• Login
Bacaini.id
Friday, August 7, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Cak Sholeh Meninggal, Aktivis 1998 yang Dikenal dengan Jargon No Viral No Justice

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
7 August 2026 18:09
Durasi baca: 4 menit
M Sholeh atau Cak Sholeh aktivis 1998 dan advokat

M Sholeh atau Cak Sholeh, aktivis 1998 dan advokat yang dikenal dengan jargon No Viral No Justice (foto/ist)

Cak Sholeh, advokat No Viral No Justice yang juga mantan aktivis 98, SMID cum eks Ketua PRD Surabaya yang pernah dijebloskan rezim Soeharto di Kalisosok, meninggal dunia Jumat 7 Agustus 2026

Bacaini.ID, BLITAR – M Sholeh atau akrab dipanggil Cak Sholeh hanya mengirimkan emoticon jempol saat Bacaini.id mengirim pesan WA, dan itu di luar kebiasaannya. Malam itu H-1 rencana aksi warga Kabupaten Blitar dan Malang menolak penutupan jalan Puncak Bendungan Lahor oleh Perum Jasa Tirta I (PJT I) karena dinilai membunuh ekonomi kerakyatan.

Baca Juga: Gubernur Khofifah Didesak Ikuti Dedi Mulyadi Hapus Tunggakan Pajak Bermotor

Cak Sholeh menjadi pendamping warga. Sebagai advokat yang populer berjargon No Viral No Justice, polemik rencana penutupan Bendungan Lahor telah menarik perhatiannya. Terlebih ada warga pemrotes yang dipolisikan dan ditetapkan tersangka. Rencananya ia akan membersamai warga di aksi 1 Agustus 2026, namun kemudian datang kabar kalau sakit.

“Cak Sholeh sedang sakit. Kemungkinan tidak jadi ikut aksi,” kata Mariyono Setyo Budi, perwakilan masyarakat Blitar sekaligus korlap aksi pada 31 Juli 2026 malam. Tidak ada yang tahu apa sakitnya Cak Sholeh. Begitu juga dengan Mariyono Setyo Budi. Karena dipahami mendadak, sempat muncul kelakar sakitnya dikaitkan dengan PJT I yang tengah dilawannya.

Termasuk Mariyono Setyo Budi tidak melihat kabar sakitnya Cak Sholeh sebagai sakit yang serius. Sebab Cak Sholeh masih bisa berkomunikasi via WA. Bayangannya, sakit karena kecapekan dan segera pulih kembali. Malam itu obrolan lebih ke persiapan unjuk rasa 1 Agustus. Warga tetap kukuh menolak penutupan Bendungan Lahor.

Kabar Meninggal Cak Sholeh Sempat Dikira Hoaks

Pada 1 Agustus 2026 malam, Bacaini.id coba kembali mengirim pesan WA ke Cak Sholeh. Kalau sebelumnya hanya dibalas emoticon, kali ini tidak direspon sama sekali. Teringat kabar sakit, mungkin yang bersangkutan sedang istirahat. Sedang tidur dan malam itu tidak mendapat update kabar apapun terkait Cak Sholeh.

Baca Juga: Mengenang Kudatuli dan Eks PRD yang Kini Jadi Pembantu Presiden Prabowo

Hingga Jumat pagi 7 Agustus 2026. Sebuah pesan di WAG (WA Grup) Blitar menyampaikan kabar duka: M Sholeh meninggal dunia disertai poster yang menampilkan foto cak Sholeh. Ucapan bela sungkawa seketika mengalir dari anggota WAG meskipun Cak Soleh maupun kerabatnya tidak ada di dalam WAG tersebut.

Kabar kematian Cak Sholeh sempat dikira sebagai informasi hoaks. Salah seorang anggota WAG mengirimkan screenshot yang diambil dari keterangan search engine google. Sempat terjadi perdebatan kecil yang disertai olok-olok. Intinya tidak percaya Cak Sholeh telah meninggal dunia.

Perdebatan kecil tersebut langsung berakhir ketika ada anggota WAG melempar link media mainstream yang isinya menurunkan laporan soal meninggalnya Cak Sholeh. Informasi yang dihimpun, sekitar lima tahun Cak Sholeh sakit autoimun. Namun soal itu belum ada konfirmasi dari keluarga.

Profil M Sholeh atau Cak Sholeh

Lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, dan dikenal sebagai advokat pembela wong cilik, Cak Sholeh sebelumnya lebih dikenal sebagai aktivis 1998. Alumni Ponpes Tebuireng Jombang tersebut merupakan aktivis SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) periode 1994-1996 kampus UWK Surabaya.

Cak Sholeh menjadi Ketua PRD (Partai Rakyat Demokratik) Surabaya periode 1998-2000. Jelang aksi reformasi ia ditangkap rezim Soeharto dan dijebloskan penjara Kalisosok Surabaya. Penangkapannya hampir bersamaan dengan penangkapan Budiman Sudjatmiko, Nezar Patria, Faisol Riza, Andi Arief, Mugiyanto dan Dita Indah Sari.

Pada tahun 1996 Pengadilan Negeri Surabaya menjatuhi vonis 4 tahun penjara atas tuduhan subversif. Sempat menjalani hukuman 1,5 tahun penjara dan kemudian dibebaskan, Cak Sholeh ditahan satu blok, yakni Blok E atau Blok Khusus dengan aktivis Coen Husein Pontoh.

Sesuai disiplin ilmunya (Fakultas Hukum), Cak Sholeh kemudian memutuskan menjadi advokat. Pernah mencoba menjadi calon anggota legislatif dari PDIP, lalu pindah Partai Gerindra, serta mendaftar sebagai bakal calon kepala daerah, namun semuanya belum berhasil.

Nama M Sholeh moncer secara nasional ketika gugatannya terkait judicial review UU No 10 Tahun 2008 tentang Pemilu dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi yang saat itu diketuai Mahfud MD. Penetapan caleg berdasarkan suara terbanyak dan bukan lagi berdasarkan nomor urut merupakan legacy Cak Sholeh.

Namanya juga populer di media sosial sebagai pengusung jargon No Viral No Justice yang secara terbuka mengeritik keras kepemimpinan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menurutnya melempem.

Kabar meninggalnya Cak Sholeh bagi Moh Trijanto sangat mengejutkan sekaligus menyisakan luka yang dalam. Baginya M Sholeh adalah sahabat sejati yang telah membersamainya pada masa kritis 1998.

Cak Sholeh juga yang telah memintanya mendirikan Revolutionary Law Firm demi membela kaum lemah dan tertindas. Moh Trijanto merupakan aktivis anti korupsi Blitar Raya yang saat ini berprofesi advokat.

“Cak Sholeh sahabat sejati yang membersamai saya sejak masa-masa paling berdarah dalam gerakan mahasiswa dan reformasi 98,” tutur Trijanto.

Selamat jalan Cak Sholeh

Penulis: Solichan Arif

Google News Lihat Berita Bacaini.id di Google News
Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: Cak SholehM Sholehmeninggal duniano viral no justicePRDsidoarjosmid
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

M Sholeh atau Cak Sholeh aktivis 1998 dan advokat

Cak Sholeh Meninggal, Aktivis 1998 yang Dikenal dengan Jargon No Viral No Justice

Logo Bank Central Asia. Foto: freepik

Teka-Teki Hilangnya Dana Nasabah BCA Senilai Rp2,58 Miliar

Masyarakat adat Indonesia masih menghadapi tantangan pengakuan wilayah adat

Hari Masyarakat Adat Sedunia 2026: Sejarah, Makna, dan Kondisi di Indonesia

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In