Bacaini.ID, KEDIRI – Kabar penutupan Radio Wijang Songko (RWS) Kediri pada 1 April 2026 beredar cepat di berbagai platform media sosial. Kolom komentar dibanjiri ungkapan kesedihan dan pertanyaan tentang alasan penutupan tersebut.
“Saya mendengarkan drama radio Saur Sepuh dari radio ini saat masih SD. Setelah itu tidak ada lagi program drama radio yang sukses seperti RWS,” kata Didik Purwanto, warga Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kediri yang kini hampir berusia 50 tahun.
Bagi banyak orang Kediri, RWS bukan sekadar media hiburan. RWS hadir sebagai “teman” yang menyapa pagi dengan sapaan akrab, menemani siang di warung kopi, hingga mengisi malam lewat suara penyiar yang bercanda apa adanya.
Dalam budaya dengar, radio menjadi ruang bersama, yakni anonim tapi intim, sederhana tapi bermakna.
Radio seperti RWS tumbuh dari tradisi lisan. Di sana, cerita disampaikan lewat suara, humor lahir dari dialog langsung, dan kedekatan terbangun tanpa wajah. Pendengar tidak disuguhi visual atau algoritma, melainkan rasa. Penyiar berbicara bukan kepada massa, melainkan kepada “Anda”, sebuah kata ganti yang penuh kehangatan.
Namun zaman bergerak. Perlahan, suara digantikan layar. Waktu mendengar menjadi waktu menonton. Obrolan santai tersingkir oleh konten pendek dan cepat. Di dunia yang menuntut perhatian instan, radio yang mengalir pelan mulai dianggap terlalu lambat, terlalu sabar, terlalu manusiawi.
Penutupan RWS memang memiliki sebab administratif, yakni kepemilikan tunggal dan pilihan pensiun di usia senja. Tetapi di balik alasan itu, ada realitas yang lebih luas, bahwa ekosistem budaya mendengar tak lagi menjadi arus utama.
Radio lokal berada di persimpangan, setia pada akar atau mengejar bentuk baru yang belum tentu ramah bagi karakter mereka.
Radio Lokal vs Media Digital
Penutupan Radio Wijang Songko (RWS) setelah hampir 58 tahun mengudara menjadi potret jelas kondisi industri radio lokal hari ini.
RWS bukan radio kecil tanpa pendengar. Radio ini punya loyalitas, program kuat, dan posisi kultural yang menempel di masyarakat. Namun semua itu tetap tidak cukup untuk menopang bisnisnya di tengah perubahan ekonomi media yang sangat cepat.
Masalah utama radio lokal bukan pada kreativitas atau kedekatan dengan pendengar, melainkan pada model bisnis yang tertinggal.
Radio bekerja dengan pola lama: siaran linear, radius terbatas, jadwal tetap, dan pendapatan yang bertumpu hampir sepenuhnya pada iklan lokal.
Model ini efektif ketika pilihan media masih sedikit dan audiens terkonsentrasi secara geografis. Namun hari ini, kondisi sudah berubah total. Pendengar tidak lagi terikat frekuensi. Mereka berpindah-pindah platform sesuka hati, dari streaming musik hingga podcast dan media sosial.
Sementara radio menjual waktu siaran, media digital menjual data pengguna. Inilah titik ketimpangan pertama.
Pengiklan kini ingin tahu dengan past siapa yang melihat iklan mereka, berapa lama, dan apakah iklan itu menghasilkan respons. Radio lokal tidak memiliki data sedetail ini. Ia hanya bisa menawarkan estimasi pendengar dan loyalitas.
Sebaliknya, platform digital bisa menunjukkan angka klik, durasi tontonan, hingga konversi. Bagi dunia bisnis, kepastian jauh lebih bernilai daripada kedekatan emosional.
Ketimpangan kedua ada pada struktur biaya. Radio lokal memiliki biaya tetap yang tinggi: pemancar, listrik, izin frekuensi, studio fisik, dan karyawan tetap. Ketika pendapatan iklan turun, radio tidak bisa serta‑merta mengecilkan operasi.
Sementara di sisi lain, media digital bersifat lentur. Kreator bisa bekerja dari perangkat pribadi, menyesuaikan skala produksi dengan cepat, bahkan bertahan dengan biaya minimum.
Dalam situasi krisis, fleksibilitas inilah yang menentukan siapa bertahan lebih lama.
Radio lokal sebenarnya memiliki satu keunggulan besar, yakni lokalitas. Bahasa daerah, humor khas, kedekatan dengan isu warga setempat, semua itu adalah kekuatan yang tidak dimiliki platform global. Namun secara bisnis, lokalitas justru sulit dimonetisasi. Pasarnya sempit, skalanya kecil, dan tidak ramah algoritma. Konten lokal kalah bersaing dengan konten viral yang bisa dinikmati siapa pun, di mana pun.
Lalu datang tantangan lain, pendapatan iklan lokal menyusut. UMKM dan pengusaha daerah kini lebih memilih beriklan lewat media sosial dan mesin pencari karena biayanya fleksibel dan hasilnya terukur. Iklan lokal tidak hilang, tetapi berpindah kanal. Radio tidak lagi bersaing dengan sesama radio, melainkan dengan Facebook Ads, TikTok, dan WhatsApp.
Sebagian radio mencoba beradaptasi dengan masuk ke dunia digital: streaming, media sosial, atau YouTube. Namun banyak yang melakukannya setengah hati. Konten digital dianggap pelengkap, bukan inti bisnis. Mereka hanya menyiarkan ulang siaran radio secara digital, bukan merancang platform baru. Tanpa perubahan cara berpikir, transformasi digital hanya menjadi kosmetik.
Kasus RWS menunjukkan bahwa kekuatan budaya dan loyalitas pendengar tidak otomatis menjamin keberlanjutan bisnis. Pola ini bertahan lama karena kuat secara sosial, tetapi akhirnya tumbang karena struktur ekonomi media tidak lagi berpihak pada model lama.
Ke depan, radio lokal hanya punya dua jalan. Pertama, berubah total menjadi bisnis audio berbasis komunitas dan digital, dengan data, platform, dan monetisasi baru. Kedua, menerima peran baru sebagai institusi budaya, bukan entitas komersial penuh yang hidup dari dukungan komunitas, bukan iklan semata.
Jika tetap bertahan di tengah, berpegang pada romantisme masa lalu tanpa strategi baru, penutupan seperti RWS bukan pengecualian. Ini akan menjadi pola.
Dan dalam industri media, pola hampir selalu lebih jujur daripada nostalgia.
Penulis: Hari Tri Wasono*
*)Pendengar setia Radio Wijang Songko





