: Dibalik Patung Baru Soekarno di Blitar, Seniman Gunadi Sebut Karakter Bung Karno Paling Sulit

Soekarno mengutip dalil Henriette Roland Horst yang mengibaratkan wanita seperti seekor keledai yang menarik dua gerobak, sedangkan pria hanya satu gerobak. Wanita menjadi pekerja di kantor, pabrik atau bengkel dan juga bekerja di rumah sebagai ibu dan istri.

Soekarno mengatakan persamaan hak merupakan syarat mutlak kaum wanita menuju kebahagiaan, namun itu masih satu elemen, satu bagian. Karenanya sebagai tahapan ketiga, kaum wanita diharapkan tidak merasa puas dengan persamaan hak yang telah dicapai.

Kaum wanita harus sadar, dan bersama-sama kaum pria memperjuangkan terwujudnya masyarakat adil dan makmur. Hanya dalam masyarakat sosialis ala Indonesia wanita dapat mencapai kebahagiaannya. Kata Soekarno dalam masyarakat sosialis wanita tidak usah menarik dua gerobak.

Penulis: Solichan Arif

BACA JUGA: Kabupaten Blitar Masuk 10 Daerah Terluas Jatim, Tapi PAD Tertinggal dan artikel lainnya di Rubrik HISTORIA

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: bung karnoPerempuan IndonesiaSEJARAHsejarah indonesiasoekarno
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Bung Karno berbicara di depan ribuan wanita di Istana Negara

Soekarno: Kebahagiaan Wanita Ada dalam Masyarakat Sosialis

Ilustrasi orang tua mengunggah foto anak di media sosial yang berisiko memicu kejahatan siber

Bahaya Sharenting: Saat Foto Anak di Medsos Jadi Sasaran Penjahat Siber

Menkeu Purbaya. Foto: tangkapan layar

Momen Purbaya Kecewa Kinerja DJKN, Tak Mampu Tunjukkan Data Aset Negara

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In