Bacaini.ID, KEDIRI – Suasana sore di Balai Kota Kediri terasa berbeda, Rabu petang, 25 Februari 2026. Matahari yang mulai turun menyinari kerumunan warga yang datang dari berbagai penjuru kota. Mereka adalah para tukang becak, tukang ojek, pemulung, pedagang kecil, hingga anak-anak yatim yang duduk rapi dengan wajah penuh harap.
Di tengah keramaian itu, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati yang akrab disapa Mbak Wali hadir dengan langkah tenang dan senyum yang mencairkan suasana.
Bukan sekadar hadir, Mbak Wali benar-benar membaur. Ia menyapa anak-anak yatim satu per satu, menanyakan nama, kelas, dan cita-cita mereka. Beberapa anak tampak tersipu malu ketika tangan lembut Mbak Wali mengusap kepala mereka, gestur yang membuat mereka merasa diperhatikan, dihargai, dan dilindungi.
Momen-momen kecil ini menjadi pusat perhatian, menunjukkan sisi humanis seorang kepala daerah yang tidak menjaga jarak dari warganya.
Menjelang waktu berbuka, Mbak Wali membagikan santunan kepada anak-anak yatim tersebut. Tidak terburu-buru, tidak sekadar formalitas. Ia meluangkan waktu, menunduk sejajar dengan tinggi mereka, memastikan bahwa setiap anak menerima amplop dan senyumnya. Tatapan berbinar dari anak-anak menjadi bukti bahwa bantuan kecil sekalipun dapat memberi kebahagiaan besar ketika disampaikan dengan ketulusan.
Acara buka puasa bersama itu memperlihatkan bagaimana pemimpin duduk sejajar dengan warganya. Tidak ada panggung tinggi, tidak ada pemisahan kelas. Para tukang becak, pedagang kecil, pemulung, hingga warga menikmati hidangan bersama di meja panjang yang sengaja disiapkan. Kehadiran mereka bukan sebagai tamu sekunder, tetapi sebagai bagian penting dari keluarga besar Kota Kediri.
Anak-anak yatim ditempatkan di barisan depan, menjadi tamu kehormatan dalam acara yang sarat nilai kebersamaan ini. Sekali lagi, Mbak Wali menunjukkan bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur atau ekonomi, tetapi juga tentang menghadirkan kehangatan sosial yang memupuk rasa saling peduli.
Saat azan magrib akhirnya terdengar, warga dan pemimpin kota itu menyantap hidangan bersama. Tidak ada protokol yang rumit. Mbak Wali mencicipi hidangan sederhana yang sama dengan yang disantap anak-anak yatim.





