• Login
  • Register
Bacaini.id
Thursday, January 15, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Tanjung Tanah, Manuskrip Melayu Tertua Ditemukan di Sumatera

Artefak bersejarah ini menjadi bukti kuat akar budaya Melayu

ditulis oleh Editor
27 December 2025 10:58
Durasi baca: 4 menit
manuskrip tanjung tanah sumatera

Manuskrip Tanjung Tanah Sumatera kunci sejarah kebudayaan Melayu (foto/ist)

Bacaini.ID, KEDIRI — Naskah Tanjung Tanah merupakan manuskrip Melayu tertua di dunia hingga kini, yang ditemukan di Kerinci, Sumatera. Artefak bersejarah ini menjadi bukti kuat akar budaya Melayu.

Bukan hanya menjadi simbol penting dalam sejarah intelektual dan budaya Melayu. Naskah Tanjung Tanah Sumatera membuktikan asal-usul Bahasa Melayu yang sebelumnya menjadi perdebatan panjang.

Baca Juga: Resep Rendang dan Cerita yang Tak Banyak Diketahui

Perdebatan mengenai Bahasa Melayu berlangsung dengan Malaysia mengklaim Bahasa Melayu dari wilayah mereka dan menganggap Bahasa Indonesia hanyalah salah satu varian atau dialek dari Bahasa Melayu.

Naskah Tanjung Tanah menjadi bukti tertulis sejarah penggunaan Bahasa Melayu yang telah ada sejak 700 tahun silam, yang memengaruhi identitas bahasa di Asia Tenggara. 

Sejarah Penemuan Naskah Tanjung Tanah

Naskah Tanjung Tanah pertama kali didokumentasikan pada April 1941 oleh sarjana Belanda, P. Voorhoeve, selama ekspedisi di Dusun Tanjung Tanah, Kerinci, Jambi, Sumatera, Indonesia.

Saat itu, Voorhoeve menyaksikan prosesi seremonial di mana sebuah manuskrip kuno yang ditulis di atas daluang, kulit kayu, dibawa dengan penuh penghormatan ritual.

Baca Juga: Teladan MH Thamrin, Golongan Kanan yang Dekat Rakyat Jelata

Naskah yang berisi kode hukum atau kitab undang-undang itu awalnya dianggap sebagai warisan budaya masyarakat Kerinci yang mengikat masyarakat dengan adat dan tatanan sosial.

Puluhan tahun kemudian, pada sekitar tahun 2002, peneliti Uli Kozok melakukan uji karbon yang mengonfirmasi bahwa naskah ini ditulis pada abad ke-14, sekitar 700 tahun lalu.

Temuan ini menjadikan Naskah Tanjung Tanah sebagai manuskrip Melayu tertua yang diketahui hingga saat ini, lebih tua dari surat-surat dari Ternate tahun 1521-1522.

Naskah Tanjung Tanah ditulis dalam aksara Sumatera Kuno pra-Islam, dengan kolofon Sanskrit yang dikeluarkan oleh istana kerajaan Dharmasraya, dikenal juga sebagai Kerajaan Malayu, untuk memberikan tanah di Kerinci (Bumi Kurinci) beserta kode hukum.

Bagi masyarakat Kerinci, naskah ini bukan sekadar pusaka warisan, melainkan sumber otoritas supranatural yang menegakkan hukum adat dan menjaga ketertiban sosial.

Ia juga menjadi simbol kekuasaan spiritual yang mengikat komunitas. 

Naskah Tanjung Tanah dalam Sejarah Bahasa Melayu

Naskah Tanjung Tanah memberikan bukti konkret bahwa tradisi sastra tertulis dalam bahasa Melayu sudah ada sebelum pengaruh Islam yang kuat di Asia Tenggara.

Sebagai kode hukum (Nitisarasamuccaya), naskah ini berisi daftar denda dan aturan hukum yang mencerminkan tatanan masyarakat Melayu awal.

