Bacaini.ID, BLITAR – Pensiunan Polisi berinisial S (62) yang ditemukan tewas tergantung di gudang rumahnya di Desa Gandekan Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Jawa Timur diketahui mengidap sakit diabetes.
S yang baru sekitar 3 tahun menjalani pensiun dengan pangkat terakhir Aiptu, terungkap sehari-hari lebih banyak beraktifitas di rumah. Kalaupun pergi tidak pernah jauh-jauh dari rumah.
Ia hanya rutin jalan-jalan dengan motor yang kabarnya pinjam dari tetangga dekat yang sudah seperti saudara. Begitu juga pada Rabu pagi (25/2/2026) sebelum ditemukan tewas tergantung.
Informasi yang dihimpun Bacaini.id, bekas polisi intelijen di Mapolsek Wonodadi Polres Blitar Kota itu berniat refreshing. Namun niatnya urung dilakukan karena motor dipakai pemiliknya untuk urusan jagung.
“Karena tidak jadi, kemudian yang bersangkutan (S) pulang lagi ke rumah,” tutur salah seorang warga Kecamatan Wonodadi yang enggan disebut nama Rabu sore (25/2/2026).
Baca Juga:
- Pensiunan Polisi di Blitar Tewas Tergantung di Gudang Rumah, Diduga Ada Masalah Keluarga
- Dua Mayat Terbakar di Eks Asrama Polisi Jombang, Polisi Temukan Botol Diduga BBM
Seperti diketahui, kehidupan ekonomi S dalam kondisi kurang bagus. Terutama sejak pensiun dari kepolisian. Sempat memiliki usaha peternakan bebek dan ayam, namun kurang berjalan lancar.
Pada yang sama kondisinya sakit-sakitan lantaran mengidap penyakit diabetes. Situasi serba sulit itu diperparah oleh beban masalah rumah tangga yang dialami salah seorang anaknya.
S memiliki dua orang anak yang semuanya telah berumah tangga. Belum lama ini biduk rumah tangga salah satu anaknya dikabarkan mengalami guncangan hingga terjadi perceraian.
Meski telah rujuk, permasalahan yang ada tidak sepenuhnya bisa teratasi. Informasinya, yang utama tidak jauh dari masalah ekonomi dan itu jadi beban pikiran S. “Kabarnya terkait tuntutan ekonomi,” ungkap sumber.
Masih menurut warga, beberapa jam sebelum ditemukan tewas tergantung di gudang rumahnya, S dikabarkan sempat berkirim pesan WA kepada salah seorang anaknya.
Ia minta dijenguk karena mengeluh sakit. Informasinya, dalam percakapan via WA itu, si anak menyampaikan kabar kalau pada Rabu ini (25/2/2026) waktunya mengangsur tanggungan.
Kemudian si anak meminta tolong pamannya untuk lebih dulu menjenguk ayahnya (S) karena dirinya masih ada urusan. “Kalau istilah orang Jawa seperti disengkake. Tapi kebenarannya seperti apa belum ada yang tahu,” tambahnya.
Sementara kronologis dari keterangan yang disampaikan Polres Blitar Kota menyebut anak korban meminta suaminya untuk menjenguk ayahnya setelah ia mendapat voice note (pesan suara) dari ayahnya (S).
Dalam pesan suara itu terdengar suara S yang mengatakan tidak kuat lagi dan berpamitan. Saat saksi tiba di lokasi sekitar pukul 11.30 WIB ia menjumpai S dalam keadaan tewas tergantung di gudang belakang rumah.
“Isi pesan suara korban adalah bahwa korban sudah tidak kuat lagi dan berpamitan,” kata Kasi Humas Polres Blitar Kota AKP Samsul Anwar kepada wartawan Rabu (25/2/2026).
Saat ini polres Blitar Kota masih melakukan penyelidikan. Samsul Anwar masih enggan menjelaskan latar belakang yang mengakibatkan S ditemukan tewas dalam keadaan tergantung.
Sementara Kades Gandekan Fauzi Ari Susilo mengatakan, saat peristiwa terjadi korban diketahui dalam posisi tinggal di rumah sendirian. “Yang bersangkutan sendirian di rumah,” terangnya.
Kades Fauzi Ari Susilo mengaku belum tahu pasti penyebab yang bersangkutan ditemukan tewas tergantung di gudang belakang. Spekulasi yang berkembang kemungkinan karena masalah keluarga.
“Kemungkinan beban keluarga. Tapi untuk pastinya belum tahu,” pungkasnya.
Penulis: Solichan Arif





