Poin Penting:
- AI Exes menjadi tren baru di Tiongkok dengan membuat replika digital mantan dari chat, foto dan rekaman suara
- Ahli menilai interaksi dengan mantan virtual berisiko memicu gagal move on dan hubungan emosional tidak sehat
- Penggunaan AI mantan juga dikhawatirkan menghambat proses penyembuhan emosional dan pertumbuhan personal
Bacaini.ID, KEDIRI – Tren AI Exes atau kloning digital mantan kekasih sedang viral di Tiongkok. Teknologi berbasis kecerdasan buatan ini memungkinkan seseorang kembali “berinteraksi” dengan mantan melalui replika digital yang dibuat dari foto, chat hingga rekaman suara.
Baca Juga:
Tren AI terbaru di Tiongkok itu memicu pro kontra di masyarakat umum maupun para ahli. Para pendukung tren yang disebut ‘AI Exes’ (AI mantan) ini mengklaim bahwa cara ini membantu proses mengatasi penyesalan di masa lalu sekaligus menjadi penghiburan emosional. Namun di sisi lain, banyak ahli yang mengkhawatirkan ketergantungan emosional yang mungkin terjadi, masalah privasi dan etika penggunaan teknologi.
Cara membuat ‘mantan digital’ ini pun cukup mudah: pengguna mengunggah riwayat obrolan, unggahan media sosial dan foto ke platform AI yang menyediakan layanan tersebut. Pengguna dapat menyempurnakan replika mantannya dengan berbagai kenangan pribadi seperti memori saat jalan-jalan berdua, tempat favorit, hari jadian maupun cerita pertengkaran di masa lalu.
AI mengolah data tersebut hingga ‘mantan virtual’ ini memiliki gaya komunikasi yang sama dengan mantan yang asli (manusianya). Bahkan, pengguna dapat memasukkan rekaman suara mantan agar AI dapat mengkloningnya. Hasilnya, mantan kekasih digital ini dilaporkan mampu terlibat dalam percakapan menggunakan nada dan pola pikir mantan yang asli.
Ahli Khawatir AI Exes Memicu Gagal Move On dan Bentuk Baru Perselingkuhan
Tren AI exes ini menimbulkan kekhawatiran baru secara psikologis. Meskipun pada awalnya platform ini nampak seperti alat bantu untuk menyembuhkan patah hati, dampak jangka panjangnya dinilai berisiko bagi kesehatan mental.
Dikutip dari South China Morning Post, beberapa kritikus memperingatkan tentang bentuk baru perselingkuhan emosional yang bisa terjadi melalui paltform ini. Pengguna bisa saja tetap berinteraksi dengan mantan kekasih digitalnya disaat sudah memiliki pasangan baru.
Tetap merasa terhubung dengan mantan kekasih secara emosional, dapat menumbuhkan keterikatan yang menghambat seseorang untuk menjalin hubungan sehat dengan pasangan nyata.
Berkomunikasi dengan kloningan mantan, juga dapat menimbulkan ’emotional trap’, jebakan emosional. Alih-alih membantu melewati masa-masa patah hati, perilaku ini justru membuat pengguna terjebak dalam siklus masa lalu.
Proses penyembuhan patah hati yang sehat, membutuhkan penerimaan terhadap realitas hubungan yang telah berakhir. Menghidupkan kembali sosok digital mantan, justru menolak realitas tersebut dan memperpanjang masa denial mereka.
Interaksi yang terlalu intens dengan AI exes ini, terutama yang didukung oleh kloningan suara yang sangat mirip, dikhawatirkan memicu hubungan parasosial akut. Merasa memiliki hubungan emosional yang dekat dengan sesuatu yang tidak nyata.
Penggunaan AI exes juga dikhawatirkan menghambat pertumbuhan personal seseorang. Pengalaman sakit hati, putus cinta, merupakan salah satu cara individu menumbuhkan kedewasaan dan karakter personal mereka. Dari rasa sakit, seseorang belajar mengevaluasi diri, memahami batasan dan dapat menghargai hubungan berikutnya.
Kloning mantan dengan alasan ‘meredakan’ rasa sakit hati dan kehilangan, membuat individu kehilangan kesempatan memproses emosi negatifnya secara alami. Emosi negatif diredam secara artificial, yang berisiko membuat perkembangan emosional mereka menjadi stagnan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





