Poin Penting:
- Masyarakat Blitar masih menjaga tradisi Suro melalui ritual kolektif yang sarat makna spiritual dan budaya
- Baritan, Kenduri Encek, Larung Sesaji, dan Jamasan Pusaka menjadi tradisi yang paling dikenal
- Selain ritual massal, sebagian keluarga juga menjalani laku sederhana seperti doa bersama dan ziarah makam
Bacaini.ID, BLITAR – Bulan Suro atau Muharram dalam kalender hijriah bagi sebagian masyarakat Kota dan Kabupaten Blitar Jawa Timur diyakini sebagai bulan yang istimewa sekaligus sakral. Berbagai tradisi yang diterjemahkan sebagai upaya nguri-nguri (melestarikan) budaya digelar di mana-mana.
BACA JUGA: Pantangan Bulan Suro dalam Tradisi Masyarakat Jawa Timur
Tradisi atau ritual yang digelar tersebut hampir selalu melibatkan massa dalam jumlah besar dari berbagai lapisan sosial, dengan beberapa di antaranya bahkan menjadi agenda rutin pemerintah daerah setempat. Berikut beberapa tradisi Suro yang masih dikenal masyarakat Blitar:
Baritan, Tradisi Slametan Kampung yang Identik dengan Suro
Ini salah satu tradisi Suro yang paling identik di masyarakat Blitar. Warga berkumpul di perempatan atau sepanjang gang menjelang malam, membawa takir (wadah makanan dari daun pisang), lalu berdoa bersama untuk keselamatan, ketenteraman, dan menolak bala. Setelah doa, makanan biasanya ditukar atau dimakan bersama.
Kenduri Encek dan Simbol Harapan Tahun Baru Jawa
Tradisi ini ditemukan di beberapa wilayah Kota Blitar. Makanan disusun di atas encek (wadah dari pelepah pisang), lengkap dengan unsur simbolik seperti janur dan ingkung. Maknanya adalah harapan akan keberkahan, keselamatan, dan kehidupan yang lebih baik di tahun baru Jawa. Biasanya juga disertai kirab dan gunungan hasil bumi.
BACA JUGA: Tradisi Perguruan Silat Jawa Timur di Bulan Suro: Pengesahan Warga Baru hingga Konsolidasi
Larung Sesaji di Pesisir Selatan Blitar
Di kawasan pantai selatan Blitar, terutama saat 1 Suro, masyarakat menggelar larung sesaji ke laut. Sesaji berupa tumpeng dan ubo rampe dilarung sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan permohonan keselamatan. Tradisi ini juga menjadi agenda budaya tahunan daerah.
Jamasan Pusaka, Merawat Warisan dan Refleksi Diri
Sejumlah komunitas dan penjaga tradisi di Blitar melakukan pembersihan benda pusaka seperti keris dan tombak menjelang atau saat Suro. Maknanya bukan sekadar membersihkan benda, tetapi merawat warisan budaya dan melakukan perenungan diri.
Takir Plontang atau Selamatan Suro Masih Bertahan
Merupakan variasi dari tradisi baritan yang masih dilakukan di beberapa lingkungan warga. Takir dibawa untuk didoakan bersama sebagai ungkapan syukur dan harapan memasuki tahun baru Jawa.
Ritual Suro di Lereng Kelud dan Cerita Lembu Suro
Sebagian masyarakat sekitar Kelud di wilayah Blitar masih mengenal doa bersama dan sesaji yang dikaitkan dengan penghormatan terhadap alam serta cerita rakyat setempat, termasuk legenda Lembu Suro dan Mahesa Suro.
Pada bulan Suro juga banyak keluarga di Blitar yang menjalani laku sederhana seperti mengurangi hiburan malam, ziarah makam, atau mengadakan doa keluarga bersama.
Penulis: Solichan Arif
BACA JUGA: 935 Personel Polres Trenggalek Disiagakan Selama Bulan Suro 2026, Cegah Gesekan Pesilat dan artikel lainnya di Rubrik PLURAL




