• Login
Bacaini.id
Saturday, May 30, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Tradisi Jamasan Pusaka Peninggalan Mataram Islam di Nganjuk

ditulis oleh Editor
10 August 2022 20:31
Durasi baca: 3 menit
Prosesi jamasan pusaka oleh para Empu di Desa/Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Foto: Bacaini/Asep Bahar

Prosesi jamasan pusaka oleh para Empu di Desa/Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Foto: Bacaini/Asep Bahar

Bacaini.id, NGANJUK – Kirab Bedol Pusaka mengawali prosesi tradisi Jamasan Pusaka di Desa/Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk. Para sesepuh mengenakan pakaian adat jawa membawa serta 10 pusaka dalam kirab, Rabu, 10 Agustus 2022

Kirab dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dari kediaman lurah pertama Desa Ngetos, Suwarno, yang hidup pada masa Mataram Islam. Menempuh jarak kurang lebih satu kilometer, kirab diiringi suara gamelan dan tarian mongde yang ditampilkan murid SD menuju Balai Desa Ngetos.

Keikutsertaan para pendekar dari sejumlah perguruan silat semakin menambah kemeriahan tradisi yang menjadi agenda rutin tahunan setiap bulan Suro. Sesampainya di Balai Desa, Kepala Desa, tokoh masyarakat dan juga para Empu sudah menunggu di lokasi jamasan pusaka.

Diawali dengan berdoa bersama dan sejumlah ritual, prosesi jamasan dilakukan dengan memandikan pusaka menggunakan air sekaligus peralatan yang sudah dipersiapkan.

“Air yang digunakan untuk jamasan kami ambil dari tujuh sumber mata air yang ada di Ngetos,” kata Sukarno, salah satu tokoh masyarakat, kepada Bacaini.id, Rabu, 10 Agustus 2022.

Satu persatu pusaka yang dibawa sesepuh desa diberikan kepada para Empu untuk dilakukan jamasan. Diantara 10 pusaka tersebut ada pusaka yang merupakan peninggalan Empu Punjul dan keturunannya, yakni Empu Josono atau Empu Kriyosono.

“Cerita dari sesepuh sebelum-sebelumnya, Empu Punjul dan keturunannya hidup pada masa Kerajaan Mataram Islam,” ujarnya.

Diceritakannya, Empu Punjul membuat pusaka di Gunung Punjul yang terletak di sebelah utara Gunung Wilis. Dalam membuat pusaka, Empu Punjol sering berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain di sekitar Gunung Wilis.

“Jejaknya ditemukan di Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, pindah lagi ke Desa Swaru, Kecamatan Sawahan. Setelah itu bersama generasi berikutnya dia berpindah ke Ngetos dan Pace,” sebutnya.

Empu Punjul pada akhirnya menetap di wilayah Kadipaten Pace hingga akhir hayatnya. Kini makamnya berada di Dusun Kedungbajul, Desa Gemenggeng, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk.

Lebih lanjut, Sukarno menjelaskan bahwa Prosesi Jamasan ini dilakukan untuk menghormati para Empu yang pada zaman dahulu telah bersusah payah membuat pusaka. Fungsi pusaka sendiri tidak hanya sebagai senjata, tetapi juga untuk ageman atau aksesoris yang menunjukkan kewibawaan serta kepercayaan diri.

“Para Empu memilih besi yang bagus dan ada yoninya. Sulitnya membuat pusaka itu sangat luar biasa, butuh tirakat dan sesaji juga,” ungkapnya.

Sukarno menambahkan, warga diizinkan untuk menyerahkan pusaka pribadi mereka untuk dilakukan penjamasan oleh para Empu setelah jamasan pusaka peninggalan Empu Punjul dan Empu Josono selesai dilakukan. Tradisi Jamasan Pusaka ditutup dengan kenduri nasi kuning.

“Diharapkan tradisi ini bisa terus lestari sehingga mempererat tali silaturahmi antar warga dan menjadi pembelajaran kepada generasi muda,” pungkasnya.

Penulis: Asep Bahar
Editor: Novira

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: bulan surojamasan pusakatradisi di nganjuk
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi internet lemot saat bekerja online

Internet Lemot dan WiFi Putus Nyambung? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi pekerja kantoran Indonesia sedang bekerja

Riset Gallup Ungkap Pekerja Indonesia Paling Bangga Jadi ‘Budak Korporat’, Stres Kerja Terendah di Dunia

Ilustrasi pasukan Garnisun. Foto: istimewa

Jejak Garnisun Menumpas Premanisme di Zaman Orde Baru

  • Panitia seleksi rekrutmen perangkat Desa Gogodeso Kabupaten Blitar menghentikan sementara tahapan seleksi akibat polemik peserta

    Rekrutmen Perangkat Desa Gogodeso di Blitar Ricuh, Siapa Bermain?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sinyal Tegas Wali Kota Blitar soal Dana Hibah KONI, Problem Hukum Samanhudi Jadi Kajian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jejak Offshore di Balik Perusahaan Sawit Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In