Poin Penting:
- Teror pocong viral di media sosial diduga sebagian merupakan modus pencurian, namun memicu kembali pembahasan soal asal usul hantu pocong
- Pocong lahir dari perpaduan tradisi pemakaman Islam dan kepercayaan lokal Nusantara tentang arwah gentayangan
- Berbeda dengan genderuwo atau wewe gombel, pocong disebut sebagai “hantu baru” yang populer di era modern melalui film, televisi, dan media sosial
Bacaini.ID, KEDIRI – Fenomena teror pocong yang viral di berbagai daerah Indonesia kembali menyita perhatian publik. Dari video CCTV buram, aksi kejar-kejaran warga, hingga dugaan modus pencurian berkedok hantu, kisah pocong kembali hidup di tengah masyarakat. Namun di balik teror tersebut, pocong ternyata menyimpan sejarah budaya yang unik dan hanya berkembang di Indonesia.
Baca Juga:
Jika merunut pada time line sejarah mistis Nusantara, pocong sebenarnya ‘pemain baru’ dalam dunia perhantuan Indonesia. Berbeda dengan Genderuwo, Wewe Gombel, atau Tuyul yang sudah lama dikenal sejak pra Hindu-Buddha. Fenomena pocong baru muncul setelah syariat Islam dan tradisi pemakaman dengan kain kafan mengakar di Indonesia.
Asal Usul Pocong dari Tradisi Pemakaman Islam
Pocong memiliki hubungan erat dengan proses pemakaman muslim. Dalam tradisi Islam, jenazah dibungkus kain kafan putih sebelum dimakamkan. Kain tersebut memiliki beberapa ikatan di bagian tertentu seperti kepala, leher dan kaki. Dari sinilah visual pocong berasal.
Baca Juga:
- Teror Pocong, Hoaks yang Menjadi Modus Kriminal
- Harga Diri, Marwah dan Kehormatan KONI Kota Blitar: Untuk Olahraga atau Politik?
Berkembang kepercayaan bahwa jika tali kafan jenazah tidak dilepas saat proses penguburan, arwah orang yang meninggal tersebut ‘terikat’ dan menjadi gentayangan. Keyakinan ini berkembang sebagai folklor atau kepercayaan masyarakat lokal.
Inilah mengapa, meskipun pocong tercipta dari pengaruh hukum pemakaman Islam, konsep pocong sebagai hantu, tidak ditemukan di negara-negara Timur Tengah yang memiliki tradisi Islam kuat. Pocong murni lahir dari kebudayaan Indonesia.
Pocong merupakan produk sinkretisme. Ketika tradisi Islam masuk, masyarakat lokal Nusantara mengadopsi visualisasi pemakaman baru tersebut dan mengawinkannya dengan kepercayaan primordial tentang roh penasaran.
Pocong Jadi Hantu Khas Era Modern Indonesia
Jika dibandingkan dengan makhluk mistis dalam tradisi Nusantara kuno, pocong merupakan ‘pendatang baru’ yang populer di era modern. Hantu pocong, berkembang setelah Islam menyebar luas di Nusantara, sejak abad ke-15 hingga ke-19.
Sejumlah antropolog budaya menilai pocong sebagai percampuran antara tradisi Islam dan budaya lokal Indonesia. Ritual pemakaman Islam memberi bentuk visual, sementara budaya tutur masyarakat membangun cerita-cerita mistis di sekitarnya.
Popularitas pocong justru melesat di era modern, ketika media massa mulai berkembang. Pocong menjadi jenis ‘hantu baru’ yang memberi sensasi horor tersendiri yang lekat di pikiran masyarakat. Bentuk hantu, yang secara visual bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari saat ada kematian atau prosesi pemakaman.
Hantu pocong menjadi produk industri hiburan seperti film atau sinetron horor, menjadi karakter hantu untuk kebutuhan konten YouTube maupun konten horor televisi, bahkan menjadi karakter dalam game.
Dan kini, visual hantu pocong bahkan dipakai sebagai aksi teror di masyarakat untuk menimbulkan ketakutan tertentu, meskipun upaya ini bisa dikatakan gagal.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





