• Login
Bacaini.id
Monday, August 17, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Mental Londo Ireng di Balik Penolakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Jejak mental londo ireng terlihat di kalangan priyayi birokrat yang menolak Proklamasi Kemerdekaan

ditulis oleh Solichan Arif
16 August 2026 22:13
Durasi baca: 3 menit
Mental londo ireng dan priyayi birokrat yang menolak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Ilustrasi priyayi birokrat dan gejolak politik setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Reporter: Solichan Arif | Editor: Editor

Mental londo ireng itu banyak datang dari kalangan priyayi birokrat yang sejak awal menolak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan Soekarno-Hatta

Bacaini.ID, KEDIRI — Salah satu orang Jawa yang menolak Proklamasi Kemerdekaan yang dikumandangkan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 adalah Mr Mas Slamet, seorang priyayi birokrat. Mental ‘londo irengnya’ datang dari posisinya sebagai pejabat Ajun Pemeriksa Keuangan di Kantor Keuangan Jakarta era Kolonial Belanda.

Baca Juga: 81 Tahun Indonesia Merdeka (dari Londo Ireng)

Dilaporkan oleh Pewarta Deli edisi 21 Januari 1946, bagaimana Mas Slamet blak-blakan mengungkapkan penolakannya pada kemerdekaan. Mengatakan akan hijrah ke negeri Belanda kalau Indonesia tetap merdeka. Mas Slamet beralasan kehidupannya jadi maju karena pemerintah Kolonial Belanda.

Pewarta Deli juga menuliskan, karena pernyataannya yang melawan arus revolusi, priyayi bermental londo ireng tersebut diculik oleh pejuang republik dan dikurung selama dua bulan.

Sejarawan M. C Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 menyebut banyak raja dan kaum ningrat yang tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Mereka didukung dan mendapatkan kekayaan dari Pemerintah Kolonial Belanda.

Sementara bagi para pejuang republik, semua yang kontra Proklamasi Kemerdekaan adalah penghalang revolusi Agustus 1945. Mereka pun bergerak ke daerah-daerah. Didapati banyak pangreh praja mulai kepala desa hingga bupati, masih mengibarkan bendera Jepang hinomaru.

Baca Juga: Mengukur Demokrasi Indonesia Dengan ‘Londo Ireng’

Para priyayi birokrat ini juga terungkap sengaja tidak mengumumkan kabar Proklamasi Kemerdekaan kepada rakyat. Salah satunya di wilayah eks Karsidenan Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur. Sikap itu membuat marah para pejuang.

“Para pegawai pangreh praja dinilai warisan pemerintah Belanda, sehingga ada gerakan anti mereka,” demikian dikutip dari buku Bodjonegoro Tempo Doeloe.

Situasi yang sama juga ditemukan di wilayah Brebes, Pemalang, dan Tegal (Karsidenan Pekalongan), Jawa Tengah. Kebencian para pejuang yang disokong kemarahan rakyat melahirkan gerakan revolusi sosial. Sejumlahpangreh praja ditangkap, diseret dan diadili melalui pengadilan rakyat.

Para priyayi birokrat yang melawan dihabisi. Aset-aset pemerintahan dan pribadi yang dimiliki disita dan diduduki. Surat kabar Asia Raya menurunkan laporan perang telah berakhir namun pangreh praja tetap kukuh menunggu pengumuman resmi dari atasan. 

“Sikapnya (Pangreh praja) menantikan pengumuman resmi atasan itu membuat kebingungan dan keragu-raguannya menghadapi proklamasi,” demikian dikutip dalam Peristiwa Tiga Daerah, Revolusi Dalam Revolusi.

Baca Juga: Saat Indonesia Merdeka, 107 Orang Indonesia Justru Terlantar di Jepang

Bupati Brebes Sarimin mengatakan, kemerdekaan memang hal yang masuk akal, tetapi Proklamasi tidak pernah terbayang dalam benak mereka. Baginya hal yang aneh suatu negara begitu mudah menyatakan proklamasi kemerdekaannya.

Di Brebes, sejumlah pedagang Cina lebih percaya kemerdekaan tidak akan terjadi. Sedangkan orang-orang Arab mendukung sikap bupati yang terang-terangan mengatakan orang Jawa belum mampu memerintah dirinya sendiri.

Pro kontra Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terus berlangsung hingga tahun 1946. Chaos terjadi di wilayah Bojonegoro dan Tuban. Banyak pangreh praja yang mengungsi, berusaha menyelamatkan diri dari amukan rakyat yang marah.

Kekacauan sosial yang terjadi memaksa residen Bojonegoro turun tangan. Setelah melalui koordinasi dengan pimpinan KNI, struktur pemerintahan mulai bupati, wedana dan camat diubah dengan mekanisme pemilihan. Sebutan residen diganti komisaris.

Gejolak anti pangreh praja di Bojonegoro dan Tuban akhirnya berhasil diredam oleh Residen RMTA Suryo setelah mengumumkan berdirinya Pemerintah Republik Indonesia di Bojonegoro. (sa/edt)

Google News Lihat Berita Bacaini.id di Google News
Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: 17 Agustus 1945londo irengpangreh prajapriyayiproklamasi kemerdekaansejarah indonesia
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Mental londo ireng dan priyayi birokrat yang menolak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Mental Londo Ireng di Balik Penolakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Gus Yahya menanggapi wacana AHWA menggantikan voting Ketum PBNU

Wacana AHWA Gantikan Voting Ketum PBNU, Begini Tanggapan Gus Yahya

Gus Yahya bakal calon Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU Jombang

Gus Yahya dan Beban Isu di Muktamar ke-35 NU

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In