• Login
Bacaini.id
Tuesday, July 28, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Mengukur Demokrasi Indonesia Dengan ‘Londo Ireng’

ditulis oleh Redaksi
28 July 2026 17:07
Durasi baca: 3 menit
Ilustrasi by AI

Ilustrasi by AI

Pidato Presiden Prabowo Subianto di Harlah PKB baru-baru ini mengangkat kembali istilah ‘Londo Ireng’, sebutan lama yang kini diberi makna baru. Presiden mengaitkannya dengan segelintir oknum wartawan, pengamat, dan LSM yang dianggap lebih senang mengabdi pada kepentingan asing ketimbang kepentingan nasional.

Sindiran itu muncul karena Prabowo merasa sebagian media dan pengamat terlalu rajin menebar pesimisme. Indonesia digambarkan seolah akan kolaps, capaian pemerintah dianggap remeh, sementara kekurangan terus diperbesar.

Istilah Londo Ireng sendiri lahir dari masa kolonial, yang merujuk pada orang pribumi yang berperilaku seperti ‘Londo’ (Belanda), tetapi berkulit ‘Ireng’ (hitam atau sawo matang). Dalam praktiknya, istilah ini menjadi sindiran bagi mereka yang dianggap lebih berpihak pada kepentingan kolonial daripada kepentingan bangsanya sendiri.

Dengan kata lain, Londo Ireng adalah simbol pengkhianatan identitas. Tubuhnya Indonesia, tetapi pikirannya tunduk pada kepentingan asing.

Prabowo mengingatkan bahwa fenomena serupa masih ada, meski dalam bentuk berbeda. Bukan lagi soal kolonial Belanda, melainkan soal segelintir pihak yang lebih senang menyoroti kelemahan bangsa sendiri dan menggaungkan narasi pesimistis, seakan Indonesia tidak pernah mampu berdiri tegak.

baca ini:

  • Viral Turis Italia Arogan, Alarm Neo Kolonialisme Bangkit?
  • Tren Hastag Kaburajadulu, Warga Asing Justru Berebut Jadi WNI

Di titik ini, kita perlu jujur mengakui bahwa memang ada oknum di dunia jurnalisme, pengamat, maupun LSM yang bekerja tidak profesional. Mereka lebih sibuk mencari-cari kesalahan pemerintah tanpa memberi ruang pada pencapaian yang nyata.

Kritik yang demikian, alih-alih membangun, justru bisa menimbulkan kesan bahwa bangsa ini tidak pernah maju. Padahal, publik membutuhkan keseimbangan, kritik yang tajam, tetapi juga apresiasi yang jernih.

Kritik adalah bagian vital dari demokrasi. Tanpa kritik, pemerintah bisa terjebak dalam zona nyaman. Tetapi agar kritik bisa diterima dengan lapang, para pengkritik juga harus siap menerima koreksi. Jika pemerintah tidak boleh anti kritik, maka wartawan, pengamat, dan LSM pun tidak boleh anti kritik ketika mendapat sindiran balik, seperti istilah Londo Ireng yang dilontarkan Presiden.

Demokrasi yang sehat menuntut keterbukaan dua arah; pemerintah siap dikritik, pengkritik pun siap bercermin.

Wartawan dituntut obyektif, pengamat dituntut jernih, LSM dituntut berpihak pada kepentingan rakyat. Sebab, kritik yang membangun akan membuat bangsa ini semakin kuat. Sementara kritik yang hanya mencari kesalahan akan membuat publik jenuh dan kehilangan kepercayaan.

Kita bisa belajar dari sejarah, bahwa bangsa ini pernah berdiri tegak karena ada pers yang berani, pengamat yang kritis, dan LSM yang vokal. Tetapi keberanian itu selalu berpijak pada kepentingan nasional, bukan kepentingan asing.

Maka, ketika Presiden mengingatkan soal Londo Ireng, pesan yang bisa kita tangkap adalah ajakan untuk kembali ke akar. Kritiklah pemerintah, tetapi dengan niat memperbaiki, bukan sekadar menjatuhkan.

Demokrasi bukan soal siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling jujur berpihak pada bangsa. Sindiran Londo Ireng seharusnya tidak dilihat sebagai serangan, melainkan sebagai cermin. Apakah kita sudah benar-benar bekerja untuk Indonesia, atau tanpa sadar menjadi corong kepentingan lain? Pertanyaan itu layak direnungkan, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh para pengkritiknya.

Penulis: Hari Tri Wasono


Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: antek asinglondo irengPrabowo Subianto
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi by AI

Mengukur Demokrasi Indonesia Dengan ‘Londo Ireng’

Infografis Bahasa Jawa masuk lima besar bahasa non-nasional terbesar di dunia dengan 68 juta penutur menurut SeasiaStats

Bahasa Jawa Masuk 5 Besar Bahasa Daerah Terbesar di Dunia

Viral turis Italia menghina warga Thailand di BTS Bangkok memicu perdebatan soal arogansi wisatawan asing

Viral Turis Italia Arogan, Alarm Neo Kolonialisme Bangkit?

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In