Bacaini.ID, KEDIRI – Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus Rp17.645 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026 menjadi alarm serius bagi pemerintah. Situasi ini memaksa Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas di Istana bersama Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Senin 18 Mei 2026.
Pemerintah berusaha meredam kekhawatiran publik dengan menegaskan bahwa ekonomi Indonesia masih “baik-baik saja,” terutama karena ketahanan pangan dan energi dianggap sebagai benteng utama menghadapi gejolak global.
Namun, pelemahan rupiah tetap menimbulkan keresahan. Harga barang impor berpotensi naik, daya beli masyarakat bisa tertekan, dan investor menunggu kepastian arah kebijakan. Di sisi lain, Badan Pusat Statistik merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu. Pemerintah menyebut konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi sebagai motor penggerak.
Klaim optimisme ini tidak sepenuhnya diterima kalangan akademisi. Lembaga riset seperti LPEM, CELIOS, dan INDEF menilai angka pertumbuhan terlalu dibesar-besarkan. Menurut mereka, pertumbuhan riil lebih dekat ke 4,89 persen, dengan dorongan utama berasal dari faktor musiman seperti Ramadan, THR, dan libur panjang. Kritik ini menyoroti bahwa pertumbuhan berbasis stimulus tidak selalu berkelanjutan, apalagi jika rupiah terus tertekan.
Ketegangan antara narasi resmi pemerintah dan analisis kritis akademisi mencerminkan wajah ekonomi Indonesia saat ini. Di satu sisi ada upaya menjaga optimisme publik, di sisi lain ada realitas pelemahan kurs dan potensi inflasi yang menghantui.
Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah strategi ketahanan pangan dan energi cukup untuk menahan dampak pelemahan rupiah, atau justru diperlukan langkah lebih berani dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Penjelasan Menteri Keuangan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa tekanan terhadap kurs rupiah akan segera berkurang. “Saya pikir pertengahan minggu ini sudah mulai berkurang sentimen yang menekan rupiah. Pemerintah sudah masuk ke pasar obligasi sedikit-sedikit, asing juga mulai masuk, sehingga tekanan mestinya berkurang,” ujarnya.
Purbaya menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen sebagai bukti bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga. “Yang memberi kontribusi terbesar ke pertumbuhan adalah belanja masyarakat, artinya daya belinya masih cukup bagus. Jadi jangan khawatir,” katanya.
Dalam kesempatan lain, Purbaya juga menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak akan membawa Indonesia ke krisis seperti 1998. “Enggak perlu panik karena fondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahannya di mana dan bisa kita betulin. Kita enggak akan sejelek seperti 98 lagi,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah bersama Bank Indonesia tengah fokus menjaga stabilitas pasar obligasi agar arus modal asing tidak terus keluar. Menurutnya, jika pasar obligasi stabil, investor tidak akan terburu-buru melepas aset, bahkan berpotensi kembali masuk karena peluang capital gain. Strategi ini diharapkan mampu meredakan tekanan terhadap rupiah dan mengembalikan kepercayaan pasar.
Dengan pernyataan Purbaya, publik setidaknya mendapat sinyal bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Namun, efektivitas langkah-langkah stabilisasi kurs dan penguatan fundamental ekonomi akan menjadi ujian nyata dalam beberapa pekan ke depan.
Penulis: Hari Tri Wasono




