Bacaini.ID, JOMBANG – Nama KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam mencuat ke publik ketika polemik antara PCNU Jombang dengan PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) memanas. Ujungnya, Gus Salam dicopot dari jabatan Wakil Ketua PWNU Jatim. Kini, jelang Muktamar ke-35 NU Jombang, Gus Salam yang diidentikkan tokoh spesialis menang itu menyatakan maju sebagai kandidat Ketum PBNU, dan Gus Yahya menjadi salah satu kompetitornya.
Gus Salam Disebut Tokoh NU Spesialis Menang
Dalam sebuah konten di platform media sosial, Gus Kautsar, pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Kediri menyebut Gus Salam sebagai salah satu tokoh NU spesialis menang dalam kontestasi politik. Diungkapkan dengan nada kelakar, siapapun jago yang didukungnya selalu menang. Namun kemudian juga tak segan dilawannya ketika dianggap sudah tidak lagi sesuai. Gus Salam merespon ‘dalil’ yang disampaikan Gus Kautsar dengan tertawa.
Pengasuh Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang kelahiran 1977 tersebut merupakan cucu KH Bisri Sansuri, salah satu pendiri NU, selain KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah dan KH Faqih Maskumambang Gresik. Gus Salam masih satu dzuriyah dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Bahkan dalam tradisi genealogis Jawa, Cak Imin memanggilnya paman.
Gus Salam menjabat sebagai Katib PBNU pada kepemimpinan KH Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU) periode kedua. Kemudian pada tahun 2018 menjabat Wakil Ketua PWNU Jawa Timur. Sempat juga menjabat Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU pada kepemimpinan Gus Yahya, namun karena suatu alasan tertentu kemudian harus berhenti.
Jejak Gus Salam di NU juga ditemukan di Kediri. Pada tahun 2002 pernah menjadi pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) di Kota Kediri. Kemudian pada tahun 2012 masuk jajaran pengurus Syuriah PCNU Kabupaten Jombang. Informasi yang dihimpun Bacaini.id, Gus Salam merupakan tokoh kunci. Ibarat sepak bola, posisinya libero (playmaker).
Gus Salam Maju sebagai Kandidat Ketum PBNU
Kini, Gus Salam telah menyatakan siap maju sebagai calon Ketum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU. Ia mengklaim telah mengantongi dukungan dari tiga pesantren besar di Jawa Timur: Ponpes Denanyar Jombang, Ponpes Lirboyo Kediri dan Ponpes Al-Falah Ploso Kediri. Dalam sejarah NU, ketiga ponpes tersebut menempati posisi penting.
Gus Salam mengaku terus bersilaturahmi dengan para kiai dan ulama di berbagai daerah sebelum bertemu dengan PWNU dan PCNU se-Indonesia. Menurutnya NU besar karena barokah para kiai dan menjadi fakta konstitusi kalau NU didirikan oleh ulama pondok pesantren. “Tanpa restu dan doa mereka, kita bukan apa-apa. Ini ikhtiar agar kepemimpinan PBNU ke depan tetap berakar pada tradisi Aswaja dan pesantren,” kata Gus Salam.
Seperti diketahui, saat ini telah muncul sejumlah nama sebagai kandidat Ketum PBNU 2026-2031 dalam Muktamar ke-35 NU. Di antaranya KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), KH Imam Jazuli, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang merupakan satu-satunya calon petahana.
Sementara saat mengunjungi Jombang belum lama ini, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, putri Gus Dur, berharap Muktamar ke-35 NU bisa menjadi momentum untuk tata kelola organisasi yang lebih sehat, solid dan inklusif. Sebab bukan ajang kontestasi pragmatis untuk berebut kekuasaan.
“Jangan sampai muktamar hanya menghasilkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang lebih penting adalah bagaimana setelah muktamar seluruh warga NU bisa kembali berjalan bersama,” ujar Yenny Wahid kepada wartawan (19/8/2026).
Yenny Wahid mengingatkan kepada seluruh elemen pengurus dan peserta muktamar untuk tidak terjebak dalam kontestasi pragmatis perebutan kekuasaan. Siapapun yang terpilih memimpin PBNU memiliki beban dan pekerjaan rumah besar untuk merangkul kembali seluruh kelompok.
“Siapa pun yang akan memenangkan, akan terpilih, maka kewajiban utamanya adalah menyatukan seluruh faksi yang sekarang terlibat dalam pertikaian,” kata Yenny. (sa/edt)




