BACAINI.ID, JEMBER – Desa diminta berhenti menjadi penonton. Bupati Jember Gus Fawait menegaskan, jika ingin angka kemiskinan turun, maka perputaran uang harus benar-benar hidup di desa.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam Sosialisasi Pengawasan Pemerintahan Desa dan Dana Desa di Pendopo Wahyawibawagraha, Kamis (12/2/2026), di hadapan Wakil Menteri Dalam Negeri dan Komisi II DPR RI.
Di forum tersebut, Gus Fawait tidak hanya memamerkan potensi Jember, tetapi juga memaparkan persoalan paling mendesak yaitu kemiskinan.
Jember, kata dia, memiliki garis pantai selatan terpanjang kedua di Jawa Timur dan wilayah pegunungan di bagian utara. Beragam komoditas ekspor lahir dari tanah ini.
Namun, ironi muncul ketika angka kemiskinan absolut Jember masih menempati posisi kedua di Jawa Timur, bahkan tertinggi untuk kategori kemiskinan ekstrem.
“Mayoritas kantong kemiskinan ada di desa, terutama yang berbatasan dengan kebun, hutan, dan pesisir. Maka desa harus jadi pusat perputaran ekonomi,” tegasnya.
Menurutnya, jika uang beredar dan bertahan di desa, maka dampaknya akan langsung terasa pada kesejahteraan warga. Karena itu, Pemkab Jember memastikan Alokasi Dana Desa (ADD) akan dikembalikan dan diperkuat dalam Anggaran Perubahan 2026.
Skema ini diharapkan memberi ruang inovasi lebih luas bagi kepala desa dalam mengelola pembangunan dan pemberdayaan ekonomi.
Tak berhenti di situ, Gus Fawait juga membidik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai mesin ekonomi baru. Dengan estimasi sekitar 300 ribu penerima manfaat di Jember, program nasional itu diproyeksikan mampu memutar uang hingga Rp4 triliun.
“Tugas kita memastikan uang itu tidak keluar dari Jember,” ujarnya.
Pemkab berencana menerbitkan surat edaran agar bahan baku MBG wajib disuplai dari produk pertanian, peternakan, serta UMKM lokal. Skema ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memperkuat rantai ekonomi desa.
Gus Fawait bahkan menggagas sinergi antara Koperasi Merah Putih dengan distribusi MBG agar terbentuk ekosistem ekonomi yang saling menopang. Bersama BP Taskin, pemerintah daerah juga akan membina warga miskin ekstrem agar bisa naik kelas menjadi pemasok dalam program MBG melalui pembentukan UMKM baru.
Dengan pendekatan itu, MBG tidak berhenti sebagai program konsumsi semata. Ia diharapkan menjadi pintu masuk lahirnya pelaku usaha baru dari kelompok rentan.
Bagi Gus Fawait, desa bukan sekadar objek pembangunan atau penerima anggaran. “Desa adalah pusat pertumbuhan. Jika strategi ini berjalan konsisten, maka desa bukan hanya menjadi lokasi program, tetapi episentrum kebangkitan ekonomi Jember,” pungkasnya.(meg/ADV)





