Poin Penting:
- Budaya ngopi Indonesia berkembang menjadi identitas sosial melalui tradisi cangkruk di warung kopi
- Italia memiliki aturan sosial ketat soal konsumsi kopi, terutama larangan cappuccino setelah jam 11 siang
- Turki dan Ethiopia menjadikan kopi sebagai ritual budaya dan spiritual yang diwariskan turun-temurun
Bacaini.ID, KEDIRI – Tradisi ngopi atau minum kopi di berbagai negara ternyata memiliki filosofi dan kebiasaan yang sangat berbeda. Jika masyarakat Indonesia mengenal budaya cangkruk di warung kopi sebagai ruang sosial lintas kelas, masyarakat Italia justru menikmati espresso secara cepat sambil berdiri. Sementara di Turki, ampas kopi dipercaya bisa membaca masa depan, dan di Ethiopia kopi menjadi bagian dari ritual penghormatan yang sakral.
Baca Juga:
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia minum kopi bukan sekadar penanda mulainya aktivitas, tapi menjadi perekat sosial dalam kebudayaan urban maupun rural. Aktivitas ‘ngopi’ telah bermutasi dari ritual konsumsi menjadi lanskap kultural, sebagai identitas komunal.
Di Jawa Timur misalnya, nongkrong di Warung Kopi (Warkop) bukan sekadar duduk diam melepas lelah. Dari sinilah muncul istilah: obrolan warung kopi. Obrolan berbagai topik oleh berbagai kelas sosial yang menyatu dalam satu aktivitas: ngopi. Bukan hanya di Indonesia, berbagai negara juga memiliki tradisi ngopi yang unik.
Italia: Kecepatan Maestro Espresso
Kontras dengan kultur warkop Indonesia yang komunal dan berdurasi panjang, Italia memandang kopi sebagai seni yang cepat, efisien, namun penuh dengan aturan tak tertulis yang sakral.
Baca Juga:
- Musisi Indonesia Go Internasional: NIKI, Rich Brian dan no na Guncang Musik Global
- Resep Kambing Bakar Kecap ala Devina Hermawan, Tak Serepot Bakar Sate
Ngopi di Italia lazimnya di bar-bar lokal dengan konsep al banco, minum di bar sambil berdiri. Orang Italia jarang memesan kopi untuk dibawa pulang atau duduk berlama-lama. Mereka akan memesan secangkir espresso yang pekat, meminumnya dalam dua atau tiga tegukan cepat sembari berbincang sejenak dengan sang barista, lalu segera pergi melanjutkan aktivitasnya.
Bagi orang Italia, espresso merupakan suntikan energi yang instan. Selain itu, jangan pernah memesan cappucino atau jenis kopi susu lainnya di atas jam 11 siang karena dianggap aneh dan bahkan menjadi ‘dosa kuliner’. Italia terkenal dengan ‘hukum pencernaan’ mereka yang sangat ketat terkait susu. Masyarakat Italia meyakini susu panas yang dikonsumsi setelah waktu sarapan atau makan besar akan merusak sistem pencernaan.
Turki: Ramalan Nasib Ampas Kopi
Turki menawarkan salah satu metode penyeduhan tertua di dunia yang diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Türk Kahvesi (Kopi Turki) bukan sekadar minuman penyegar, melainkan bagian dari diplomasi keluarga dan ritual mistis.
Baca Juga:
Proses pembuatannya sangat teatrikal. Bubuk kopi yang digiling hingga sehalus bedak dicampur langsung dengan air dan gula di dalam panci tembaga berleher panjang yang disebut cezve. Panci ini kemudian diletakkan di atas hamparan pasir panas, di mana panas yang merata akan membuat kopi mendidih perlahan hingga memunculkan buih tebal di permukaannya. Kopi ini dituangkan ke dalam cangkir kecil tanpa disaring sama sekali.
Seni ngopi sesungguhnya di Turki justru dimulai ketika cairan kopi telah habis diminum. Di sinilah tradisi tasseography, seni meramal menggunakan ampas kopi, mengambil peran. Piring kecil akan diletakkan di atas cangkir, lalu cangkir akan dibalikkan. Setelah ampas kopi dingin dan mengering membentuk pola-pola unik di dinding cangkir, seorang teman atau peramal akan membaca guratan tersebut untuk memprediksi peruntungan, jodoh, atau masa depan si peminum.
Ethiopia: Kopi Menjadi Penghormatan Tertinggi
Sebagai tanah kelahiran tanaman kopi Arabika, Ethiopia memosisikan kopi pada tingkatan tertinggi: sebuah upacara ritual keagamaan dan sosial yang disebut Buna Tetu. Di negara ini, menyajikan kopi kepada tamu merupakan bentuk penghormatan tertinggi, dan menolak tawaran tersebut dianggap sebagai penghinaan besar.
Upacara ini dipimpin oleh seorang perempuan dalam keluarga dan bisa berlangsung hingga dua jam lamanya.
Prosesi dimulai dari nol: biji kopi hijau dicuci, kemudian disangrai di atas wajan datar di depan para tamu, membiarkan aroma asap sangrai memenuhi ruangan. Setelah itu, biji ditumbuk menggunakan lesung kayu dan diseduh di dalam sebuah teko tanah liat tradisional yang anggun bernama jebena.
Kopi kemudian dituangkan tanpa terputus dari ketinggian tertentu ke dalam cangkir-cangkir kecil. Upacara ini wajib melalui tiga putaran penyeduhan yang masing-masing memiliki nama dan makna spiritual:
• Abol: Putaran pertama, racikan paling pekat, kuat, dan penuh penjiwaan.
• Tona: Putaran kedua, air diseduh kembali dengan sisa ampas yang mulai mencair.
• Baraka: Putaran ketiga, yang berarti ‘berkat/berkah’ atau doa penutup upacara.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





