Poin Penting:
- BPS 2025 mencatat 77,55% masyarakat Indonesia membaca kitab suci, menjadikannya jenis bacaan paling populer
- Pembaca buku pengetahuan hanya 24,42%, menunjukkan rendahnya minat membaca untuk pengembangan ilmu di luar pendidikan formal
- Media cetak terus mengalami penurunan pembaca, sementara literasi digital melalui iPusnas, Indonesia OneSearch, dan BookTok berkembang pesat
Bacaini.ID, KEDIRI – Masyarakat Indonesia lebih menyukai membaca kitab suci ketimbang buku ilmu pengetahuan. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) pada pola kegemaran membaca tahun 2025 menyebut kelompok Kitab Suci menempati posisi puncak sebagai jenis bacaan paling populer.
Disebutkan 77,55% masyarakat Indonesia membaca kitab suci, dan hanya 24,42% yang membaca buku pengetahuan. Berikut rinciannya berdasarkan data BPS: Bacaan Paling Populer Masyarakat Indonesia 2025.
• Kitab Suci, 77,55%
• Buku Pengetahuan, 24,42%
• Buku Pelajaran Sekolah, 20,55%
• Buku Cerita (Fiksi), 13,96%
• Koran, 13,27%
• Majalah / Tabloid, 3,77%
• Lainnya, 20,78%
BACA JUGA: Tips Bikin Anak Menggemari Buku sebagai Hobi yang Asyik
Tingginya angka pembaca kitab suci yang mencapai 77,55% merepresentasikan karakteristik sosiologis masyarakat Indonesia yang memiliki tingkat religiositas tinggi. Membaca Kitab Suci (seperti Al-Qur’an, Alkitab, Weda, atau Tripitaka) mayoritas diposisikan sebagai pemenuhan kewajiban ibadah harian atau kegiatan spiritual rutin.
Namun, tingginya angka pada sektor keagamaan ini menciptakan jarak yang sangat lebar dengan buku-buku yang bersifat literasi fungsional atau pengembangan diri. Kategori bacaan yang membutuhkan pemahaman konsep atau penalaran kritis, angka persentase pembaca menurun drastis.
Masyarakat yang membaca Buku Pengetahuan tercatat hanya 24,42%, diikuti oleh Buku Pelajaran Sekolah di angka 20,55%. Penurunan ini mengindikasikan bahwa minat membaca mandiri untuk tujuan penyerapan informasi sains, teknologi, dan pengetahuan umum di luar kegiatan keagamaan dan sekolah formal masih tergolong rendah.
Media Cetak Kian Ditinggalkan Pembaca
Data ini juga menangkap potret nyata kemunduran industri media informasi berbasis cetak konvensional. Kategori Majalah atau Tabloid kini berada di angka paling kritis, yaitu hanya menyisakan 3,77% pembaca. Fenomena ini sejalan dengan banyaknya penerbitan media cetak mingguan atau bulanan yang telah berhenti beroperasi.
Sementara di saat sama media Koran masih mampu menjaring 13,27% pembaca. Angka ini diprediksi merupakan sisa konsumsi dari generasi tua serta pemenuhan kebutuhan pengadaan koran fisik yang sifatnya institusional, seperti di kantor-kantor pemerintahan, fasilitas publik, atau korporasi. Di sisi lain, rendahnya angka Buku Cerita atau Fiksi yang hanya berada di angka 13,96% memperlihatkan adanya kemungkinan celah metodologi survei.
Instrumen pendataan masih dominan menghitung peredaran buku fisik. Akibatnya, aktivitas membaca secara digital yang kini marak dilakukan oleh generasi muda melalui platform aplikasi novel daring belum sepenuhnya terakumulasi secara akurat ke dalam data makro ini. Begitupun dengan koran yang sebagian besar telah beralih menjadi digital, dan masyarakat lebih memilih untuk membaca secara daring daripada membeli koran fisik.
Dalam laporan Perpusnas, tercatat adanya lebih dari 30 juta akses daring melalui platform literasi digital seperti aplikasi iPusnas dan Indonesia OneSearch. Gerakan komunitas seperti BookTok di TikTok juga sangat masif memicu antusiasme membaca buku fiksi dan sastra di kalangan Generasi Z.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Ironi, Putra Sayuti Melik dan Cucu KH Agus Salim Hidup Kekurangan dan artikel lainnya di rubrik HISTORIA




