Poin Penting:
- Mohammad Trijanto menegaskan calon Ketua KONI Kota Blitar harus memiliki integritas, rekam jejak bersih, dan kemampuan mengelola anggaran publik secara akuntabel
- Pemilihan Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030 akan berlangsung pada 19 Mei 2026 dengan dua kandidat, Muh Samanhudi Anwar dan Tony Andreas
- Pemilihan kali ini disebut sebagai momentum demokrasi baru karena dinilai menjadi proses paling terbuka dan kompetitif sejak era reformasi 1998
Bacaini.ID, BLITAR – Pemilihan Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030 menjadi perhatian publik karena menyangkut integritas calon pemimpin organisasi olahraga yang mengelola dana hibah daerah dan pembinaan atlet.
Aspek integritas jadi syarat penting bagi calon Ketua KONI mengingat organisasi tersebut mengelola dana hibah daerah dan karenanya harus dipertanggungjawabkan secara transparan.
Baca Juga:
Dalam aksi massa di Kantor KONI Kota Blitar dan DPRD Senin (18/5/2026), Mohammad Trijanto, Ketua Umum Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kota Blitar sekaligus Direktur Revolutionary Law Firm menegaskan Ketua KONI harus punya integritas, kapasitas manajerial, memahami tata kelola organisasi, serta memiliki rekam jejak bersih.
“Amanah ini besar karena menyangkut pembinaan atlet sekaligus pengelolaan anggaran publik yang wajib dikelola secara profesional dan akuntabel,” tegas Trijanto Senin (18/5/2026).
Pemilihan Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030 diketahui akan dilangsungkan Selasa 19 Mei 2026. Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) telah menetapkan 2 orang calon ketua yang akan berkompetisi: Muh Samanhudi Anwar dan Tony Andreas.
Baca Juga:
- Peta Dukungan Ketua KONI Kota Blitar: Samanhudi Kantongi 23 Cabor, Tonny 10 Suara
- Moralitas vs Loyalitas di Bursa Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030, Siapa Menang?
Menurut Trijanto KONI Kota Blitar membutuhkan ketua baru yang intelektual, cerdas, bijaksana, visioner dan mampu membawa perubahan nyata. Seluruh pemilik suara yakni 38 cabor diharapkan bisa menggunakan hak pilihnya dengan objektif, cerdas dan bertanggung jawab.
Pilihan yang benar-benar mempertimbangkan rekam jejak, kapasitas kepemimpinan, integritas personal, serta visi-misi yang ditawarkan masing-masing calon. “Jangan sampai proses demokrasi ini justru tercederai oleh kepentingan sesaat. Pilihan harus didasarkan pada kualitas, bukan sekadar kedekatan atau tekanan tertentu,” katanya.
Ketua KONI terpilih juga diharapkan mampu menjadi figur pemersatu seluruh cabang olahraga. Sebab tantangan terbesar ke depan bukan hanya menjaga soliditas internal organisasi, tapi juga memastikan seluruh cabor mendapat perhatian pembinaan secara proporsional demi peningkatan prestasi atlet secara menyeluruh.
“Siapapun yang bakal memimpin kelak harus kita hormati. Namun Ketua Umum KONI baru harus mampu merangkul semua cabang olahraga untuk pembinaan atlet secara menyeluruh. Ukuran keberhasilannya jelas, yakni meningkatnya prestasi seluruh cabor, baik di tingkat regional maupun nasional,” jelasnya.
Pemilihan Ketua KONI Kota Blitar Momentum Demokrasi Baru
Adapun dinamika yang muncul menjelang pemilihan merupakan bagian penting dari proses pendewasaan demokrasi organisasi yang patut diapresiasi bersama. Trijanto berpandangan pemilihan Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030 adalah sejarah baru.
Sejak era reformasi 1998 pergantian pimpinan KONI, khususnya di Kota Blitar belum pernah melalui mekanisme pemilihan yang betul-betul terbuka, kompetitif, dan demokratis, dan baru kali ini terjadi.
“Dalam sejarah pasca reformasi 1998, belum pernah ada pergantian Ketua Umum KONI melalui proses pemilihan yang benar-benar demokratis seperti saat ini. Ini momentum yang harus dijaga bersama,” ujar Trijanto.
Adanya perbedaan pandangan dan munculnya aspirasi dari masyarakat, hingga dinamika menjelang pemilihan merupakan sesuatu yang wajar dalam sebuah sistem demokrasi. Dinamika yang ada menandakan adanya kepedulian nyata para insan olahraga terhadap masa depan pembinaan prestasi di Kota Blitar.
Juga ditegaskan pemilihan Ketua KONI bukan sekadar agenda pergantian pimpinan organisasi, melainkan momentum strategis untuk menentukan arah masa depan pembinaan olahraga dan prestasi di Kota Blitar.
“Perbedaan pendapat dalam demokrasi adalah sesuatu yang memang harus terjadi. Itu bagian dari dinamika, dialektika, harmonika, sekaligus romantika dalam sebuah organisasi. Yang terpenting tetap berjalan dalam koridor etika, rasionalitas, dan semangat membangun,” pungkasnya.
Seperti diketahui nama Mohammad Trijanto sempat masuk bursa calon Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030. Namun kemudian memilih tidak melanjutkan pencalonan karena pertimbangan padatnya aktivitas.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif





