Bacaini.ID, JOMBANG – Muncul empat nama yang dispekulasikan sebagai kandidat terkuat Ketua Umum (Ketum) PBNU periode 2026-2031 di Muktamar ke-35 NU. Lantas siapa di antara empat nama tersebut yang paling tulus ngopeni umat nahdliyin yang diklaim berjumlah 160 juta jiwa itu? KH Imam Jazuli? KH Yusuf Chudlori? KH Abdul Hakim Mahfudz? Atau KH Yahya Cholil Staquf?
Berikut profil singkatnya.
KH Imam Jazuli, Kandidat Independen dan Gagasan Transformasi Pesantren
Lahir di Cirebon 17 November 1976, pernah nyantri di Ponpes Lirboyo Kediri, pernah mengenyam pendidikan Universitas Al-Azhar Mesir dan Unversitas Malaya, KH Imam Jazuli dikenal sebagai pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia. Sosoknya sering muncul di media sosial dan media mainstream. Terutama ketika terjadi polemik di PBNU.
‘Klaimnya’ yang berkembang jelang muktamar adalah kandidat independen dan pemimpin transformatif abad kedua NU. Gagasan yang ditawarkan transformasi pesantren dan peningkatan kualitas sumber daya santri. Kiai Imam Jazuli membawa agenda besar Persatuan NU, penguatan kembali marwah dan otoritas ulama, serta transformasi pesantren.
Gus Yusuf, Mantan Politisi PKB yang Masuk Bursa Ketum PBNU
Yang kedua adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori atau dikenal dengan panggilan Gus Yusuf. Lahir 9 Juli 1973, Gus Yusuf merupakan pengasuh Ponpes API Tegalrejo Magelang Jawa Tengah, yang juga pernah nyantri di Ponpes Lirboyo Kediri. Sebelum muncul di bursa calon Ketum PBNU, namanya lebih dikenal sebagai politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Gus Yusuf belum lama mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPW PKB Jawa Tengah. Pemulihan marwah organisasi, memperkuat soliditas internal, membenahi tata kelola serta pengembangan pendidikan pesantren dan pemberdayaan ekonomi umat jadi visi yang ditawarkannya dalam Muktamar ke-35 NU.
Gus Kikin, Pengasuh Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur
Nama calon Ketum PBNU ketiga adalah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin yang saat ini menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Timur. Sebagai cicit KH Hasyim As’yari dan sekaligus pengasuh Ponpes Tebuireng, Gus Kikin sejak awal menawarkan gagasan Qanun Asasi Mbah Hasyim sebagai rujukan fundamental dalam kehidupan organisasi NU.
Namun sejumlah suara di NU berpandangan Gus Kikin lebih pas menduduki posisi Syuriah PBNU ketimbang Tanfidziah. Pandangan yang dilontarkan melalui platform media sosial tersebut saat ini tengah menjadi polemik yang cukup panas.
Gus Yahya, Kandidat Petahana Ketum PBNU
Kandidat keempat adalah KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang merupakan satu-satunya kandidat petahana. Rekam jejak kesantriannya adalah alumnus PP Al-Munawwir Krapyak dan juga pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin Rembang Jawa Tengah.
Mantan jubir Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini dinilai sebagian kalangan sebagai figur yang bisa membawa modernisasi bagi NU sekaligus membuka ruang baru di tingkat global. Kendati demikian ada yang menyebut kepemimpinannya saat ini belum berhasil.
Saat berkunjung ke Jombang Gus Yahya mengaku bahagia Muktamar ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Tambakberas. Ia menegaskan maju kembali sebagai kandidat karena masih berhutang tanggungjawab atau program yang selama memimpin belum terealisasi.
“Saya sangat bahagia bahwa tercapai keputusan pelaksanaan muktamar NU di pesantren Tambakberas Jombang,” kata Gus Yahya saat kunjungan ke Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Minggu 12 Juli 2026 lalu.
Tantangan Ketum PBNU: Kekerasan Seksual hingga Ekonomi Umat
Salah satu problem yang menarik perhatian publik adalah maraknya kasus kekerasan di lingkungan pondok pesantren, baik itu kekerasan fisik maupun seksual. Banyak kalangan meyakini kasus yang muncul di permukaan saat ini adalah fenomena gunung es.
Berdasarkan data Pusat Pengkajian Islam & Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, terdapat 43.497 santri berpotensi rentan terhadap kekerasan seksual. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyebut 20 persen dari 573 korban kekerasan seksual berasal dari pondok pesantren.
Pada tahun 2025 jumlah korban diduga meningkat. Kasus yang terjadi di berbagai daerah tersebut sedikit banyak mempengaruhi pandangan sosial terhadap lingkungan pesantren, dan itu sekaligus membentuk sentimen negatif.
Situasi diperparah dengan tidak sedikit keluarga pesantren memperlihatkan kegemarannya ‘flexing’, mempertontonkan kehidupan hedon di media sosial. Termasuk adanya sejumlah tokoh berlatar belakang pondok pesantren yang terseret kasus korupsi.
Sementara pada saat yang sama kondisi perekonomian umat sedang tidak baik-baik. Karenanya yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang betul-betul tulus ngopeni umat, bukan sekedar pintar ndakik-ndakik bicara konsep tapi minim implementasi. (sa/edt)




