• Login
Bacaini.id
Tuesday, May 26, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Paus Leo Minta Maaf atas Perbudakan, Vatikan Akui Keterlibatan Historis Gereja Katolik

Pengakuan eksplisit Paus Leo dalam ensiklik perdana dinilai menjadi titik balik sejarah Gereja Katolik terhadap warisan kelam perbudakan

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
26 May 2026 21:35
Durasi baca: 3 menit
Paus Leo menyampaikan pengakuan dan permintaan maaf Vatikan atas keterlibatan historis Gereja Katolik dalam praktik perbudakan

Paus Leo melalui ensiklik “Magnifica Humanitas” mengakui keterlibatan historis Gereja Katolik dalam praktik perbudakan (foto/ist)

Poin Penting:

  • Paus Leo meminta maaf secara eksplisit atas keterlibatan historis Gereja Katolik dalam praktik perbudakan
  • Ensiklik “Magnifica Humanitas” mengakui Vatikan terlambat mengecam perbudakan secara universal hingga abad ke-19
  • Dokumen tersebut juga menyoroti ancaman AI dan eksploitasi ekonomi modern sebagai bentuk “perbudakan gaya baru”

Bacaini.ID, VATIKAN – Paus Leo mencatat sejarah baru di tubuh Gereja Katolik setelah secara terbuka meminta maaf atas keterlibatan historis Vatikan dalam praktik perbudakan, sekaligus mengakui Gereja terlambat mengecam sistem penindasan tersebut secara menyeluruh.

Baca Juga:

  • Tudingan Budak Jepang di Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan

Dikutip dari Reuters, pengakuan berani ini dituangkan dalam bagian krusial dari ensiklik kepausan pertamanya yang bertajuk ‘Magnifica Humanitas’ (Kemanusiaan yang Agung). Dalam manifesto tersebut, Paus Leo merefleksikan bagaimana Gereja Katolik membutuhkan waktu berabad-abad untuk sepenuhnya menyadari bahwa ‘bencana perbudakan’ adalah pelanggaran nyata  martabat manusia.

Ia menyebut warisan kelam ini sebagai sebuah ‘luka dalam ingatan umat Kristen’ dan secara tulus memohon pengampunan atas nama Gereja, dibarengi rasa kesedihan yang mendalam atas penderitaan tanpa peri kemanusiaan yang dialami oleh orang-orang yang diperbudak.

Pernyataan Paus Leo kali ini dianggap sebagai titik balik besar karena ia tidak lagi menggunakan diplomasi bahasa yang normatif. Secara berani, ia mengakui bahwa otoritas Gereja di masa lalu kerap tunduk pada kemauan para penguasa politik dengan menerbitkan regulasi yang melegitimasi berbagai bentuk penindasan, termasuk perbudakan terhadap kaum non-Kristen.

Baca Juga:

  • Samanhudi Anwar Akan Mundur Saat Pelantikan Ketua KONI Kota Blitar
  • Ajudan Bupati Jombang dan Oknum PNS Dilaporkan Memeras dan Sekap Warga

Bahkan, jauh sebelum era modern, tepatnya pada Abad Pertengahan, berbagai lembaga internal gerejawi secara aktif memiliki dan mempekerjakan budak mereka sendiri. Paus Leo menjelaskan bahwa Gereja baru benar-benar mencapai konsensus ‘kecaman formal, absolut, dan universal’ terhadap perbudakan pada abad ke-19 di bawah kepemimpinan Paus Leo XIII, setelah melewati periode panjang yang penuh dengan ketidakkonsistenan antara ajaran teologis dan praktik di lapangan.

Langkah Paus Leo ini dianggap melangkah jauh lebih kedepan daripada para pendahulunya yang cenderung mengatribusikan kesalahan perbudakan pada ‘oknum’ individu, bukan institusi Vatikan itu sendiri. Sebagai perbandingan, Paus Yohanes Paulus II saat berkunjung ke Afrika pada tahun 1985 membatasi kesalahan pada tindakan ‘orang-orang dari negara Kristen’.

Sementara Paus Fransiskus memang telah mengutuk perbudakan modern dan menolak dokumen kepausan abad ke-15 yang dipakai penjajah untuk melegitimasi kolonialisme, namun ia tetap membingkainya dalam konteks situasi historis zaman dulu dan tindakan umat secara luas.

Melalui ensiklik terbaru ini, Paus Leo secara eksplisit menggeser fokus tersebut dengan mengakui langsung tanggung jawab institusional kepausan. Latar belakang personal Paus Leo diyakini memberikan pengaruh besar terhadap kepekaannya dalam isu ini.

Sebagai Paus pertama dalam sejarah yang lahir di Amerika Serikat, penelitian silsilah yang dirilis setelah pemilihannya tahun lalu mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa garis keturunannya sangat beragam, mencakup leluhur yang merupakan korban perbudakan sekaligus mereka yang menjadi pemilik budak. Ikatan darah yang kompleks ini tampaknya membawa perspektif rekonsiliasi yang kuat dalam masa kepausannya.

Dokumen ‘Magnifica Humanitas’ tidak hanya terjebak pada pembahasan masa lalu. Melalui ensiklik ini, Paus Leo justru mengaitkan esensi kemanusiaan dengan masa depan. Paus Leo memanfaatkan momen tersebut untuk menyoroti tantangan etika kontemporer, termasuk regulasi seputar Kecerdasan Buatan (AI) agar teknologi tidak menjadi alat baru untuk merendahkan martabat manusia, sekaligus memperingatkan dunia tentang munculnya ‘bentuk perbudakan gaya baru’ di era eksploitasi ekonomi global saat ini.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: gereja katolikPaus LeoperbudakanVatikan
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Paus Leo menyampaikan pengakuan dan permintaan maaf Vatikan atas keterlibatan historis Gereja Katolik dalam praktik perbudakan

Paus Leo Minta Maaf atas Perbudakan, Vatikan Akui Keterlibatan Historis Gereja Katolik

Sutopo bersama kuasa hukumnya, Faris Trihatmoyo. Bacaini/Syailendra

Ajudan Bupati Jombang dan Oknum PNS Dilaporkan Memeras dan Sekap Warga

Komarudin Resmi Dilantik Jadi Anggota DPRD Trenggalek Lewat PAW

  • Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin menjelaskan skema dana hibah KONI Kota Blitar

    Sinyal Tegas Wali Kota Blitar soal Dana Hibah KONI, Problem Hukum Samanhudi Jadi Kajian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Samanhudi Anwar Akan Mundur Saat Pelantikan Ketua KONI Kota Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Teror Pocong Masuk Jawa Timur, Mengingatkan Publik pada Ninja hingga Kolor Ijo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In