Bacaini.ID, KEDIRI – Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi PKS, Yanuar Arif Wibowo, menekankan perlunya kehati-hatian pemerintah dalam menerapkan kebijakan bebas visa bagi warga negara asing (WNA). Menurutnya, aturan keimigrasian tidak hanya soal membuka pintu bagi wisatawan, tetapi juga harus memastikan dampak positif terhadap devisa dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam laporan legislatif PKS menjelang Rapat Paripurna ke-25 DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Yanuar menyebut imigrasi sebagai “gerbang” bangsa yang harus dijaga. Ia menilai, kunjungan WNA memang berpotensi meningkatkan devisa, namun tidak boleh dilakukan tanpa seleksi. “Orang asing yang datang ke Indonesia harus bisa memberi kontribusi nyata bagi ekonomi kita,” ujarnya di Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026.
Yanuar mengingatkan, kebijakan bebas visa yang terlalu longgar justru bisa mengurangi kemampuan negara dalam menyeleksi WNA. Ia mencontohkan, meski Kementerian Pariwisata berharap jumlah wisatawan meningkat, pemerintah tetap harus menentukan profil wisatawan yang diinginkan. “Kalau dibuka seluas-luasnya, kita tidak bisa memfilter siapa yang masuk. Harus ada seleksi,” tegasnya.
Selain aspek ekonomi, Yanuar juga menyoroti potensi masalah sosial. Ia menyebut fenomena di Bali, di mana sejumlah WNA tidak hanya berwisata tetapi juga bekerja atau membuka usaha. “Jangan sampai yang datang justru backpacker yang tidak membawa devisa, malah menimbulkan persoalan sosial baru,” katanya.
Untuk itu, Komisi XIII DPR RI akan mendorong kebijakan visa yang lebih ketat dan selektif. Di sisi lain, insentif keimigrasian tetap bisa diberikan kepada negara atau kelompok WNA yang terbukti memberi dampak positif. Yanuar mencontohkan kebijakan akses khusus bagi warga Singapura dan pemegang izin tinggal permanen di Singapura untuk berkunjung ke Batam. “Kebijakan ini terbukti memacu aktivitas ekonomi daerah. Batam selalu ramai di akhir pekan,” jelasnya.
Yanuar menutup pernyataannya dengan peringatan agar kebijakan bebas visa tidak diterapkan sembarangan. “Dalam kebijakan visa kita harus hati-hati. Kalau tidak selektif, justru bisa membahayakan bangsa sendiri,” pungkasnya.
Penulis: Hari Tri Wasono




