• Login
Bacaini.id
Friday, October 23, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Kisah Kediri Ketika Menjadi Pasar Opium Terbesar di Jawa

ditulis oleh Solichan Arif
1 May 2024 08:54
Durasi baca: 4 menit

Mulai tahun 1860 pemerintah membuat kebijakan Pak Opium (opiumpach), yakni kesepakatan monopoli atas penjualan opium. Negara memberikan “lisensi” monopoli perdagangan opium kepada mereka yang bermufakat, yakni sebagian besar adalah orang-orang Tionghoa.

Pemegang lisensi monopoli perdagangan candu ini biasa disebut pengepak. Mereka bekerja dalam jangka waktu tertentu dengan kewenangan berdasarkan kewilayahan, seperti kota, distrik atau propinsi.

Pak Opium menjadi lembaga kunci yang menghubungkan sistem Pegawai Tionghoa dengan Pangreh Praja dan Pegawai Kolonial. Sumber pendapatan dari pajak Pak Opium adalah yang terbesar dibanding sektor-sektor ekonomi lainnya.

“Di Pulau Jawa sepanjang abad ke-19, para saudagar Tionghoa membayar mahal hak istimewa ini. Mereka memasok pajak dalam jumlah besar kepada pemerintah Belanda di pulau tersebut (Jawa),” tulis Jamesh R Rush.

Orang-orang Jawa menjadi pasar terbesar opium yang diedarkan secara legal oleh pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan sebagian besar orang-orang Tionghoa memegang lisensi  monopoli perdagangan.

P.A Daum dalam catatan Ups and Downs Of life in the Indies (1892), menulis orang-orang Belanda justru kurang menyukai opium. Mereka lebih suka gin, minuman beralkohol dari hasil fermentasi dan proses distilasi.

Orang-orang Belanda menilai opium memiliki sifat buruk sekaligus mencerminkan perilaku kelas sosial bawah. “Yang diasosiasikan dengan orang-orang blasteran yang lemah dan orang-orang jahat yang menghilang di kampung-kampung dan daerah kumuh”.

Penulis: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Page 3 of 3
Prev123
Tags: candu di kedirikediri pasar canduopiumopium jaman kolonial
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Deklarasi Yakuza Maneges Kediri.

Hari Santri, Menelusuri Peran Yakuza Maneges Mendampingi Korban Kekerasan Seksual di Pesantren

Usulan hibah pembangunan wisata religi Majelis Sabilu Taubah Gus Iqdam di Kabupaten Blitar

Sabilu Taubah Gus Iqdam Minta Hibah Rp2,3 Miliar, Kepatutannya Dipertanyakan

Kebakaran Pasar Cukir Jombang menghanguskan sekitar 30 kios dan lapak pedagang

Kebakaran Pasar Cukir Jombang, 30 Kios Ludes Saat Baru Diisi Barang Dagangan

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In