Baca Juga: Rambut Gondrong Jadi Ciri Khas Lelaki Nusantara, Kolonial yang Beri Stigma Negatif

Penemuan ini memperkuat peran Kerinci sebagai pusat penting dalam sejarah intelektual dan budaya dunia Melayu, menunjukkan bahwa bahasa Melayu memiliki akar kuat di Sumatra, Indonesia.

Menurut sejarah bahasa Melayu, bahasa ini berkembang dari bahasa Melayu Kuno yang digunakan di kerajaan-kerajaan seperti Srivijaya dan Dharmasraya di Sumatra.

Menurut penelitian, naskah ini juga menunjukkan kesamaan dengan manuskrip Jawa Kuno, mengindikasikan pertukaran budaya di Nusantara.

Naskah Tanjung Tanah bukan hanya artefak sejarah, namun juga menjadi kunci untuk memahami evolusi bahasa Melayu dari masa pra-Islam hingga modern.

Mengenai perdebatan asal-usul Bahasa Melayu, beberapa pihak di Malaysia berpendapat bahwa keduanya pada dasarnya sama, dengan perbedaan hanya pada nama dan pengaruh kolonial.

Bahasa Melayu Malaysia berbasis Melayu Tinggi (High Malay), sedangkan bahasa Indonesia lebih dekat dengan Melayu Pasar (Trade Malay) dari Riau, Indonesia.

Namun, Naskah Tanjung Tanah menantang klaim ini dengan menunjukkan bahwa akar bahasa Melayu justru berada di Indonesia, khususnya Sumatra.

Manuskrip yang berasal dari Kerajaan Malayu di Dharmasraya, membuktikan bahwa bahasa Melayu telah berkembang sebagai bahasa tertulis di wilayah yang kini menjadi bagian Indonesia sejak abad ke-14.

Ini memperkuat argumen bahwa bahasa Indonesia bukan sekadar ‘pinjaman’ dari Melayu Malaysia, melainkan evolusi independen dari akar bersama yang berpusat di Nusantara.

Naskah Tanjung Tanah menjadi warisan bersama yang melintasi batas negara.

Warisan Bahasa Melayu yang Perlu Dijaga

Naskah Tanjung Tanah bukan hanya manuskrip Melayu tertua, namun juga pengingat akan kekayaan budaya Indonesia dalam sejarah bahasa Melayu.

Artefak ini menggarisbawahi bahwa akar bahasa ini berada di Sumatra, menjadikannya warisan bersama bagi Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan termasuk Filipina, Thailand yang memiliki suku Melayu.

Menjaga warisan bersama agar tetap terjaga, menjadi lebih penting daripada berdebat panjang mengenai asal-usul budaya yang justru mengaburkan sejarah. 

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: naskah tanjung tanah
Via: manuskrip
Tags: bacaini.idmanuskripnaskah tanjung tanah sumaterasejarah melayu
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ratusan warga Desa Wonodadi Blitar menolak pembangunan gedung KDMP di lapangan desa

Warga Wonodadi Blitar Protes Lokasi Gedung KDMP, Dinas: Kurang Sosialisasi

Tips Atasi Rasa Canggung Bersama Keluarga Pasangan Saat Liburan Bareng

Long Weekend Isra Mikraj, Saatnya Healing dan Quality Time

Ilustrasi Calon Jemaah Haji Trenggalek yang belum melunasi BIPIH 2026

36 CJH Trenggalek Tak Lunasi BIPIH 2026, Kuota Haji Tak Terserap Maksimal

mount paltry
Tekno & Sains

Mount Paltry Gunung Terkecil di Dunia Sukses Kecoh Netizen Internasional

Bacaini.ID, KEDIRI – Mount Paltry diklaim sebagai gunung terkecil di dunia. Lantaran tingginya hanya 7 cm, informasi beserta visual itu...

Baca ini..

Napi Lapas Blitar Diduga Dianiaya Hingga Koma

Kebanyakan Kuliner di Blitar yang Ramai Karena Murah, Bukan Enak, Itu Tak Diragukan

Lapas Blitar Blak-blakan Soal Penganiayaan Napi yang Berujung Kematian

Paradigma Realisme dalam Hubungan Internasional

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist