Bacaini.ID, KEDIRI – Indonesia tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga menyimpan kisah-kisah misterius yang hidup dalam tradisi lisan. Salah satunya adalah keberadaan kota-kota gaib Nusantara, wilayah tak kasat mata yang dipercaya memiliki kehidupan layaknya dunia manusia. Dari Saranjana di Kalimantan hingga Padang 12 yang disebut pernah didatangi Rhoma Irama, kisah ini terus hidup dan menjadi bagian dari kosmologi masyarakat.
Baca Juga:
Kota gaib bagi masyarakat adat Nusantara bukanlah sekadar cerita mistis, namun juga bagian dari sistem kepercayaan tradisional yang berkembang melalui sejarah lisan, mitologi, dan praktik spiritual. Kisah tentang kota gaib sering dianggap sebagai refleksi nilai budaya dan hubungan manusia dengan alam.
Dalam antropologi budaya, kota gaib dipahami sebagai bagian dari kosmologi tradisional masyarakat. Kosmologi ini menggambarkan dunia sebagai ruang yang tidak hanya dihuni manusia, namun juga makhluk non-fisik atau spiritual.
Kota gaib sering digambarkan sebagai wilayah tersembunyi di hutan, gunung, atau laut yang merupakan tempat tinggal makhluk halus. Kepercayaan yang berkembang, kota-kota gaib ini hanya bisa dimasuki oleh individu tertentu Tidak hanya di Indonesia, budaya lain di seluruh dunia yang memiliki peradaban tua, juga memiliki kisahnya sendiri mengenai tempat-tempat yang dihuni makhluk tak kasat mata. Berikut beberapa kota gaib Nusantara yang berkembang sebagai folklor dan diyakini keberadaannya hingga kini.
Saranjana, Kota Gaib Modern di Kalimantan
Salah satu kota gaib paling terkenal di Indonesia adalah Saranjana. Saranjana diyakini berada di Pulau Laut, wilayah Kotabaru. Banyak cerita masyarakat setempat yang menyebut kota ini memiliki teknologi modern dan kehidupan layaknya kota metropolitan.
Kisah mengenai Saranjana banyak disampaikan oleh orang-orang yang mengaku pernah berhubungan dengan kota ini. Dari masyarakat lokal yang mengaku berpasangan dengan penduduk Saranjana, kisah pekerja logistik yang mengantar barang-barang ke Saranjana, hingga artis-artis ibukota yang mengaku pernah konser di Kalimantan yang diduga di Saranjana.
Saranjana merupakan bagian dari mitologi lokal. Tidak ada bukti fisik yang menunjukkan keberadaan kota tersebut, namun keberadaannya dalam narasi masyarakat menunjukkan kekuatan tradisi lisan dalam membentuk identitas budaya. Dalam beberapa literatur bahkan ditampilkan peta lawas Borneo yang menunjukkan lokasi tempat bernama Saranjana yang kini telah dihapus dari peta modern.
Wentira, Kota Emas di Sulawesi Tengah
Wentira, masyarakat lokal juga menyebutnya sebagai Uwentira. Kota gaib ini sering disebut sebagai kerajaan jin terbesar di Asia Tenggara. Terletak di kawasan hutan belantara pegunungan Kebun Kopi, jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Sama seperti Saranjana yang digambarkan sebagai kota modern, Wentira pun demikian namun dengan ciri khas warna kuning emas. Konon, seluruh bangunan di kota gaib ini, mulai dari gedung-gedung tinggi hingga perabotan rumah penduduknya, berlapis emas murni.
Penduduk Wentira dalam folklor digambarkan terlihat seperti manusia biasa namun tidak memiliki lekukan di bawah hidung (filtrum) dan gemar berpakaian serba kuning. Beberapa meyakini bahwa Wentira merupakan bagian dari Atlantis yang hilang.
Kisah mengenai Wentira, banyak dibagikan oleh orang-orang yang mengaku pernah melintasi kota ’emas’ ini. Kota gaib Wentira bahkan memiliki ‘tanda fisik’ berupa tugu dan jembatan berwarna kuning. Bagi masyarakat setempat, tugu tersebut bukan sekedar pertanda batas kawasan, namun juga menjadi pertanda ‘gerbang’ masuk dimensi lain.
Lokasi tugu ini telah ada sejak era Hindia Belanda dan hingga kini masih dilestarikan sebagai penanda batas wilayah dan memiliki nilai kesakralan tersendiri bagi masyarakat setempat. Tugu berwarna kuning mencolok tersebut berada di wilayah Nupa Bomba, Donggala. Berada dalam jalur Kebun Kopi Trans Sulawesi yang menghubungkan Palu dan Parigi Moutong. Tugu ini bertuliskan ‘Ngapa Uwentira’ yang artinya Negeri Wentira dalam bahasa Kaili. Tak jauh dari tugu kuning, terdapat jembatan yang juga berwarna kuning. Lokasi ini sering dianggap sebagai titik paling sakral. Pengendara yang melintas biasanya membunyikan klakson tiga kali sebagai tanda permisi.
Padang 12, Kota Gaib yang Dikaitkan Rhoma Irama
Padang 12 merupakan area seluas 12 kilometer persegi yang berada di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Wilayah ini dalam masyarakat lokal dipercaya sebagai kota gaib dengan peradaban modern.
Secara fisik, Padang 12 berada di jalur antara Kecamatan Kendawangan dan Pesaguan, berupa hamparan pasir putih yang ditumbuhi pohon pinus dan ilalang.
Menurut legenda, arean Padang 12 dahulu adalah perkampungan biasa saat era penjajahan Jepang. Seorang sesepuh, orang pintar setempat, suatu ketika melakukan ritual magis untuk melindungi warganya dari serangan tentara Jepang. Ia membuat kampung dan seluruh isinya menjadi tak kasat mata.
Konon, ritual ini sukses dan membuat kampung ini terhindar dari ancaman kehancuran dari penjajah. Namun, saat situasi krisis telah berlalu, sang tokoh sakti ini tidak berhasil mengembalikan kondisi kampung ke dunia nyata. Mereka semua terjebak dalam dimensi lain dan berkembang menjadi kota modern.
Penduduk Padang 12 disebut sebagai ‘Orang Limun’, yang artinya orang kebenaran dalam bahasa lokal. Mereka tampak seperti manusia biasa dan dikenal sangat jujur, taat beribadah, dan kehidupan mewah.
Salah satu kisah paling populer tentang Padang 12 adalah pengalaman raja dangdut Rhoma Irama yang diundang konser di kota megah, namun saat ia kembali ke kota ini di lain waktu, yang ia temukan hanya padang rumput kosong.
Kisah kota-kota gaib Nusantara tidak hanya menjadi cerita mistis, tetapi juga cerminan kekayaan budaya dan kepercayaan masyarakat. Terlepas dari benar atau tidaknya keberadaan kota tersebut, narasi ini tetap hidup sebagai bagian dari identitas dan warisan tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





