Poin Penting:
- Soekarno menyatakan kebahagiaan perempuan hanya dapat dicapai dalam masyarakat yang adil dan makmur, bukan semata melalui persamaan hak dengan laki-laki
- Bung Karno membagi perjuangan perempuan Indonesia menjadi tiga tahap, yakni meningkatkan derajat kaum wanita, memperjuangkan persamaan hak, dan membangun masyarakat berkeadilan sosial
- Pidato yang disampaikan pada 15 April 1953 di Istana Negara menunjukkan pandangan Soekarno bahwa emansipasi perempuan harus berjalan seiring dengan perjuangan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Bacaini.ID, JAKARTA – Pidato Presiden Soekarno pada 15 April 1953 memuat pandangan menarik mengenai perjuangan perempuan Indonesia. Di hadapan ribuan wanita Jakarta Raya di Istana Negara, Bung Karno menyampaikan bahwa persamaan hak belum cukup membawa kebahagiaan. Menurutnya, perempuan hanya dapat mencapai kebahagiaan di dalam masyarakat yang adil dan makmur. Masyarakat sosialis.
Bung Karno berbicara di depan 3000 massa wanita Jakarta Raya. Kebahagiaan wanita ditegaskannya hanya bisa dicapai di dalam masyarakat adil dan makmur, dan itu di dalam masyarakat sosialis. “Hanya dalam masyarakat adil dan makmur, hanya dalam masyarakat sosialis, wanita dapat mencapai kebahagiaan,” kata Bung Karno dalam pidatonya seperti dikutip dari majalah Api Kartini edisi tahun pertama No 1 Tahun 1959.
BACA JUGA: Lawatan ke Semarang, ‘Mekkahnya’ Kaum Merah dan Jejak Semaun
Ada tiga tingkatan perjuangan wanita Indonesia. Pertama, kata Bung Karno adalah fase perjuangan wanita mengangkat kaumnya dari segala keterbelakangan. Surat-surat R.A. Kartini dalam ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ jadi rujukan.
Pada masa itu gerakan yang diperjuangkan adalah penyempurnaan kewanitaan, seperti mengejar berbagai pengetahuan di dalam kehidupan rumah tangga. Kedua, Bung Karno menyebut fase tingkatan kaum wanita mengejar hak sama dengan kaum pria.
Digambarkan bagaimana dalam pertemuan antara wanita dan lelaki, kaum lelaki merasa lebih bercakrawala (berpengetahuan) ketimbang kaum wanita, dan karenanya kaum wanita harus berjuang menyetarakannya.
Namun, lanjut Bung Karno, persamaan hak saja belum cukup membuat kaum wanita mencapai kebahagiaan. Belum bisa mendapatkan sorga dalam kehidupannya. Dicontohkan di Amerika dan Eropa. Meskipun persamaan hak kaum wanita sudah tercapai, kebahagiaan tidak serta merta mengikuti.
BACA JUGA: Dibalik Patung Baru Soekarno di Blitar, Seniman Gunadi Sebut Karakter Bung Karno Paling Sulit
Soekarno mengutip dalil Henriette Roland Horst yang mengibaratkan wanita seperti seekor keledai yang menarik dua gerobak, sedangkan pria hanya satu gerobak. Wanita menjadi pekerja di kantor, pabrik atau bengkel dan juga bekerja di rumah sebagai ibu dan istri.
Soekarno mengatakan persamaan hak merupakan syarat mutlak kaum wanita menuju kebahagiaan, namun itu masih satu elemen, satu bagian. Karenanya sebagai tahapan ketiga, kaum wanita diharapkan tidak merasa puas dengan persamaan hak yang telah dicapai.
Kaum wanita harus sadar, dan bersama-sama kaum pria memperjuangkan terwujudnya masyarakat adil dan makmur. Hanya dalam masyarakat sosialis ala Indonesia wanita dapat mencapai kebahagiaannya. Kata Soekarno dalam masyarakat sosialis wanita tidak usah menarik dua gerobak.
Penulis: Solichan Arif
BACA JUGA: Kabupaten Blitar Masuk 10 Daerah Terluas Jatim, Tapi PAD Tertinggal dan artikel lainnya di Rubrik HISTORIA




