Bacaini.ID, PRANCIS – Seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun ditemukan hidup dalam kondisi mengenaskan setelah diduga dikurung oleh ayahnya sendiri selama dua tahun di dalam sebuah mobil van
Saat ini bocah tersebut menjalani perawatan di rumah sakit dan sang ayah telah ditahan oleh pihak berwenang. Kasus menghebohkan ini terjadi di Desa Hagenbach, wilayah timur Prancis yang berbatasan dengan Swiss dan Jerman.
Laporan CBS News menyebut pengungkapan kasus ini berawal dari laporan seorang tetangga ke kepolisian setelah mendengar suara anak dari dalam mobil van pada Senin 6 April 2026 waktu setempat.
Polisi mendatangi lokasi pada Sabtu (11/4) dan memutuskan membuka paksa pintu van. Di dalam mobil mereka menemukan seorang anak laki-laki dalam kondisi memprihatinkan.
Bocah ini berbaring dengan posisi meringkuk tanpa pakaian, hanya tertutup selimut. Ia berada di atas tumpukan sampah, berdekatan dengan kotorannya sendiri. Kondisinya sangat lemah dan mengalami kekurangan gizi berat.
Menurut keterangan jaksa, anak tersebut bahkan sudah tidak mampu berjalan lagi karena terlalu lama berada dalam posisi duduk di ruang sempit. Ia diduga hidup di dalam mobil van sejak November 2024, ketika usianya masih 7 tahun.
Di depan penyidik, ayah si bocah yang berusia 43 tahun mengaku mengurung anaknya di dalam mobil van dengan alasan ingin ‘melindungi’ sang anak. Ia berdalih karena pasangannya yang berusia 37 tahun ingin mengirim sang anak ke rumah sakit jiwa.
Dalam pemeriksaan jaksa menyatakan tidak ditemukan catatan medis yang menunjukkan anak tersebut memiliki gangguan kejiwaan. Laporan dari sekolah juga menunjukkan nilai akademik yang baik.
Kepada petugas bocah tersebut mengaku menghadapi masalah besar dalam hubungannya dengan pasangan ayahnya. Ia bahkan mengatakan kepada penyidik ayahnya sepertinya ‘tidak punya pilihan lain’ selain mengurungnya.
Hidup Dalam Kondisi Tidak Manusiawi
Kondisi kehidupan bocah yang dikurung di dalam mobil van sangat tidak layak. Ia mengaku kepada polisi terakhir kali mandi pada akhir tahun 2024, dan untuk buang air kecil memakai botol plastik.
Sementara untuk buang air besar, ia menggunakan kantong sampah. Ayahnya disebut hanya datang dua kali sehari untuk memberinya makanan dan air minum.
Kehidupan tidak layak selama berbulan-bulan menyebabkan kesehatan fisik anak tersebut memburuk drastis.
Saat ini, ayah korban telah dikenakan tuduhan awal penculikan dan sejumlah pelanggaran hukum lainnya. Ia ditahan dan masih menjalani proses hukum lebih lanjut.
Sementara pasangan ayah korban mengaku tidak tahu anak tersebut dikurung di dalam mobil van. Meski demikian, ia tetap dikenai tuduhan gagal memberi bantuan kepada anak yang berada dalam bahaya. Ia dibebaskan sementara di bawah pengawasan hukum.
Selain korban, dua anak lain yang tinggal dalam keluarga tersebut juga diamankan oleh layanan sosial. Mereka adalah saudara perempuan korban yang berusia 12 tahun serta anak perempuan dari pasangan ayahnya yang berusia 10 tahun.
Kantor jaksa masih menyelidiki apakah ada pihak lain yang mengetahui hal ini. Beberapa teman dan anggota keluarga mengaku sebelumnya mengira bahwa anak itu telah dikirim ke rumah sakit jiwa.
Sementara itu pihak sekolah korban juga diberi informasi bahwa anak tersebut telah pindah ke sekolah lain. Nama korban dan anggota keluarganya tidak diumumkan ke publik demi menjaga privasi dan keselamatan mereka.
Reaksi Warga dan Fakta Mengejutkan
Warga desa Hagenbach yang diwawancarai beberapa media internasional mengaku sangat terkejut dengan kejadian ini. Mereka mengatakan tidak mengetahui keberadaan anak tersebut selama ini.
Beberapa tetangga mengaku pernah mendengar suara dari dalam van, tetapi saat mereka menanyakannya, mereka diberi tahu bahwa suara tersebut berasal dari seekor kucing.
Kasus ini kini menjadi perhatian luas karena menunjukkan bagaimana seorang anak bisa hidup dalam kondisi ekstrem tanpa diketahui masyarakat sekitar selama waktu yang lama.
Setelah berhasil diselamatkan, anak tersebut segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis intensif. Tim medis saat ini fokus pada pemulihan kondisi fisik dan psikologisnya.
Saat ini latar belakang kasus yang ada terus didalami untuk memastikan semua pihak yang terlibat bertanggung jawab sesuai hukum yang berlaku.
Kasus ini menjadi perhatian masyarakat internasional sekaligus pengingat perlunya kewaspadaan masyarakat terhadap tanda-tanda bahaya di lingkungan sekitar, terutama jika berkaitan dengan keselamatan anak-anak.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





